#Kai – Nolde’s Or No

Standard

-o-

Ini sudah sangat lama sekali sejak jemarinya menggengam ringan palet dan kuas. Wajahnya kosong dan itu berarti sangat baik karena dia selalu seperti itu setiap kali berhadapan dengan kanvas dan muse yang kuat. Satu hal yang menarik, ini bukan sembarang muse. Sebut saja ini yang pertama kali dalam hidupnya memiliki muse seorang manusia. Biasanya muse-nya hanya sekadar pohon tua yang miring yang seakan melindungi anak kelinci hutan di bawahnya, atau mungkin muse-nya adalah perasaan sedih temannya datang menangis membawa tisu dan satu dekapan junk food di pelukan. Atau bisa saja hanya cuaca dingin di pertengan musim dingin, dimana biasanya orang tidak mau berurusan dengan apa pun yang terjadi di luar rumah.

Kali ini muse yang benar-benar berbeda. Sensasinya juga sangat luar biasa karena ini juga kali pertama setelah sekian lama untuk kembali melukis. Hari ini adalah harinya untuk kembali menjadi seorang pelukis, sebutan yang membuatnya bergidik ngeri. Seaneh apa pun kedengarannya.

“Kau tidak sedang akan menelanku dengan tatapanmu ya, kan?” ujar sang muse memastikan. Wajahnya tidak cukup terlihat karena paparan cahaya melesak masuk dari jendela yang terbuka lebar di belakangnya. Tapi sungguh, sang pelukis bersyukur jika dia tidak perlu melihat wajah itu. Bukan karena muse-nya sangat jelek, dan seakan dia hendak menghasilkan sebuah penderitaan sebagai makna karyanya. Ini justru sebaliknya, wajah itu sangat, sangat, rupawan.

Hingga mungkin penderitaan bukan kata yang sepenuhnya salah untuk digunakan.

“Asal kau tahu, aku selalu memakan semua muse-ku…” bisik sang pelukis tenang. Tangannya tidak bergeming dan dia masih menatap siluet di hadapannya dengan seksama. Seakan dia benar-benar akan memakan seseorang.

Sang muse tertawa renyah. Mungkin sedikit kedengaran jengkel, tapi juga sedikit terhibur.

“Apa ini thriller?” ujar sang muse, sesaat dia terdengar seperti benar-benar khawatir. “Ayolah, paling tidak bilang padaku itu tadi tidak dimaksudkan secara harfiah.”

Lalu dia tertawa lagi.

“Kau tahu, kalau ada yang seseorang yang memakan lawan bicaranya disini,” sang muse mengangkat tangannya dengan gaya, “maka orang itu adalah aku.”

Bahkan pelukis itu tidak menyadari bagaimana pipinya memerah setelah itu. Kalau pun iya dia mengetahuinya, tentu dia akan bertanya bagaimana bisa kalimat bodoh yang terlalu seduktif dan norak seperti itu bisa membuatnya memerah.

“Kau lebih baik diam…” bisik sang pelukis.

“Uh? Apa muse tidak punya hak untuk bicara?”

“Kau bahkan tidak punya hak untuk bernafas tanpa seijinku, kau seonggok muse.”

Sang muse menurunkan tangannya – masih dengan gaya – lalu mengangkat bahunya heran. “Kau lupa menambahkan ‘yang sangat mempesona yang membuatku ingin melukis lagi setelah sekian lama’, sayang.”

Sayang?

Apa pun itu, dia jelas muse yang kurang ajar.

Karena tidak mendapatkan reaksi memuaskan, selain gerakan kecil alis sang pelukis yang mengesankan, sang muse melanjutkan bicaranya. “Lagi pula, kau sendiri yang bilang kau akan membuatku terlihat seperti ‘Lake Lucerne’ milik Nolde–“

“Aku menarik perkataanku. Itu terlalu berlebihan.”

“–karena kau sendiri yang bilang aku punya sensasi yang sama.”

Sang pelukis mendengus. “Pertama, itu bukan sensasi, itu aura atau semacamnya. Kedua, apa kau baru saja bilang kau merasa bangga karena aku menyamaimu dengan lukisan danau?

“Yah… tapi bukan sekadar danau ya, kan? Itu adalah karya seni. Kau yang jelaskan, kau yang ahli di sini,” ujar sang muse.

Mereka diam untuk sesaat karena tidak ada yang berucap setelah sedetik berikutnya. Tidak ada suara bahkan goresan kuas yang beradu. Dalam sesaat itulah sang muse bahkan mengira dirinya tidak terlalu menginspirasi hingga lukisan itu tak kunjung dimulai.

Lalu dia mencoba berinisiatif mengusulkan. “Kau mau aku membuka kausku?” ujarnya menawari.

Usulan itu membuat sang pelukis berdecak kesal dan hampir melempar kuasnya ke sudut ruangan. “Kau sudah gila?” keluhnya.

“Lalu kenapa kau belum memulai?” tanya sang muse, menantang.

Bibir sang pelukis terbuka untuk kemudian menutup dan menutup matanya lelah.

“Aku hanya ingin kau tahu satu hal, ini adalah pertama kalinya aku melukis setelah sekian lama. Kau adalah muse pertamaku setelah sekian lama. Dan kau juga satu-satunya yang berupa manusia… yang hidup setidaknya.”

“Jadi kau benar-benar memakan sisanya?” bisik muse serius.

“Tidak, bodoh. Bisakah kau diam? Aku mencoba menjelaskan satu hal yang penting di sini.”

Itu jelas lebih dari satu hal sebenarnya. Tapi sang muse memutuskan untuk tidak menyuarakan protesnya kali ini.

“Saat aku bilang kau mirip Lake Lucerne… itu adalah perumpamaan. Yang artinya kau lebih dari itu, setidaknya bagiku. Butuh lebih banyak keberanian dan inspirasi dan beberapa alasan bagiku untuk kembali melukis, karena aku sendiri selalu tidak suka ide dimana aku dipanggil sebagai sekadar pelukis. Aku ingin lebih, aku butuh muse yang lebih. Sesuatu yang hidup dan yang bisa tersenyum untukku. Mungkin menawan atau sangat menawan pun tidak masalah, asal kau bisa sangat menginspirasi.”

Sang muse tersenyum, diam-diam bersyukur untuk memilih diam, karena kalau tidak mana mungkin dia bisa mendengar luapan perasaan mendadak seperti ini?

“Dan lebih dari itu, aku ingin kau tahu, kau lebih dari karya Nolde. Sesungguhnya aku bahkan baru melihat lukisan cat air itu pagi ini. Tapi yang jelas kutahu, kau lebih dari itu, Jongin…”

Sang muse menyukai bagaimana namanya disebut. Tapi dia jauh lebih menyukai apa yang kemudian dia dengar selanjutnya.

“Kau lebih dari sebuah karya seni. Kau adalah pria pertama yang kucintai, uh, secara manusiawi.”

Jongin, sang muse, menganggap kalimat terakhir itu adalah kalimat teraneh di dunia, yang bisa membuatnya tersenyum lebar karena terlalu gembira.

Dan letupan di dadanya dan senyuman tanpa sadar itu, semuanya, selalu mebuatnya bertanya sendiri,

kenapa bisa begitu?

-o-

A/N : THIS IS WEIRDDDD I KNOWWWW~~~~~~~~~~~~~~

inspired by these pics below from twitter @kpopasart , walau kadang tweets mereka agak maksa dan gak ada nyambungnya… tapi aku jadi kenal emil nolde ;’)

IMG_20150628_232313

 IMG_20150628_232318

Advertisements

2 thoughts on “#Kai – Nolde’s Or No

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s