#Chanwoo – Meets Poseidon

Standard

tumblr_nelqu2mXd41tlyzbro1_500

Meets Poseidon

ChanwooxYou//fluff//3.622 wds

Ketika kau melihatnya.

Kau seakan melepas rindu tak terdugamu pada seorang teman yang sudah sangat lama tidak kautemui

Banyak anak di sekolah menganggapmu aneh. Kau suka berkhayal dan melantur tidak jelas. Kau pernah berdiri tiba-tiba di tengah pelajaran dan menunjuk ke arah langit-langit. Kau bilang di sana ada sebuah laba-laba besar memakai sepatu.

Itu terjadi saat kau masih berada di taman kanak-kanak.

Lalu kau pernah meracau dan menggeram karena kau mengira dirimu semacam manusia setengah kucing yang biasa kau lihat di televisi.

Itu masih saat kau berada di taman kanak-kanak.

Sekarang, saat kau memasuki tahun pertamamu di sekolah menengah, kau lebih sering berdiam dan membayangkan salah satu hidung teman sekelasmu tumbuh jamur hanya karena kau memikirkannya. Tapi, kau tidak lagi meracau dan menunjuk ke langit-langit di tengah pelajaran. Kau punya beberapa teman dekat dan mereka tidak menganggapmu sebagai anak aneh penuh imajinasi. Hanya karena kau sekarag ini kau berusaha menahan diri untuk tidak lagi menjadi anak aneh.

Kau kira semuanya baik-baik saja semenjak kau memutuskan untuk menjadi seperti yang lain, yang tidak mengerang dan menunjuk langit-langit dengan histeris di tngah pelajaran.

Hingga tiba-tiba hari itu, kau bertemu dengan seorang teman. Rasanya semua seperti kembali padamu.

Semuanya di mulai hari itu, saat Jung Chanwoo menunggumu di balik gerbang sekolah. Alih-alih menyandarkan punggungnya ke dinding dan tersenyum dengan keren ke arahmu seperti yang dilakukan anak laki-laki di film-film, kau justru mendapatinya berjongkok dan meniup kedua tangan yang ditangkupkan di depan wajahnya.

Kau tidak menyalahkan dirimu saat hampir saja berjalan melewatinya. Siapa pun bahkan akan dengan refleks memukul kepala Jung Chanwoo saat anak laki-laki itu berdiri tiba-tiba dan mencoba menghalangi jalanmu.

Dia bahkan tidak tersenyum keren saat memanggil namamu hari itu.

“Kim Hanwol.” Jung Chanwoo menatapmu dengan matanya yang melebar seperti terkejut. Kau sendiri terheran siapa yang sebenarnya berdiri dengan mengagetkan, karena Jung Chanwoo terlihat jauh lebih terkejut saat melihatmu ketimbang kau ketika melihatnya.

“Oh,” bisikmu. Kau tanpa sadar melangkah mundur sekali, dan Jung Chanwoo panik melihatnya.

“Ah, Maaf. Aku… aku Jung Chanwoo.”

Kau menatapnya dengan mulut terbuka. Kalau saja ada orang lain di depan gerbang sekolah selain kalian berdua, mereka akan pasti akan mengira kau dan Jung Chanwoo adalah pasangan idiot menatap satu sama lain dengan mata melebar dan mulut terbuka.

Huh, siapa yang tidak terkejut? Jung Chanwoo mengenalkan dirinya padamu padahal sudah jelas kalian adalah teman sekelas sejak dua bulan yang lalu. Kau sudah tahu namanya, untuk apa dia mengenalkan dirinya lagi?

“Aku sudah tahu namamu,” Kau berpikir sejenak untuk menambahkan. “Eum… Chanwoo-ya”

Sebenarnya walaupun kalian teman sekelas, kau dan Jung Chanwoo tidak pernah mengobrol lebih dari sebatas halo dan hai. Atau sebatas masalah sekolah, yang itu sendiri pun bisa kau hitung kurang dari sebelah tanganmu. Chanwoo adalah tipikal teman sekelasmu yang terkadang ketika dia tidak berangkat sekolah, kau sama sekali tidak akan menyadarinya. Chanwoo mungkin tertawa,  berteriak dan bercanda dengan teman-temannya. Tapi dia melakukannya di sisi lain kelas. Kau sesekali melihatnya, tapi kau tidak pernah sedekat itu dengannya untuk berpikir kalau dia bisa menyapamu sepulang sekolah seperti ini.

“Aku…” Chanwoo menggaruk kepalanya sebelum mengangkatnya kembalinya untuk menatapmu. “Aku akan pulang,” ujarnya.

Oke, kau tidak bisa lebih heran dari pada ini.

“Oh. Aku juga,” ujarmu memberitahu.

Kau memiringkan kepalamu dan melihat ke belakang Chanwoo. Entahlah, kau hanya mengira ada seorang Jung Chanwoo asli di belakang sana, memegang remote control* dan menggerakan robot Jung Chanwoo yang berada di depanmu saat ini.

Kecuali Jung Chanwoo yang ada di depanmu adalah hasil kloning yang tidak memerlukan remote control.

Atau bahkan alien.

Atau Vampire, atau werewolf. Atau seorang penyihir. Atau keturunan Poseidon yang berteman dengan keturunan Athena dan memiliki penjaga seorang pria berkaki kambing, karena wow, berarti yang di depanmu ini bukan Jung Chanwoo tapi Percy Jackson!

“Mau pulang bersama?”

Dan Percy Jackson ini mengajakmu pulang bersama! Tunggu. Apa?

“Pulang?” kau menatap anak laki-laki di depanmu dengan sangat heran. Kau tidak yakin harus menjawab apa. Mendengar kata ‘pulang’ mengingatkanmu pada seseorang.

“Kakakku…” kau menoleh ke belakang. Kau terbiasa pulang dengan kakakmu, ibumu yang memintanya karena saat kau masih kecil kau selalu tidak pernah sampai ke rumah selepas sekolah. Kau dulu selalu berdalih seorang kurcaci menuntunmu ke taman bermain dan seorang peri mengajarimu memakan bunga-bunga. Itu konyol, menurut kakakmu, jadi dia setuju mengantarmu pulang sejak itu. Hingga kau sudah sebesar ini dan tidak lagi membayangkan peri dan kurcaci. Kakakmu tetap menemanimu.

Tapi kau tidak yakin dia bisa menemanimu hari ini.

“Dia memintaku untuk mengantarmu pulang,” ujar Chanwoo lirih. Saat kau menoleh kembali kearahnya, tanpa sadar kau mengangkat jari telunjukmu ke depan hidungnya. Kau masih bisa melihat mata besar anak laki-laki itu. Kau tidak tahu, kau kira keturunan Poseidon punya mata dengan warna biru. Tapi yang ini sepertinya tidak.

“Ayo, pulang.” Ajak Chanwoo sekali lagi. Kau tidak tahu, tiba-tiba saja tangan Jung Chanwoo meraih tanganmu yang teracung ke depan mukanya. Lalu dengan hati-hati menarikmu pergi.

Hari itu adalah hari pertama kau pulang dengan keturunan Poseidon.

Dan kau sempat mengira itu hanya akan terjadi sekali seumur hidupmu.

.

.

.

There are no people who is like you

 

 

 

Keesokan harinya, kau mendapati Chanwoo berjongkok menunggumu di tempat yang sama. Kau tidak terkejut lagi saat mendapati anak laki-laki itu berdiri tiba-tiba di hadapanmu. Tapi, kau masih terkejut melihatnya disana lagi untuk menunggumu. Saat pertama kali mengantarmu pulang, Chanwoo tidak bicara apa pun dan melepas tanganmu saat kau berhasil menyamakan langkah kakinya. Kalian berjalan bersisian hingga persimpangan di dekat rumahmu. Chanwoo menepuk pundakmu lalu menganggukan kepalanya sekali sebelum akhirnya berbalik pergi.

Sama sekali tidak mengatakan apa pun.

Hal yang sama terjadi keesokan harinya. Kau membiarkannya menemanimu lagi. Dan Chanwoo tidak menarik tanganmu, tapi membiarkanmu berjalan selangkah lebih dulu.

Di persimpangan dia akan menepuk pundakmu dan berbalik pergi.

Di rumah kau menanyakan hal ini pada kakakmu. Dan kakakmu hanya bilang dia senang tidak perlu mengantarmu pulang lagi. Akhir-akhir ini, kakakmu terlalu sibuk karena dia adalah siwa kelas tiga. Kakakmu tidak punya banyak waktu untuk mengantar pulang, sekarang dia bisa langsung mengikuti beberapa pelajaran tambahan sepulang sekolah.

Di kelas kau mencoba menoleh lebih sering kearah Chanwoo, dan anak laki-laki itu akan menyadari kalau kau tengah menatapnya tak lama kemudian. Lalu dia tersenyum malu dan mengangguk. Saat dia melakukannya dia hampir tidak bisa menatap matamu.

Tapi, kalian masih tidak pernah bicara di kelas. Tidak ada yang berubah kecuali ketika kau menoleh kearahnya dan Chanwoo menangkap tatapanmu.

Tapi, kau ini seorang anak perempuan, duh. Kau mulai merasa malu harus selalu ketahuan menoleh kearahnya diam-diam setiap waktu. Kau tidak pernah mendapati Chanwoo menatapmu lebih dulu. Dan kau layak malu karena itu.

Jadi, kau tidak menoleh kearahnya lagi. Dan tidak juga bertanya alasan dia selalu menunggu setiap pulang sekolah.

Saat bel pulang berbunyi, dan guru kalian mengucapkan salam di depan kelas. Kau bersikeras tidak menoleh kearah Jung Chanwoo. Kau selalu bertanya-tanya apakah dia menatapmu saat itu. Karena kalian bisa berjalan pulang dari kelas kalau mau.

Tapi lagi-lagi kau terlalu malu untuk mengajaknya. Ada teman-teman kelasmu yang lain yang berhambur keluar kelas. Dan sulit bagimu melihat kapan Chanwoo keluar dari kelas. Anak itu duduk di dekat pintu, jadi dia memang keluar lebih dulu. Kau yakin itu.

Tapi kau tidak tahu kenapa dia selalu menunggumu di depan gerbang alih-alih menunggu mengepak barangmu dan berjalan keluar bersama.

Mungkin Chanwoo sama malunya denganmu. Sebenarnya Chanwoo adalah anak yang pemalu di kelas. Dia jarang berteriak seperti anak laki-laki kebanyakan, walau dia juga bermain bola kertas dengan anak-anak laki lain di dalam kelas, dan membuat keributan dengan teman-temannya.

Tapi selain keributan itu, Chanwoo tidak terlalu ribut seperti anak laki-laki lain di kelasmu. Dan ini membuatmu semakin heran dengan Chanwoo. Ada apa dengan anak itu sebenarnya?

Kau mungkin malu, tapi rasa penasaranmu mengalahkan semuanya. Kau memutuskan bertanya hari ini. Sepulang sekolah.

Saat kau melihat sosok Chanwoo berjongkok di pintu gerbang, kau tanpa sadar menggenggam erat ujung seragammu. Kau merasa seperti akan menghadapi anak laki-laki yang menantangmu berkelahi sepulang sekolah. Padahal saat kau berjalan mendekati Chanwoo, anak itu berdiri dan menatapmu dengan mata lebarnya, membuatmu berpikir kaulah yang akan memukulnya hari ini.

“Hai,” sapamu. Dan Chanwoo mengedipkan matanya dua kali.

Kau tidak pernah menyapanya. Selama ini kalian akan saling mengangguk dan kau membiarkan Chanwoo mengantarmu pulang dengan berjalan di belakangmu beberapa langkah.

Tapi, tidak hari ini. Kau sudah memutuskan.

“Kita pulang bersama?” tanyamu. Chanwoo menatapmu dan kau baru menyadari anak laki-laki itu cukup tinggi dan kau perlu mendongak untuk berbicara dengannya. Kau masih belum yakin dia keturunan Poseidon atau bukan, tapi setiap anak laki-laki, walaupun bukan keturuan dewa Yunani, pasti selalu lebih tinggi. Jadi kau berusaha untuk tidak mempermasalahkannya.

“Maaf, Hanwol-ah. Hari ini aku tidak bisa mengantarmu,” ujar Chanwoo hati-hati. Dan kau tanpa sadar mengernyit kearahnya, membuat Chanwoo menelan ludahnya dengan susah payah.

“Uh, kau benar-benar mirip kakakmu.”

Hei, kau bisa mendengar itu! Kau mengangkat alismu dan mengernyit sekali lagi.

“Tunggu. Kau takut dengan kakakku?” Kali ini kau mengangkat telunjukmu ke depan hidungnya. Chanwoo melangkahkan satu kakinya ke belakang.

“Kau mengantarku pulang karena kakakku memintamu?”

Tentu saja! Chanwoo mengatakannya saat dia pertama kali mengantarmu beberapa hari yang lalu.

“Tidak. Aku… Dengar Ibuku memintaku pulang lebih awal hari ini. Aku harus berjalan memutar kalau aku mengantarmu dan aku bisa terlambat. Aku…”

Tunggu, memutar? Rumah Chanwoo tidak searah denganmu? Oh, tentu saja. Chanwoo selalu berbalik ketika kau sudah sampai persimpangan. Rumahnya tidak searah denganmu.

“Aku berjanji akan membantu merayakan hari ulangtahun Ayahku, dia baru pulang dari Jeju dan..”

“Ayahmu?” Kau membelalakan matamu kaget. Ayah Chanwoo? Kau hampir tertawa karena lagi-lagi berpikiran sesuatu yang aneh. Ayah Chanwoo bukan Poseidon, tentu saja.

“Ah.” Kau mengangguk mengerti. Chanwoo mengawasi responmu dan tiba-tiba saj melempar tatapannya ke arah lain. Dia terlimat malu dan memutuskan untuk berhenti menjelaskan.

Kalian berdua hanya berdiri di sana. Tidak ada yang bergerak, karena kau menunggu Chanwoo meninggalkanmu dan bodohnya, Chanwoo pun sepertinya juga menunggumu bergerak pergi. Kau jadi berpikir apa kau harus berjalan lebih dulu?

“Aku mau pulang. Sampai bertemu besok kalau begitu,” ujarmu. Tanganmu yang hingga kini masih teracung di depan hidungnya kini kau lambaikan kearah Chanwoo. Kau seakan mengajarinya mengucapkan sampai jumpa dengan benar. Alih-alih menepuk bahu sekali dan mengangguk dan berbalik pergi begitu saja. Seperti yang selalu dilakukan Chanwoo.

Kau hendak berjalan melewatinya saat kau mendengar Chanwoo memanggilmu sekali lagi.

“Kim Hanwol.”

Kau menoleh kearahnya. Mengangkat kedua alismu, bagaimana pun kau terkejut dengan caranya memanggilmu tiba-tiba. Jung Chanwoo sepertinya menangkap ekspresi wajahmu itu.

“Aku mengantarmu bukan hanya karena kakakmu memintaku.” Ujarnya, tiba-tiba menjelaskan. Untuk sepersekian detik, kau berpikir wajah Chanwoo terlihat seperti merasa bersalah.

“Oh ya?” kau mengernyit dan memberi tatapan curiga yang dibuat-buat, kau tidak sadar kalau hal itu membuat Jung Chanwoo semakin merasa tidak nyaman untuk kembali melanjutkan.

“Aku akan menceritakan alasanku kenapa aku mengantarmu pulang,” Chanwoo menghela nafasnya. “Tunggu aku besok.”

Dengan itu, Chanwoo memutar badannya dan berlari pergi.

.

.

.

You, who were my focus now vanished into memories

I tried so hard to stand in front of you again

.

.

Sudah sangat lama sejak kau membiarkan imajinasimu mengalihkan seluruh isi pikiranmu. Sejak Jung Chanwoo membuat kebiasaan untuk mengantarmu hampir setiap hari, kau tanpa sadar lebih suka melamun. Kau mengabaikan pekerjaan rumahmu, yang mana hampir tidak pernah kau lakukan sejak kau menjadi orang dewasa, sejak kau adalah siswa sekolah menengah dan bukan seorang gadis kecil yang melihat hal-hal yang tidak dilihat anak lain.

Kakakmu selalu mengatakannya padamu untuk berhenti bersikap seperti anak kecil. Untuk segera  beranjak dewasa. Melakukan semuanya seperti yang seharusnya. Walau kau mencibir  saat kakakmu mengatakan itu, kau lebih dari tahu kalau kau sebenarnya percaya pada perkataan kakakmu. Bahwa kau sudah dewasa dan orang dewasa tidak berimajinasi.

Kau memang tidak berkhayal sejak saat itu. Kau menjadi dewasa dan bukan Kim Hanwol kecil yang berteriak di tengah pelajaran.

Di luar dugaan kau mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran etiket yang mana mengharuskanmu  duduk tenang dan menahan keinginan untuk berbicara yang tidak perlu selama pelajaran – yang kemudian berubah menjadi selama sisa hidupmu.

Kau telah mengalami masa-masa berat itu. Kau menahan nafasmu kalau tiba-tiba kau kembali membayangkan seorang penyihir cantik tengah mencoba mengutuk salah satu teman sekelasmu dari ujung ruangan. Kau berbicara secara ilmiah dan bahkan membaca dengan sebuah kacamata. Hanya karena kau adalah orang dewasa.

Kau merasa kau adalah seorang pejuang dalam medan peperangan. Setelah sebelumnya kau adalah gelandangan yang berteriak di tengah kerumunan orang di kelasmu, tapi sekarang pangkatmu adalah Panglima yang belum pernah terkalahkan.

Tapi, semua itu berubah. Kau merasa kau ditebas sebilah pedang tepat di dadamu. Kau tersungkur dan kalah. Dan kau tidak menyangka kalau yang mengalahkanmu adalah seorang putra Poseidon.

Jung Chanwoo.

Anak laki-laki itu menarikmu kembali dari lingkar etiket dan kedewasaan yang selama ini selalu berhasil kau pertahankan. Kau sendiri sulit memercayainya.

Hari itu, kau adalah orang yang menunggu Jung Chanwoo di depan gerbang sekolah. Chanwoo tidak terlihat sejak pelajaran  terakhir, dan seperti biasa kalian tidak berbicara dengan satu sama lain sepanjang pelajaran sebelumnya.

Kau menahan diri tidak menoleh ke tempat duduk Jung Chanwoo saat kau tahu jelas kalian duduk di satu ruang yang sama. Begitu dekat, tapi terlalu jauh. Tapi, kau pikir kau menahan diri dengan baik. Walau sudah jelas tidak bisa lebih lama lagi.

Tepat ketika kau melihat sosok kaku Jung Chanwoo berjalan keluar gedung sekolah, kau meloncat dari posisi jongkokmu dan melambaikan tanganmu antusias kearahnya. Kau menyadari Jung Chanwoo terlihat super malu karena anak-anak lain menangkap siapa orang yang kau maksudkan. Beberapa anak berbisik terang-terangan, menyebutkan kalimat-kalimat seperti ‘apa Kim Hanwol punya pacar’ atau ‘apa kakaknya tahu’ atau yang paling membuatmu sebal adalah ‘ini artinya kita sudah boleh memacari kakaknya sekarang?’. Kau melempar tatapan terganggu untuk yang terakhir itu.

Saat Chanwoo sampai di depan gerbang dan menatap malu kearahmu sekilas, kau memberikan senyuman lebarmu yang meyakinkan. Tapi, Jung Chanwoo hanya menepuk bahumu dan berjalan melewatimu. Kau merasa bingung sampai Chanwoo membisikan sesuatu saat melewati bahumu.

“Ikut aku,” ujarnya.

.

,

,

.

Kau menekuk lututmu dan berkali-kali menatap sekelilingmu untuk memastikan kalian berada di tempat yang tepat. Maksudmu, setelah berjalan jauh, kau sama sekali tidak menyangka Jung Chanwoo akan membawamu ke sebuah lapangan sepak bola.  Beberapa anak bermain di salah satu sudut, terlihat tidak berminat untuk menggunakan seluruh lapangan. Selebihnya kau hanya melihat rumput kering dan Jung Chanwoo yang duduk di sampingmu.

Kalian tidak berbicara satu sama lain, dan kau mulai merasa mulai bosan. Kau tidak ingin meminta Jung Chanwoo memulai bercerita karena anak laki-laki itu terlihat belum ingin berbicara. Kau sudah membuatnya malu, kau sadar itu, saat di sekolah. Dan kau tidak yakin apa kau boleh mengganggu ketenangannya lagi.

Mungkin karena kau bosan, kau mulai membayangkan bagaimana jadinya jika Jung Chanwoo adalah benar putra poseidon. Duh, kalau benar, seharusnya Chanwoo membawamu ke laut atau apa. Mungkin Jung Chanwoo bukan putra Poseidon. Mungkin dia Peter Pan. Lalu kau mulai membayangkan Jung Chanwoo dengan rambut pirang  berantakan dan baju hijau. Dan kau hampir menyemburkan tawa saat membayangkannya.

Saat itulah Jung Chanwoo menyenggol lenganmu dengan bahunya.

“Hanwol-ah, kau tidak sedang membayangkan aku memakai baju Peter Pan, kan?”

Kau menoleh cepat ketika kau mendengarnya. Matamu melebar dan tanganmu, lagi-lagi, teracung tanpa sadar ke depan hidung Jung Chanwoo.

“Oh? Bagaimana kau tahu?” serumu kaget. Kau tidak berbohong, kau benar-benar kaget. Selama hampir 18 tahun kau hidup, tak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang ada dalam pikiranmu. Mereka tidak akan menyangka seliar apa pikiran seorang siswa dengan nilai etiket sempurna, seorang gadis normal yang kelihatannya hanya tahu rumus matematika atau nama-nama idola di televisi.

Karena kau lebih dari itu.

“Kim Hanwol, kau tidak menganggapku sebagai penyihir, kan?” tanya Chanwoo lagi. Matanya menatapmu curiga, tapi kau bisa melihat keseriusan yang berbeda.

Jung Chanwoo tidak bercanda dengan pertanyaannya.

“Kau pernah menganggapku seorang robot, kan? Atau alien? Atau manusia serigala? Atau vampir? Atau..”

“Anak Poseidon.” Kali ini kau dan Chanwoo yang membisikannya. Kalau ada orang lain mendengar betapa seriusnya kalian membicarakan anak Poseidon dan alien dan manusia serigala, maka kalian berdua sudah pasti dikirimkan ke rumah sakit jiwa.

“Bagaimana kau tahu? Apa kau benar-benar anak Poseidon?” tanyamu, kau serius bertanya begitu dan kau senang Jung Chanwoo terlihat sama seriusnya denganmu.

“Bagaimana denganmu? Apa kau keturunan Athena?” tanya Chanwoo. Kau hampir tertawa mendengar bagaiman Chanwoo berbicara. Dia terdengar seperti seseorang yang kau kenal, dan kalau dipikir lagi orang yang kau kenal itu adalah kau sendiri. Kau sadar kalau Jung Chanwoo baru saja terdengar seantusias dirimu.

Seorang Jung Chanwoo yang pendiam. Terdengar antusias berbicara. Dan yang paling hebat adalah apa yang Jung Chanwoo bicarakan adalah seorang dewi mitologi Yunani yang dia anggap adalah nenek moyangmu.

“Bagaimana kau punya pikiran seperti itu?” bisikmu pelan. Sangat pelan seakan kau tidak ingin membagi pembicaraan dengan orang lain selain Jung Chanwoo. Tapi, kau melakukan ini bukan karena kau malu, tapi karena kau serius. Setelah sekian lama kau merasa kau boleh mengatakan semua isi pikiranmu sekarang.

“Aku memikirkannya. Aku pikir kau seperti dewi Yunani dan kukira kau adalah keturunan Athena. Setelah sebelumnya kupikir kau ada Tinker Bell. Atau mungkin seorang vampir. Aku tidak tahu, pikiran seperti itu selalu muncul begitu saja,” Chanwoo berbisik sama pelannya denganmu. Bahkan mungkin lebih antusias.

“Aku juga memikirkan banyak hal. Seperti hidung Hoon Sungtae yang besar terlihat seperti kepik cokelat yang sewaktu-waktu bisa terbang pergi. Atau tumpukan sapu di sudut kelas, sepertinya bisa menari sendiri dan terbang keluar jendela untuk mencari penyihir yang ingin menaikinya. Atau guru Lee adalah seorang alien. Dia selalu bersin di depan kelas karena suhu bumi lebih dingin dari planet asalnya. Dan pikiran-pikiran lainnya.” Jung Chanwoo menatapmu, menilik bagaimana reaksimu mendengar ceritanya. Tapi, kau yakin ekspresi sangat memuaskan karena Chanwoo tersenyum lebar melihatnya. Kau tidak menatapnya aneh, kau terlihat sangat – sangat – gembira.

Kau seperti melepas rindu tak terdugamu pada seorang teman yang sudah sangat lama tidak kau temui. Walau paa saat yang sama gadis dengan nilai paling tinggi dalam pelajaran etiket, seorang panglima dalam perang, seorang yang dewasa, semuanya yang ada dalam dirimu, tiba-tiba jatuh terkalahkan hanya dengan cerita Jung Chanwoo. Dan senyum bahagianya.

Kaurasa Chanwoo merasakan hal yang sama. Karena setelah melihatmu, Chanwoo memutuskan menceritakan hal yang tak pernah kauduga bisa kaudengar dari orang lain.

“Ini mungkin konyol. Aku… aku memang seperti ini.”

Kau mengangguk dan siap mendengarkan. Chanwoo mengangkat tangannya dan menggaruk bagian belakang lehernya.

“Saat aku kecil aku sangat suka berimajinasi. Aku pernah melempar mainan teman-temanku saat aku masih kecil. Aku kira aku bisa menerbangkannya seperti yang dilakukan Spiderman.”

Dan saat kau masih kecil, kau pun berpikir ada seekor laba-laba besar di langit-langit kelasmu.

“Aku sungguh-sungguh dengan apa yang kulakukan saat itu.”

Dan kau pun sungguh-sungguh melihat laba-laba itu.

“Tapi, semua berpikiran berbeda. Mereka memintaku untuk berhenti. Aku tahu mereka khawatir denganku. Mereka adalah orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku.”

Aku juga tahu kakakku sangat menyayangiku dan merasa khawatir jadi dia memintaku untuk berhenti.

“Jadi aku menuruti mereka,” bisik Chanwoo. Kau tersenyum melihatnya, dan tanpa sadar mengangguk perlahan. Kau ingin meraih bahu anak laki-laki di sampinmu itu dan membisikan bahwa hal yang sama terjadi padamu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku memiliki pengalaman yang sama denganmu?” tanyamu pada Jung Chanwoo. Tatapan anak laki-laki itu merendah dan kau melihat  tangannya memainkan rumput ke sela-sela jarinya.

“Aku menebaknya. Kau terlihat pintar dan bersikap seperti yang lain. Tapi, terkadang aku melihatmu menatap ke papan tulis dan tidak bergeming, seakan sesuatu akan meloncat dari coretan yang ditulis disana. Aku juga melihatmu menggambar di tengah pelajaran, aku pernah melihat hampir seluruh sisi halaman bukumu bergambar manusia kambing yang membawa panah, laba-laba besar, kastil dengan menara dan coretanmu yang lain. Aku hanya tidak sengaja tahu.” Chanwoo mengangkat kepalanya, tapi dia tidak melihat kearahmu. Chanwoo melempar tatapan ke arah anak-anak yang bermain bola di sudut lapangan. Tapi, entah kenapa kau lebih dari tahu kalau Chanwoo tidak hanya melihat anak-anak itu.

“Lihat anak-anak itu, mereka seperti smurf. Yang paling besar itu adalah Papa Smurf. Tapi anak perempuan yang menjadi kiper itu lebih mirip medusa. Rambutnya seperti ular.” Kau menoleh kearah anak-anak yang dimaksud Chanwoo.

“Tapi, dia medusa yang baik. Kau lihat. Dia membiarkan anak yang lebih muda dari tim lawan mencetak gol tanpa mencoba menghalanginya. Mungkin dia medusa yang dimantrai menjadi baik. Anak yang besar itu, dia adalah Merlin atau Gandalf atau Dumbledore, dia yang memantrai medusa.” Kali ini kau yang bercerita. Kau mendengar Chanwoo tertawa di sampingmu.

“Kau boleh juga,” puji Chanwoo. Dan kau merasakan pipimu memanas. Saat itulah, Chanwoo meluruskan kakinya dan beranjak berdiri. Lalu dengan tersenyum anak laki-laki itu mengangsurkan tangannya kearahmu.

“Ayo, pulang. Kakakmu pasti mencarimu.”

.

.

In our memories, you’ve been waiting for me.

You are standing in front of me

Sudah sangat lama sejak kau membiarkan imajinasimu mengalihkan seluruh isi pikiranmu. Sejak Jung Chanwoo membuat kebiasaan untuk mengantarmu hampir setiap hari, kau tanpa sadar lebih suka melamun. Kau mengabaikan pekerjaan rumahmu, yang mana hampir tidak pernah kau lakukan sejak kau menjadi orang dewasa, sejak kau adalah siswa sekolah menengah dan bukan seorang gadis kecil yang melihat hal-hal yang tidak dilihat anak lain.

Kakakmu selalu mengatakannya padamu untuk berhenti bersikap seperti anak kecil. Untuk segera  beranjak dewasa. Melakukan semuanya seperti yang seharusnya. Walau kau mencibir  saat kakakmu mengatakan itu, kau lebih dari tahu kalau kau sebenarnya percaya pada perkataan kakakmu. Bahwa kau sudah dewasa dan orang dewasa tidak berimajinasi. Dan kau berusaha untuk menghentikan pikiran konyolmu.

Kau merasa kau adalah seorang pejuang dalam medan peperangan untuk itu. Dan pangkatmu selama ini adalah Panglima yang belum pernah terkalahkan.

Tapi, semua itu berubah. Kau merasa kau ditebas sebilah pedang tepat di dadamu. Kau tersungkur dan kalah.

Dan kau tidak menyangka kalau yang mengalahkanmu adalah seorang putra Poseidon.

Jung Chanwoo.

Anak laki-laki itu menarikmu kembali dari lingkar etiket dan kedewasaan yang selama ini selalu berhasil kau pertahankan. Kau sendiri sulit memercayainya.

 “Kau tahu Chanwoo-ya,” kau berseru dan menoleh riang kearah Chanwoo. Anak itu mengawasimu seakan memintamu melanjutkan. Kalian dalam perjalanan pulang dan sudah hampir sampai di rumahmu.

“Mungkin, aku mendapatkan nilai etiket sempurna untuk berhasil duduk diam tanpa mengucapkan hal-hal yang tidak perlu. Dan kau menjadi siswa paling pendiam dan penurut di kelas. Semuanya karena kita berhenti melakukannya,” ujarmu pelan-pelan.

“Kita mungkin berhasil untuk berhenti. Tapi, aku selalu bertanya diam-diam kapan aku bisa mengatakan apa yang kupikirkan sendiri, bukan apa yang ingin didengar orang lain. Aku selalu bertanya, kapan tepatnya aku bisa bertemu dengan diriku sendiri yang sudah lama tidak kujumpai. Aku merasa kehilangan diriku sendiri. Apa bodoh untuk merindukan bagaimana bebasnya saat aku masih kecil dulu dan mengatakan pikiranku tanpa berpura-pura?”

Jung Chanwoo menggeleng. Kau membuka mulutmu namun kau sadar kalian sudah sampai di persimpangan tempat Chanwoo seharusnya berbalik pergi.

“Sampai jumpa.” Ujarmu. Lalu kau menepuk bahu anak laki-laki itu. “Poseidon..”

“Senang bertemu denganmu, Chanwoo-ya. Mulai sekarang berjanjilah untuk mengatakan apa yang kaupikirkan, apa yang ingin kau katakan. Karena aku sendiri terlalu rindu dengan apa yang sudah lama pergi dariku,”

Long time no see

I also missed you alot too

I was lost on the way to you

Now, I am not going anywhere, dont worry

 

 

A/N     : pertanyaanya.. siapa yang bisa nebak kakak laki-lakinya hanwol?

10995158_337629893104930_2061717402_n

i am suppose to be hanwol aighht?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s