#Tao – Lagu Yang Belum Kau Dengar

Standard

 Tao || Family, AU || PG 13

oOo

Suara desis air hujan yang beradu dengan atap mobil mengantarkan Tao untuk terbangun dari tidurnya. Saat Tao mencoba membuka matanya sepersekian mili, dilihatnya cahaya lampu jalan yang terganggu dengan bayangan wiper yang bergerak menghapus titik-titik hujan di kaca mobil.

Biasanya saat Tao terbangun, dia akan mengerang dan meregangkan otot kakinya. Tapi kemudian Tao sadar dia tidaklah berada di kasurnya yang empuk dan lebar. Jangankan meregangkan kakinya, Tao bahkan tidak merasakan kaki-kakinya yang entah berapa lama tertekuk selama perjalanan.

Tao hanya menggerakan lehernya, hingga dia bisa melihat kakak perempuannya tertidur bersandar di kaca jendela. Dan ibunya yang sepertinya juga tertidur di jok belakang, karena Tao tidak bisa mendengarnya berbicara atau berkomentar tentang jalanan yang licin karena hujan. Akhir-akhir ini ibu Tao memang lebih sering khawatir. Mungkin karena kehamilannya, ibu Tao merasa harus lebih berhati-hati.

Tapi karena semuanya kelelahan dan tertidur, suasananya menjadi terlalu hening bagi Tao. Hingga tiba-tiba saja Tao melihat ada yang tengah memutar saluran radio di dashboard depan mobil mereka. Tao menyadari itu adalah tangan sang kakek yang duduk di samping ayah Tao yang mengemudi.

Tao bisa mendengar suara gemerisik radio menyapa telinganya, seakan mencoba beradu dengan suara hujan. Lalu Tao melihat bagaimana tangan keriput kakeknya kembali ke pangkuan seakan menyerah memilih saluran radio di cuaca buruk seperti ini.

Tao baru akan berkomentar agar kakeknya lebih baik mematikan radionya saja kalau yang bisa didengar hanyalah suara gemerisik, ketika sang kakek tiba-tiba berbicara dengan suaranya yang parau.

“Kau tahu, aku suka lagu ini.”

Tao berkedip sekali mendengarnya. Lagu ini? Tao bahkan tidak bisa mendengar apa-apa selain suara gemerisik.

Tao melirik ke arah Ayahnya yang terlihat fokus mengemudi. Tao tidak dapat melihat wajahnya. Tapi, bisa dibayangkan wajah sayu sang Ayah yang kelelahan membawa mobil selama tujuh jam perjalanan.

Ya, hari ini keluarga Tao menjemput sang kakek yang sendirian di Laoshan untuk tinggal bersama di Qingdao.

Perjalanan yang jauh. Dan sang Ayah harus mengemudi pulang pergi dalam satu hari.

Ayah Tao jelas sangat lelah, hingga membutuhkan waktu yang lama baginya untuk menjawab. Tapi ketika jawaban itu keluar dari mulut sang ayah, Tao benar-benar tidak mengiranya.

“Ya, ayah. Lagu yang bagus.”

Tao merasa keheranan, tapi memutuskan tidak mengatakan apa pun.

“Ini bukan lagu bagus. Ini lagu yang jelek,” ujar kakek Tao tertawa lirih. Tao bisa melihat bahu sang kakek terguncang karena jalanan yang terjal. Lalu dengan terbatuk sang kakek mencoba melanjutkan perkataannya.

“Lagu ini sangat ribut dan terasa diulangi setiap harinya. Aku bisa sangat membencinya kalau aku mau.”

Ayah Tao berdeham, tapi sama sekali tidak berkomentar.

“Terkadang lagu itu bisa sangat menggangguku dan aku sering mengeluh betapa menyebalkannya hidupku karenanya. Tapi ibumu suka lagu itu, jadi aku bisa apa?”

Tao benar-benar tidak mengerti. Lagu apa yang dimaksud sang kakek saat radio mobil mereka hanya mengeluarkan suara gemerisik yang tidak jelas, dan selain suara itu, yang ada hanyalah suara hujan di atas mereka. Tao yakin suara hujan dan gemerisik radio bukanlah sebuah lagu.

“Aku menciptakan lagu itu bersama ibumu. Kami menyusunnya bertahun-tahun. Walau lagu itu adalah lagu yang sama yang kudengar setiap hari, lagu itu seperti berkembang dan tumbuh setiap harinya. Sangat ajaib,” ujar kakek Tao. Tao bisa membayangkan kakeknya tengah memejamkan matanya seakan-akan melihat sesuatu yang tidak semua orang di dunia pernah merasakannya.

Tapi tiba-tiba kakak perempuan Tao bergerak sedikit dari tidurnya, walau tidak benar-benar bangun. Meski begitu kakek Tao menghentikan obrolannya sejenak untuk menoleh ke belakang, dan saat itulah Tao buru-buru memejamkan matanya. Entah mengapa, Tao merasa perlu berpura-pura untuk terlelap. Atau kalau tidak sang kakek tidak akan melanjutkan ceritanya.

Tao menunggu barang beberapa menit sebelum kembali membuka matanya, sang kakek sudah berbalik melihat ke depan. Lalu kakek Tao melanjutkan ceritanya.

“Ibumu adalah wanita yang ajaib. Bisa menciptakan lagu itu. Aku sempat berpikir ketika dia pergi pada hari itu, di hari kematiannya, maka dia akan membawa lagu itu dengannya. Dan aku tidak akan mendengarkan lagu yang sama itu lagi setiap harinya. Tapi kurasa lagu lebih ajaib dan mengalahkan pikiranku.” Kakek Tao terkekeh. Suaranya yang parau dan lemah hampir tertelan suara hujan yang semakin deras di luar sana.

Hingga Tao mendengar suara desahan ayahnya yang terdengar jelas dan keras.

“Lagu itu pun mengalahkan semua akal sehatku, ayah. Lagu itu memang ajaib,” ujar Ayah Tao.

Mendengar itu sang kakek tertawa, kali ini dengan lebih keras.

“Aku senang kau bisa mendengarnya…”

Lalu mereka tidak berbicara untuk beberapa lama. Tao hanya bisa diam dan menunggu salah satu dari mereka melanjutkan obrolan. Tao bahkan tidak lagi bertanya-tanya lagu yang mana yang kakek dan ayahnya bicarakan. Tao hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan lagu itu.

Jadi Tao menunggu untuk mendengarkan, tapi sang kakek maupun ayahnya tidak melanjutkan.

Hingga ayah Tao tiba-tiba bertanya.

“Ayah. Apa ayah masih membenci lagu itu?”

Tidak ada jawaban. Tao menunggu dan begitu pula ayahnya. Tapi untuk beberapa lama, masih tidak ada jawaban.

Tao bisa bilang kalau ayahnya mendadak kesal karenanya. Tiba-tiba mobil mereka berhenti. Mengeluarkan decitan keras dan Tao bahkan terhentak ke depan. Tao tidak pura-pura tidur lagi dan mendongak menatap ayahnya. Hanya untuk melihat sang ayah membuka pintu mobil dan berjalan keluar.

Tao terbelalak kaget, mulutnya terbuka tidak percaya.

Baru dirinya akan memanggil ayahnya saat pintu mobil di samping Tao mengayun terbuka. Memperlihatkan sang ayah yang kuyup dengan wajahnya yang kelelahan.

“Keluar,” perintah sang ayah. Tao terkejut dan sedang akan mengelak ketika sebuah benda metalik kecil terlempar ke pangkuannya.

Sebuah kunci mobil.

“Kemudikan mobilnya. Kau tahu jalan pulang dari sini. Aku ingin beristirahat,” ujar sang ayah. Ayahnya mungkin terdengar marah tapi wajahnya sayu dan lebih terlihat seperti bosan.

Mau tidak mau Tao melangkah keluar dan membiarkan ayahnya masuk. Lalu dengan bergegas Tao membuka pintu depan dan duduk di kursi pengemudi.

Tao melirik sekilas ke arah kakeknya, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah kakeknya hanya dengan bantuan lampu jalan.

Tao lalu menyalakan mobilnya dan mobil pun berjalan kembali.

Dengan perasaan masih bingung, Tao sesekali melirik ayahnya yang tertidur kursinya lalu ke arah kakeknya.

Tao mendesah. Samar-samar suara gemerisik radio masih terdengar dan hujan maish belum reda.

Untuk beberapa lama sang kakek tidak berkata apa pun, dan Tao mengasumsikan kalau kaeknya pun tertidur.

Hingga suara parau itu lagi-lagi terdengar.

“Kau tahu, Mingtao?”

Telinga Tao seakan berdiri, dengan cepat ditolehkan kepalanya ke arah sang kakek. Mingtao adalah nama lengkap ayah Tao. Kenyataan bahwa kakeknya tidak mengetahui bahwa dia tidak lagi berbicara dengan ayahnya entah mengapa membuat Tao merasa sedikit bersalah.

Tao baru akan memberitahu kakeknya bahwa beliau tengah berbicara dengannya bukan ayahnya, ketika sang kakek tiba-tiba saja tertawa.

Kini suara hujan dan gemerisik radio itu tidak bisa mengalahkan suara tawanya yang benar-benar terdengar gembira. Tao bahkan tersenyum mendengarnya.

“Kau tahu? Oh kau tahu? Aku merindukan lagu itu. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku sangat menyukainya. Bahkan jika lagu itu masih lagu ribut yang sama…

Aku masih sangat menyukainya.”

Tao menutup pintu mobil dengan keras dan menjatuhkan tubuhnya di tumpukan kantong belanja di jok belakang. Wajah anak laki-laki itu terlihat kusam. Lingkar matanya semakin terlihat gelap karena tidurnya yang tidak lebih dari dua jam. Dari sisi kirinya, Tao bisa mendengar kakak perempuannya mengomel sambil menenteng dua kantong belanja di pelukannya.

“Kau tahu Tao? Kau benar-benar tidak berguna,” desis sang kakak yang mejatuhkan kantong belanjanya tepat di pangkuan Tao yang sudah bersiap untuk kembali tidur.

“Kau sebut dirimu pria? Setidaknya bawa sendiri keperluanmu!”

“Aku tidak berbelanja, oke?” seru Tao sebal. Kepalanya sedikit diangkat untuk menatap wajah marah kakak perempuannya yang memanjat naik ke jok paling belakang. Jelas sekali menolak duduk di jok tengah bersama adik kecilnya.

“Oh kau bisa tidak dapat makan malammu kalau begitu!”

Tao tidak menjawab. Dengan kesal memasang sepasang headset di telinganya dan pura-pura mendengarkan lagu. Tapi sang kakak lebih dari tahu kalau adiknya itu melupakan ponselnya di kamar. Tao terburu-buru karena terlambat bangun untuk perjalanan pagi ini. Dia hampir melupakan semua barang bawaannya.

Sedangkan Ayah Tao menyempatkan diri merokok di jeda perjalanan mereka, karena sang Ibu bersikeras ayah Tao tidak boleh merokok di dekat si kecil Yin.

Ya, Yin adalah adik kecil Tao yang lahir sebelas bulan yang lalu.

Sedikit lebih awal dari perkiraan kelahiran. Benar-benar di luar dugaan.

“Kita berangkat,” seru Ayah Tao tiba-tiba. Tepat dengan sang ibu yang memasuki mobil dengan si kecil Yin di pelukannya.

Dengan sekali ayunan keras pintu mobil tertutup. Terlalu keras untuk Tao yang sedang berusaha tidur, dan terlalu menakutkan untuk si kecil Yin yang langsung menangis keras ketika mendengarnya.

“Ayah! Apa yang ayah lakukan!” seru kakak perempuan Tao histeris. Ibu Tao menggelang dan membiarkan putri tertua mereka memarahi ayahnya yang membuat si kecil Yin menangis. Sedangkan Tao mengerang frustasi di tempat duduknya, tapi tidak bisa untuk tidak menahan tawa saat melihat wajah ayahnya yang lucu dengan terlihat panik dan meminta maaf berkali-kali.

Begitulah hari itu mereka melakukan perjalanan lagi. Ke Laoshan lagi untuk menyebar abu sang kakek yang meninggal dua hari yang lalu.

end.

p.s : udah gitu aja. Apaan sih ini aarghhhhhhh lack-editing .___. cuman mau bilang silent problem sudah selesai tapi belum di pos, karena kenapa ya.. belum mau aja XD

p.s.s : ah aku tahu Tao itu anak tunggal (iya kan?) tapi aku kepingin nulis Tao.

Iya. gitu aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s