Berbalik

Standard

3208463

 

berbalik. balikan. baliklah.

 

Ibuku sering mengatakannya dulu. Saat aku masih belum bisa merasakan malu memakai kaos oblong dan sebatas celana pendek untuk pergi bermain keluar. Beliau bilang, seorang anak perempuan sudah sepantasnya memiliki rasa malu dan memakai pakaian sopan kalau ingin keluar rumah.

Karena perintah-perintah ibu, aku tidak pernah keluar tanpa rok dan baju berlengan panjang.

Sedikit merepotkan, tetapi lama-kelamaan aku mendapati diriku justru merasa kaku ketika bercermin dengan memakai sebatas kaos oblong. Tidak pantas, pikirku. Tanpa sadar aku terlanjur merasa nyaman memakai rok dan berjalan anggun.

Ibu sering memujiku cantik, bahkan saat aku bangun di pagi hari dengan rambut berantakan. Tidak terlintas dalam pikiranku saat itu bahwa semua pujiannya tulus atau tidak. Semua ibu di seluruh dunia pasti selalu memuji anaknya, aku sendiri heran apa aku bisa memuji anakku kalau punya satu nanti.

Maksudku, bagaimana kalau anakku tidak cantik? Aku tidak bisa berbohong. Menurutku memuji demi kebaikan sama sekali bukan hal yang bisa kulakukan.

Ibuku sering bercerita padaku dulu, saat aku menaruh lenganku di atas meja, lalu makan dengan terburu-buru. Ibu bercerita seorang gadis yang tersedak saat sedang makan tidak akan mendapatkan suami.

Apa peduliku? Pikirku saat itu. Tidak banyak yang bisa aku harapkan dalam hal mendapatkan seorang yang tertarik padaku.

Tetapi, ibu bersikeras mengajarkanku tata krama di meja makan. Menggeleng kepalanya saat aku menaruh lengan tanganku di meja dan segera memintaku untuk menurunkannya. Terkadang ibu memintaku mengatur letak piring dan sendok dan garpu. Tidak lupa untuk membantunya menyediakan segelas susu di pagi hari. Ibu selalu mengingatkanku untuk minum susunya hanya di awal dan di akhir setelah aku selesai makan.

Aku pernah mendengar orang mengatakan bahwa perintah ibumu setiap harinya di minggu ini adalah kebiasaanmu di minggu depan.

Aku setuju pada siapa saja yang mengatakan itu. Setidaknya kebiasaanku sendiri membuktikannya.

Aku hanya tidak yakin bisa mengajarkan kebiasaan itu pada anakku nantinya.

Maksudku, tidak setiap orang mau mendengarkan perintah ibunya seperti yang aku lakukan. Siapa yang bisa menjamin anakku kelak mau mendengarkan perintah-perintah yang sama?

Aku punya banyak kekhawatiran untuk itu.

Sampai hari dimana aku bertemu dengan Kavi, seorang anak baru di desa. Dia ramah tetapi tidak berani menyapaku lebih dulu. Aku tidak tahu kenapa. Jadi aku tanyakan padanya.

“Apa kau sudah merasa marah padaku, Kavi? Aku kira kita baru pertama bertemu,” ujarku siang itu. Desaku adalah tempat terpencil di daratan Thailand, aku sendiri tinggal di paling ujung di perbatasan. Saat aku tahu akan memiliki tetangga tak jauh dari rumah kami, aku jelas mengharapkan sambutan yang baik.

“Tidak, Tam. Aku tidak marah padamu.”

Lalu kami berdua sama-sama diam.

“Tam, apakah anak-anak lain mau berbicara padamu?” tanya Kavi tiba-tiba. Aku mengernyit, rasanya ada yang menusukku saat anak baru ini bertanya. Apa maksudnya? Apa aku tidak pantas diajak berbicara?

“Mungkin, karena aku mau menyapa lebih dulu. Tidak seperti kau. Kenapa kau tidak menyapaku seperti yang kaulakukan pada anak-anak lain?” tanyaku. Sengaja kuputar posisi kami. Sekarang aku yang menyudutkannya.

Sesuai dugaanku Kavi tidak menjawab. Dia justru mengangsurkan tangan kurusnya ke dekat perutku. Kupikir dia hendak memukul, ternyata dia mengajakku berjabat tangan.

“Aku Kavi,” katanya. “Senang bisa menyapamu, Tam.”

Tidak seperti ibuku yang harus terus menerus menanamkan perintah kepadaku hingga akhirnya menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kavi hanya melakukannya sekali, dia hanya menyapaku sekali dan tersenyum padaku sekali. Tetapi sejak saat itu aku tidak bisa jika tidak melihatnya.

Aku pikir aku jatuh hati. Pada orang baru yaitu Kavi.

___

Aku dan Kavi selalu pergi bersama. Kami berlari di dekat hutan dan memancing di sungai. Lalu mengobrol sambil mengawasi gajah-gajah yang berjalan malas kembali ke hutan. Kadang aku mendapati diriku memilin ujung rokku dan merasa kaku saat kami selesai membahas satu masalah. Aku menjadi sangat pemalu di saat-saat tertentu di samping Kavi. Tetapi, tak jarang kami bercerita panjang lebar tentang apa saja dengan leluasa. Kavi adalah anak laki-laki yang baik, dia terkadang menyuruhku berhenti berbicara sebentar dengan mengangsurkan sebotol air padaku.

“Kau bicara terlalu cepat dan bersemangat,” ujarnya. Aku tersenyum dan mengambil botol air yang ditawarkannya. Tidak sadar menghabiskan sampai separuh isinya. Kavi tertawa dan wajahku memerah. Sepertinya aku lupa kebiasaan bersikap sopan yang diajarkan ibuku. Untuk tidak meminum habis dari botol air orang lain.

Apalagi itu milik Kavi, orang yang membuatku jatuh hati.

_______

Walau aku merasa sangat bahagia akhir-akhir ini karena Kavi. Tetapi, ibuku bersikap lain. Ibu terlihat sangat kacau, sering marah dan membanting barang-barang di dekatnya. Beliau tidak marah padaku dan tidak banyak memberitahuku apa yang membuatnya uring-uringan. Di malam hari, ibu menangis dan menggigil ketakutan. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai hari itu tiba.

Aku berseru marah pada ibuku. Aku tidak terlalu ingat bagian mana membuatku merasa kesal, yang jelas pagi itu sangat kacau. Seorang dokter dari kota mengetuk pintu rumah kami dan menjelaskan sesuatu padaku. Aku tidak yakin. Setelahnya aku membentak ibuku dengan sangat keras. Aku mengatakan padanya aku tidak bisa terus mengikuti perintahnya.

Lalu aku berlari ke rumah Kavi.

Hari itu aku menangis di rumah Kavi. Walau anak laki-laki itu tidak bicara banyak dan bahkan tidak menghiburku. Dia mendengarkanku menceritakan apa yang dikatakan dokter pagi itu.

Sesuai dugaanku, Kavi tidak berkomentar. Begitu pun aku tidak meminta Kavi melakukannya. Kavi adalah yang terbaik, dia tahu sejak dulu aku akan bercerita hal terpenting dalam hidupku padanya. Sebaliknya, aku adalah yang terbaik untuk Kavi. Aku tahu saat aku menceritakan hal terpenting dalam hidupku padanya, itu berarti aku telah melepas Kavi dan membiarkan dirinya menjadi sebatas sahabat yang aku percaya. Tidak lebih.

Sampai sore harinya aku masih berada di rumah Kavi. Tidak saling bicara. Tidak juga merasa nyaman. Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Kavi. Saat sahabatku itu beranjak untuk melihat siapa yang datang, aku merasa seakan tahu apa yang akan terjadi.

“Ibumu meninggal,” kata Kavi. Aku tidak kunjung menjawab dan bahkan tidak menangis, Kavi mengangsurkan tangannya kearahku.

“Tidak apa-apa, Tam. Kau masih sahabatku.”

Lalu Kavi mengantarku pulang hari itu.

_______

Aku dan Kavi adalah sahabat. Walau aku memakai rok, bersikap sopan saat makan, dan terlihat sangat cantik. Kami hanya sahabat.

Kavi adalah anak laki-laki yang terhebat yang pernah kukenal, dan biar kuberitahu pada kalian bahwa Kavi adalah anak laki-laki teraneh yang pernah kalian tahu. Setidaknya dengarkan ceritaku sampai akhir.

Aku menepuk-nepuk celana panjang hitam yang kupakai. Sedikit kotor karena remah roti yang kumakan pagi ini jatuh di atasnya. Setelah kurasa cukup, aku mengangguk pada Kavi yang langsung membiarkan masuk lebih dulu ke ruang administrasi. Hari ini Kavi menemaniku mengurus kematian ibu ke dinas kependudukan. Karena hanya ada aku satu-satunya orang yang ditinggal ibuku pergi, jadi aku harus mengurusnya sendiri.

Kami berdua memasuki sebuah ruangan dan disambut dengan seorang pria berkumis yang terlihat tidak peduli. Pria berkumis itu menerima surat kematian dan mulai menanyakan ini dan itu padaku.

“Siapa nama Anda?”

“Tam. Thammaraja.”

Pria berkumis itu mengangguk tanpa benar-benar menatap kearahku atau Kavi. Lalu dia mulai bertanya lagi.

“Umur?”

“13 tahun November nanti.”

“Jenis kelamin?”

Aku menatap Kavi yang berbalik menatapku. Tersenyum dan menepuk bahuku.

Kavi adalah yang terbaik. Tetapi, lebih dari itu aku merasa ibuku adalah yang terbaik yang pernah aku miliki.

Di hari ibuku meninggal aku seperti membalik selembar kertas yang bertuliskan kebiasan-kebiasan yang ibu ajarkan padaku. Aku bertekad menggantinya dengan yang baru. Aku adalah aku, tidak peduli bagaimana ibu menanamkan semua kebiasaannya padaku.

“Jenis kelamin?”

Aku menatap pria berkumis di depanku yang mulai terlihat tidak sabar.

“Pria. Seorang pria,” ujarku.

Aku dan Kavi adalah sahabat. Walau aku memakai rok, bersikap sopan saat makan, dan terlihat sangat cantik. Kami hanya sahabat.

Kavi adalah anak laki-laki yang terhebat yang pernah kukenal. Di hari ibuku meninggal seorang dokter dari rumah sakit jiwa memberitahuku untuk pertama kalinya tentang keadaan ibuku yang mengidap psikosis. Ibuku memiliki keyakinan kalau anak tunggalnya adalah seorang perempuan, mengajari dan mendidiknya sebagaimana perempuan harus dididik. Aku sangat marah pada ibuku. Aku tidak pergi ke sekolah karena hal ini, aku memakai rok karena hal ini, aku adalah wanita karena hal ini. Aku memberitahu Kavi hari itu.

Dan biar kuberitahu pada kalian bahwa Kavi adalah anak laki-laki teraneh yang pernah kalian tahu. Dia mengenaliku sebagai seorang pria hari itu, di hari pertama kali kami bertemu. Tetapi, dia tetap memutuskan untuk menyapaku dan membiarkanku berteman dengannya.

Di hari ibuku meninggal, aku menjadi seorang pria dan terlahir kembali.

Tetapi, bagaimana menurut kalian?

Apa aku masih bisa membesarkan anak-anakku kelak seperti yang dilakukan ibuku?

 

 

 

Thailand,

September 1937.

 

 

 

 

A/N : percaya gak aku pake fic “yaoi” begini untuk tugas sekolah bahasa indonesia XD

P.S : actually i am against gay or bisex. dont judge me.

Advertisements

3 thoughts on “Berbalik

  1. hoho hi. You like it or not, im back hahahha

    Kak, as always ngasih plotwist mulu u.u nangis aja yuk nangis /? Keren kak, pecah di akhir.

    Ini buat tugas? Astagaa, aku mana berani ngasih beginian wkwk. Keep writing ya kak!

    • hai hansyi ^^ aku suka kok kamu kembali lg kesini. untuk komenmu yang pertama dulu maaf ya gak nyapa.

      dah yah inilah plot twist lg ._. beruntung guruku waktu itu gak ngeh kalah salah satu muridnya nulis beginian, sudah keburu naik kelas jd aku gak ketemu gurunya lg :’ hehe

      makasih sdh mau meninggalkan komentar, salam kenal~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s