#Mino Broods’s Songfic – Taking You There

Standard

images (1)

In the dead of night I’ll meet you in my sleep

And in the morning light you’ll wake up next to me

Like a dream come true I’ll take you where I roam

Then follow you back home

Just like i want it to be, but i can’t

 

 

 

 

If i lose my way and forget what I need

 

Bahkan kalau pun Mino tahu seberapa buruk perkataan orang-orang di pelabuhan tentang kapal kebanggannya yang karam, Mino merasa hatinya lebih buruk. Apa pun yang bisa dia lakukan untuk membetulkannya, maka Mino akan melakukannya. Termasuk menarik tangan gadisnya dari laut yang dingin. Tangannya dingin dan rambutnya basah. Gaun kelabu yang kuyup membuatnya terlihat tak nyaman.

Walau hatinya sakit dan segala harga dirinya tercabik. Rasa bersalah seakan melumat seorang Song Mino. Dalam semua tangisan dan jeritan di tengah debur gelombang malam itu membuatnya merasa sangat gagal. Membuatnya merasa malam itu dialah yang paling hancur dan rapuh.

Ketika Mino tak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membalas kesalahannya selain menerjunkan dirinya ke laut yang dingin dan membiarkan dirinya tenggelam bersama kapalnya. Sang kapten justru bertemu dengan gadis yang diperhatikannya sejak mereka masih berada di pelabuhan. Ketika mereka kini berdua dalam kapal darurat, Mino tidak lagi yakin membunuh dirinya adalah tindakan bertanggungjawab seorang kapten. Seorang penumpang kapalnya ada bersamanya disini. Meski Mino tidak tahu apa dirinya masih pantas menjanjikan keselamatan pada gadis itu, atau apa yang bisa dia katakan untuk meminta maaf. Dalam hati sang kapten hanya bertekad membawa gadis itu kembali ke pelabuhan.

Dengan hati-hati, Mino menarik dua bilah kayu dan mengikatnya dengan tali besar yang digapai tangannya dari salah satu sudut kapal. Dalam diam membuat kayu-kayu itu berguna sebagai penyeimbang kapal darurat mereka. Mino tidak mengajak bicara gadis itu.

Mino hanya kelewat segan, kelewat takut dia bakal salah bicara.

Lagipula apa yang bisa dikatakan di tengah malam dengan badai belum reda sepenuhnya? Jika di tengah laut dan kapal yang ada hanya sesempit kamar tidur awak rendahan di kapal besar sang kapten. Kapal besar kapten Song yang kalah diterjang ombak dan karang kurang dari satu jam yang lalu.

Mungkin hal yang terbaik yang bisa dilakukan Mino malam itu hanyalah mengulurkan tangannya pada gadis yang sudah diperhatikannya sejak dari pelabuhan. Gadis yang secara kebetulan adalah satu penumpang kapalnya yang bisa dia temukan di tengah keributan malam itu.

Gadis itu bertumpu pada sesuatu seperti ban di tengah laut. Pucat dan kelelahan. Tapi, sungguh hanya itu yang dilakukan seorang kapten Song pada gadis yang menarik perhatiannya, pada penumpang kapalnya. Hanya mengulurkan tangan dan membiarkan gadis itu duduk diam di tengah kapal darurat. Bukan sekoci, tapi kapal darurat. Dari kayu-kayu dan beberapa tali dan jaring. Lalu Sang Kapten tak bisa menawarkan yang lebih baik dari itu. Bahkan sebuah ucapan maaf dan penyesalan pun tak bisa ia ucapkan.

Mino berusaha menyibukan dirinya dengan jaring-jaring. Menggulungnya dan melempar ke sisi. Sekilas melirik kearah gadis yang masih menggigil dan memeluk lututnya. Kening gadis itu ditumpukan ke salah satu lututnya. Rambutnya yang basah melekat di punggung dan pipinya. Sekilas dia terlihat seperti hantu. Kalau saja Mino tidak ingat dia sendirilah yang menariknya di tengah ombak, Mino pasti akan mengumpat keras dan mulai mengutuki gadis itu hantu laut, siren atau seekor mermaid.

Tapi, gadis itu terlalu cantik saat di pelabuhan, ah bahkan gadis itu masih terlalu cantik saat Mino mendapati mata cokelat gelapnya diantara hamparan warna biru pekat laut di sekeliling. Menghipnotisnya sejak awal Mino mencuri pandang.

Mungkin gadis itu memang peri laut. Atau sesuatu yang lain yang menakjubkan.

Karena kalau pun gadis itu ‘hanyalah’ gadis yang cantik. Maka dia tetap menakjubkan untuk bisa menarik perhatian seorang kapten kapal.

Mino terbatuk sekilas, suaranya yang berat mengingatkan siapa saja dengan suara badai. Terdengar dingin, dan Mino sendiri bisa menggertak bajak laut dengan hanya suaranya. Mino selalu bangga dengan suaranya, namun tidak untuk saat ini. Wajahnya kaku saat melihat gadis di kapalnya itu mengangkat kepala saat mendengar suara batuk sang kapten. Wajahnya terlihat sedih dan masih pucat. Tapi, dia sama sekali tidak terlihat takut. Sama sekali tidak.

Saat itulah  Mino menangkap wajahnya dengan sempurna, bukan dari hasil curi pandangnya, atau dari tengah laut yang gelap. Tapi seperti ini. Di depan Mino, di kapalnya, balik memandangnya dan dengan tatapan penuh. Matanya jauh lebih indah dan bibir itu telihat kecil dan pucat. Dagunya tirus dan sang kapten bisa melihat rahangnya yang lembut, namun terlihat berani. Saat itu Mino sadar mungkin gadis itu lebih muda darinya. Mungkin seumuran adik perempuannya di rumah. Tapi, mata itu, yang gelap dan cokelat, memperlihat kedewasaan gadis itu menyeruak dan keberaniannya menantang sang kapten saat tatapan keduanya bertemu secara langsung.

Sekarang Song Mino merasa tenggorokannya kering dan dia harus terbatuk sekali lagi.

“Hai,” sapa gadis itu.

Alih-alih terbatuk, sang kapten sama sekali tidak bisa bersuara saat si gadis membuka mulutnya. Apa tadi dengan ‘hai’? Apakah ada suara selembut itu?

“Hai, kapten Song.”

Sungguh! Demi tentakel Davy Jones yang terbunuh satu dekade lalu! Song Mino berniat menampar pipinya dan terjun ke laut gelap, toh lautnya ada sedekat ini dibawah kakinya. Song Mino benar-benar mendengarkan suara yang lebih indah dari nyanyian  mermaid atau rayuan siren di karang. Ini lebih indah, nyata dan baik. Dan cantik.

“Hai,” jawab sang kapten. Tidak terbata, tapi hanya itu yang bisa diucapkannya dengan wajah bodoh, mulut terbuka dan mata melebar. Dan jubahnya yang basah dan topinya yang hilang. Song Mino yang tampan, kali ini merasa dirinya adalah monster laut buruk rupa.

“Aku adalah salah satu penumpang kapalmu. Aku Rene.”

Rene. Rene. Rene, Sang Kapten mengulang dalam hati.

Sebenarnya Rene masih menjadi penumpang kapal kapten Song hingga saat ini. Dan lebih dari itu, dia adalah penumpang spesial sang kapten.

“Ya, halo.”

Song Mino menggaruk kulit rambutnya yang benar-benar gatal, mungkin karena air laut. Mungkin karena dia terlalu bingung dengan apa itu yang berdengung di kepalanya. Menyebutkan nama Rene, Rene, Rene terus menerus.

Badainya bahkan sudah reda tanpa Sang Kapten sadari. Mungkin itulah sebabnya Rene terlihat berani mengangkat kepalanya dan bicara. Dan saat itulah Mino tersadar betapa aneh bagi seorang gadis, bertemu dengan seorang kapten kapal yang menolongnya namun tidak mengajaknya bicara sama sekali. Mungkin karena itulah Rene memutuskan menyisihkan ketakutannya dan menyapa penyelamatnya.

Sebagai seorang kapten dan seorang pria dewasa, Mino merasa sangat malu.

Malam ini adalah pertama kalinya mereka berbicara, tapi Mino merasa bodoh karena dia tidak bisa membayangkan pertemuan yang lebih buruk lagi dari ini.

Tidakkah Rene merasa sedih? Mungkin teman-teman, keluarga atau siapa saja yang dia kenal di dalam kapal itu tidak akan lagi bertemu dengannya?

Tidakkah gadis itu marah pada sang kapten? Bagaimana bisa memutuskan berlayar ketika sebuah badai sebesar itu seharusnya bisa diprediksi?

Tersadar atas apa yang telah dia perbuat dengan seluruh penumpang kapalnya malam itu, Sang Kapten memutuskan untuk meminta maaf.

“Maafkan aku. Kapal itu…”

“Tidak apa-apa.” Rene tersenyum, walau sudah jelas dia seperti habis menangis dan sisa kekhawatiran itu ada di sudut-sudut bibirnya yang tidak sepenuhnya terangkat, tapi gadis itu tersenyum.

“Kita baru berlayar tak terlalu lama. Mungkin orang-orang di pelabuhan sudah mengetahui semuanya. Bantuan akan segera datang.”

Mino bisa mendengar gadis itu menggigil di sela kalimatnya, dan senyum sedih di bibirnya. Tapi Rene hanya memeluk lututnya semakin erat.

“Terima kasih karena seseorang meluncurkan tanda dengan cepat. Terima kasih karena dia menjulurkan tangannya padaku, terima kasih karena dia tidak mengajakku bicara karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat pikiranku kacau dan aku hanya bisa menangis sampai badainya mereda.”

Rene mengangkat kepalanya. Rambutnya yang basah tidak mengurangi pujian dalam hati Mino untuk kecantikannya.

“Terima kasih, kapten.”

Mino tersenyum. Mungkin alih-alih menyelamatkan gadisnya, Mino merasa dirinyalah yang diselamatkan malam itu.

Song Mino tidak kebaratan kalau pun dirinya harus tersesat di tengah lautan. Sang kapten telah menemukan penyelamatnya.

Sayup di dengarnya suara gadis itu menyanyikan lagu yang tidak dia mengerti. Dengan perasaan kalut dan berkabung atas kesalahannya malam itu, Sang Kapten menekuk kakinya dan duduk lemas.. Ombak mengayun dirinya dan gadis itu di dalam kapal. Tak berani menyela suara lembut Rene yang menyanyikan lagu yang sesekali dikenalnya sebagai paduan lagu yang sering didengarnya saat masih kecil. Lagu yang menceritakan keberanian seorang kapten yang menyelamatkan penumpang kapalnya yang karam.

Sang Kapten tertidur dengan tenang di atas kapal daruratnya yang sederhana.

Besok ketika matahari membangunkannya dan camar mematuki jaringnya, Sang Kapten akan terbangun di pelabuhan.

 

Gadis itu tak ada lagi di sisinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kapalnya remuk di tengah badai…”

“Padahal mereka baru berlayar tak berapa jauh dari pelabuhan…”

“Ironis sekali, bukan? Kisah kapal sang kapten yang menakjubkan.”

Song Mino menghela nafasnya berat. Diangsurkannya piala keenamnya ke atas meja. Wajahnya datar dan nafasnya memburu. Mendengar cerita-cerita tentang kapalnya yang karam dua hari lalu tidak membuatnya sedih. Mengdengar orang-orang berbisik tentangnya juga tidak membuatny marah.

Malam itu, di malam kapal besarnya yang sering dielu-elukan karam ke laut gelap, semua penumpangnya dikabarkan selamat. Tidak ada korban jiwa.Sebuah keajaiban, setidaknya begitu kata para nelayan saat mereka menemukan penumpang-penumpang kapal besar itu terapung kelelahan namun tak satu pun kehilangan nyawa.

“Semua penumpangnya selamat, bukan?”

“Bukankah itu lebih mencurigakan? Sang kapten jelas dikutuk. Kapal kebanggannya tetap diminta sang penguasa lautan. Terseret ke laut dalam!”

Desis pengunjung bar malam itu tidak membuat Kapten Song Mino berniat untuk murka. Wajahnya pucat, tapi dia sama sekali tidak terpengaruh.

Soal kapalnya? Dia tidak peduli. Dia mungkin sempat memuja kapal besarnya. Membanggakannya. Tapi sekarang dia tak peduli sama sekali.

Soal kutukan? Sang Kapten lebih memilih ungkapan ‘peringatan’ atau ‘hukuman’ untuknya. Bahwa sang kapten yang dulu adalah sosok yang buruk dan telah melupakan penumpangnya.

Demi mutiara langka dari lautan Pasifik, Song Mino bersyukur semua penumpangnya selamat. Tapi entah kenapa dia merasa sesuatu telah direnggut dalam hatinya.

Bukan tentang kapalnya. Tapi, tentang gadisnya.

“Tidak ada, Kapten. Tidak ada gadis seperti yang kau sebutkan dalam daftar penumpang kapal pada malam itu.”

Jawaban mengecewakan awak kapalnya beberapa jam yang lalu telah menyakiti hatinya. Song Mino merasa kehilangan yang besar.

Mungkinkah gadis rupawan itu adalah seekor mermaid benar adanya?

Atau makhluk laut lain?

Dengan perasaan larut, ditangkupkan kedua lengannya di atas meja. Lalu ditenggelamkam wajahnya ke sela tanganya. Hati-hati dibawa pikirannya kembali ke malam itu. Ke malam dimana kapalnya karam. Di malam dimana dia mendengar gadis itu menyanyikan lagu tentang seorang kapten kapal, dan legenda hantu laut yang mengambil hal terpenting dalam hidup seorang kapten kapal seperti dirinya. Untuk kemudian menggantinya dengan sesuatu yang lebih berharga.

 

 

If scars are for the living

Then I could be forgiven

And everything you need

I could give you

And everything you have

I take too

Advertisements

2 thoughts on “#Mino Broods’s Songfic – Taking You There

  1. Halo 🙂 Lagi blogwalking dan sampai di sini hehehe.

    Aku suka banget sama cerita ini. Dari namanya Irene yang dipanggil Rene ((Ugh, itu cantik)), terus deskripsi perasaan Mino, sama endingnya yang masih bikin bertanya-tanya, ini Rene siapa sih aslinya? Suka banget xD


    Sher 🙂

    • hai juga. makasih sudah bersedia meninggalkan jejak 🙂
      irene itu hantu laut sebenarnya. kayak yang disebutin diakhir, eksplisit sih memang nyebutinnya. ehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s