#Kai – Vacance

Standard

EXO_K_Kai_09092012180403

who knows what will happen between us later.

Kami bertemu 4 tahun yang lalu di Windy Shoot. Aku tidak akan lupa baju bergambar bebek kuning di gaun musim panasnya yang terliha aneh. Dia bilang itu seni. Aku bilang itu sangat norak dan aneh.

4 tahun yang lalu adalah hari dimana aku diberitahu ayah mengenai perusahaan kami. Kata beliau, Kim Winery Corps bukan perusahaan sembarang, dan aku bilang aku sudah tahu.

Aku bilang Sehun yang mengatakannya padaku. Kalau wine yang ayahku dan pekerjanya buat adalah yang terbaik di Illinois.

Saat itu ayahku mengangguk puas, kukira karena beliau pikir untuk tidak perlu menjelaskannya lagi padaku. Aku diperbolehkan pergi.

Aku masih 16 tahun saat itu, saat aku berjalan-jalan melihat-lihat kebun anggur kami. Memikirkan apa yang akan direncanakan ayah untukku. Untuk saat itu kakak perempuan adalah yang terbaik di keluarga kami, setidaknya menurutku dia bisa mengurus bisnis ayah. Tapi, kemudian aku berpikir ayah tentu tak mungkin membiarkan putra tunggalnya tidak ikut campur dalam bisnis keluarga.

Sebelumnya aku tidak diajari banyak. Ayah hanya sering mengajakku ke pabrik dan melihat anggur-anggur itu dicuci, dihancurkan, dan dididihkan.

Aku tidak ingat banyak. Walau ayah sering bercerita masalah-masalah perusahaan padaku sebelumnya, Sekarang jika dipikir-pikir aku baru sadar ayah lebih banyak bercerita dan membahas bisnisnya denganku dibandingkan dengan kakak perempuanku.

Tapi, tetap saja, aku tidak tahu banyak.

Saat itulah, di usiaku yang 16 tahun, aku sadar ayah menyiapkan dunianya untukku. Mungkin aku terlambat mengetahui, tapi kakak perempuanku pun menginginkan dunia yang sama. Aku dihadapkan dengan tantangan ayah, dan aku masih sesantai anak laki-laki 16 tahun yang menghabiskan waktu luangnya di kebun anggur. Berjalan-jalan dan bersiul.

Saat itulah aku bertemu dengannya.

Aku tidak pernah melihat gadis seaneh dan secantik itu sebelumnya.

Muncul tiba-tiba di depanku di tengah kebun anggur, kukira gadis itu adalah peri hutan. Sampai aku melihat gambar bebek di bajunya.

Itu gambar yang aneh.

“Aku Krystal,” katanya. “Aku 15 tahun.”

Dia aneh, pikirku. Aku mengabaikan salam perkenalan yang tiba-tiba dan berjalan melewatinya.

“Kau Kim Jongin, kan?” teriaknya saat aku berjalan menjauh. Lalu aku sadar gadis itu berbicara dengan bahasa yang berbeda dari yang lain.

Hei, pikirku saat itu. Tidakkah gadis ini berbicara dengan bahasa Korea?

Aku berbalik dan memperhatikannya. Gadis itu cantik – sangat cantik – rambutnya panjang di bawah bahu dengan bandana di kepalanya. Dia cantik. Lalu aku melihat gambar bebek di gaunnya lagi. Lalu wajahnya lagi.

Dia tidak seperti orang-orang di Illinois. Dia sama sepertiku.

“Kau siapa?” tanyaku. Aku tidak tahu, tapi merasa sangat penasaran karena gadis ini.

“Aku sudah memberitahumu.” ujarnya. Dia mengangkat kepalanya angkuh. Tangannya lalu menunjukku dengan gaya menuduh.

“Kau Kim Jongin.” ujarnya. Aku mengernyit. Gadis ini aneh.

“Aku tidak memberitahumu,” kataku. Dia mengangguk.

“Aku tahu sendiri.”

“Apa aku mengenalmu?” tanyaku lagi. Aku berpikir, gadis ini lebih muda dariku. Banyak bicara dan sok tahu. Dan walaupun dia sangat cantik, tapi dia sangat aneh dan mengganggu.

Untuk apa aku berbicara dengannya?

“Aku Jung Krystal, kuberitahu, ” ujarnya. Gadis itu menatapku dengan tatapan menilai. Menurunkan kepalanya ke bawah dan keatas untuk melihat posturku secara keseluruhan. Ini membuatku secara rekfeks menilik diriku sendiri. Celana kain pendek seatas lutut yang kukenakan tidak nampak salah. Sweater hangatku juga sangat keren. Dan kupikir wajahku pun juga cukup tampan.

Dan itulah yang dikatakannya padaku.

“Kau boleh juga.” ujarnya.

Aku mengangkat satu sudut bibirku.

“Aku bertanya padamu, apa aku mengenalmu?”

Gadis itu mengangkat bahunya.

Saat usiaku 16 tahun, aku sadar ayah menyiapkan dunianya untukku. Mungkin aku terlambat mengetahui, tapi kakak perempuanku pun menginginkan dunia itu. Aku dihadapkan dengan tantangan ayah, dan aku masih sesantai anak laki-laki 16 tahun yang menghabiskan waktu luangnya di kebun anggur. Berjalan-jalan dan bersiul.

Saat itulah aku bertemu dengannya.

Saat itulah aku menemui duniaku yang berbeda.

“Aku calon adik iparmu,” ujar gadis itu. Aku mengernyit dan memiringkan kepalaku memperhatikannya.

“Kau akan menikah dengan Jung Jessica, kakak perempuanku.”

Saat dia mengatakannya saat itu, dia tidak pernah tahu akan menangis di kamarnya di hari pernikahanku.

Saat aku mendengar perkataannya, aku tidak tahu akan terlalu mencintai gadis lain di pernikahanku.

Usiaku 16 tahun dan gadis itu 15 tahun. Di Windy Shoot di Illinois, aku pertama kali bertemu dengannya.

Di hari itu, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di antara kami nanti?

Advertisements

8 thoughts on “#Kai – Vacance

  1. hai? boleh ya aku comment agak panjang?

    hm aku kenal author /panggilnya apa aku bingung/ dari silent problem. Suka banget bahasanya! dan plotnya selalu plot twist /and thats why i like your fict so damn much/.

    Dan yang ini juga…plot twist banget. ah tapi ya setidaknya jadi bukan kaistal fic ahahah /gasuka kaistal soalnya, maaf/

    buat yang silent problem chap-4 nya, aku baca di wp exoff dan (jahatnya) males minta password, jadi comment disini aja ya, biar di notice hahaha

    iya itu juga sangat sangat ngegantung. berasa gak tuntas bacanya heheh. banyak typo ya….? ‘-‘ oh yang selanjutnya, dibikin plot twist juga ya wkwk.

    salam kenal! mungkin aku akan jadi readers tetap disini hihi~

  2. aku tak menyangka akan ada plot twist seperti itu. ini keren.
    bahasanya juga ringan dan yeah tak jauh berbeda dengan tulisanku, tak menggunakan diksi yang rumit but it’s okay 🙂
    coba saja ditambahi deskripsi panjang untuk menjelaskan setting. misal kai sama sojung itu ketemu dimana. dibawah pohon apel atau di kolong meja dan sebagainya. imho ^^V
    overall ini keren, bagian akhir menohok perut huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s