Silent Problem #3 – Daddy’s Daughter

Standard

daddy's daughter

Warning : consists +8000 words, no fluff/romance feeling, absurd, lack-editing, typos

You’re the end of the rainbow, my pot of gold
You’re daddy’s little girl to have and hold
A precious gem is what you are
A ray of hope, a shining star

You’re as bright as the sunshine, morning’s first light
You warm my day, brighten my night
You’re sugar, you’re spice, you’re everything nice
And you’re daddy’s little girl

Daddy’s Little Girl – Michael Bolton

 

***

Saat pertama kalinya ibumu mengatakan kalau dia akan menikah, kau merasa semuanya terasa sangat tiba-tiba. Terlebih saat kau tahu kalau pengganti ayahmu adalah anak kuliahan yang membawa Pocari tuanya kemana-mana.

Kau jelas berpikir kritis dengan menanyakan dalam hati bagaimana seorang seperti itu bisa menanggung kehidupanmu dan ibumu. Dan belum lagi, kau akan bilang kau membutuhkan banyak biaya untuk masuk perguruan tinggi sebentar lagi.

Kau punya banyak kekhawatiran setelah ayahmu meninggal, bahkan ketika saat itu umurmu masih 8 tahun. Dimulai dari siapa yang akan membelikanmu mainan? Siapa yang akan memelukmu saat kau susah tidur? Siapa yang akan mengantarmu ke sekolah? Siapa yang akan menyapamu dengan aroma kopinya di pagi hari? Lalu seiring kau bertambah dewasa hal-hal kecil seperti itu berentet menjadi semakin kompleks dari hari ke hari. Ini bukan hanya tentang mainan baru dan siapa yang akan memelukmu lagi. Hal-hal seperti, siapa yang akan mendatangi pertemuan ayah di sekolahmu? Siapa yang akan kau ajak pergi di hari ayah? Siapa yang akan mencoba minuman fermentasi yang kau buat di hari eksperimen? Siapa yang akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Siapa yang akan menanggung biaya sekolahmu? Siapa yang akan memberimu dukungan dan menepuk bahumu untuk memberimu semangat di pagi hari sebelum kau mengerjakan sooneung? Lalu siapa yang akan membayar tuitisi saat kau di perguruan tinggi nanti?

Bahkan kau pernah berpikir, suatu saat nanti kau akan melemparkan lebih banyak kekhawatiran yang tidak semuanya bisa dijawab oleh hanya seorang ibu.

Seperti… siapa yang akan menjadi walimu ketika kau menikah nanti?

Sebanyak itu kekhawatiranmu, pada akhirnya membuat dirimu sendiri bingung harus bersikap bagaimana saat tahu Oh Sehun adalah calon ayahmu. Kau kira mungkin, mungkin, akan ada beberapa pertanyaanmu yang terselesaikan dengan adanya Oh Sehun sebagai ayah barumu. Tapi, kau jelas tidak bisa langsung mempercayakan semua kekhawatiran bakal selesai di tangan seorang Oh Sehun.

Kau benci mengakuinya. Tapi, kau adalah gadis yang pernah jatuh sangat keras di umurmu yang masih kecil. Kehilangan satu-satunya orangtua kandungmu saat kau kecil jelas membuatmu dipenuhi kekhawatiran berlebih. Dan kau harus mengakui bahwa kau sangsi Oh Sehun bisa memperbaiki kehidupanmu.

Kau belum cukup mengenalnya. Kau mungkin sudah sering bertemu dengan calon ayahmu akhir-akhir ini. Kau sudah diberitahu ibumu perihal Oh Sehun yang ternyata memiliki sebuah cafe bernama Boils and Boba di daerah Apgujeong. Walau kau sendiri belum pernah kesana hingga saat ini. Kau juga sudah tahu tentang keluarga Oh Sehun, walau kau juga belum pernah bertemu, tapi kau tahu Oh Sehun hanya memiliki seorang ayah. Kau tahu Oh Sehun memiliki seorang kakak laki-laki yang lebih tua setahun darinya.

Tapi, hanya sekadar itu. Dan itu belum bisa kau membuatmu mengenal Oh Sehun. Setidaknya sampai kau benar-benar menerima calon ayahmu itu.

Kau tidak pernah tahu bagaimana cara menilai orang lain jika kau sendiri tidak mengenalnya. Kau, hanya seperti layaknya orang lain, tidak mungkin mempercayakan semua kekhawatiranmu pada orang yang tidak cukup kau kenal.

Hingga kau diberi kesempatan pada hari itu.

Hari itu dimulai dengan kau yang berbaring di tempat tidur rumah sakit. Hari itu adalah seminggu setelah sooneung diadakan. Tifusmu kambuh. Kau mulai mengkambing hitamkan sooneung dan berbagai persiapannya yang membuat jadwalmu kelewat hectic. Sekarang, seminggu setelah kau menumpahkan semua usahamu, tubuhmu memberontak dan kondisimu menurun hebat. Baru sore sebelumnya kau ke rumah sakit, awalnya kau pergi sendiri karena ibumu sedang tidak ada di rumah karena sebuah proyeknya di Busan. Kau hanya meminta resep obat dan konsultasi dokter. Tapi, yang kau dapatkan adalah nasihat dokter yang meminta kau untuk dirawat di rumah sakit. Apalagi saat dokter ini tahu kau sendirian di rumah. Kau tidak tahu apa karena ini dokter yang juga merupakan teman ibumu (jadi kau tidak heran dia bersikap berlebihan) atau karena kau memang benar-benar sakit. Kau merasa tidak terlalu sakit parah untuk tinggal di rumah sakit.

Tapi, apa boleh buat. Kau tidak bisa menolak saat dokter itu menelepon ibumu. Kau mendapatkan pidato panjang lewat telepon dari ibumu setelahnya. Ibumu bilang belum bisa langsung pulang, jadi memintamu untuk tinggal di rumah sakit dulu. Kau mengeluh saat itu, ini rumah sakit bukan penitipan anak. Kau protes pada awalnya, tapi kau tidak bisa berbuat banyak saat ibumu sudah menentukan keputusan.

Beruntung setelah sooneung anak kelas tiga tidak punya kegiatan lagi di sekolah. Secara teknis, bisa diartikan libur. Bahkan, Sulli mengartikannya sebagai libur besar, melihat anak itu sedang ada di Sapporo sekarang. Kau sebenarnya diajak Sulli untuk ikut sehari sebelum sahabatmu itu berangkat, kau menolaknya karena sudah mulai merasa tidak enak badan saat itu. Tapi, siapa yang tahu kau punya ‘piknikmu’ sendiri setelah Sulli berangkat? Kau di rumah sakit sekarang. Sendirian.

Menikmati cerahnya hari itu dari balik jendela rumah sakit. Sedikit-sedikit menerima pesan Line dari ibumu.

Jangan lupa meminta perawat menutup jendelanya. Sangat dingin hari ini.

Kau membaca pesan ibumu pagi ini. Ibumu pada awalnya tidak ingin pergi karena putri kecilnya baru saja selesai mengerjakan sooneung. Tapi, kau meyakinkannya bahwa kau tidak apa-apa ditinggal. Setelah proses meyakinkan yang sangat melelahkan, akhirnya ibumu setuju untuk pergi tapi dengan meninggalkan banyak peraturan. Seperti tidak boleh telat makan, tidak boleh lupa mengunci pintu, harus selalu memberitahu ibu akan pergi kemana hari ini, tidak boleh lupa memberi makan Sue (ikan koi kecil sebagai pengganti peliharaanmu, Milo, yang hilang), dan satu lagi yang membuatmu sebal, tidak boleh pergi kencan tanpa seizin ibumu. Yang terakhir itu… uh yang benar saja.

Saat itu kau mengira ibumu terlalu berlebihan. Tapi, setelah berbaring di tempat tidur rumah sakit, membuatmu berpikir untuk tidak mengabaikan pesannya lagi.

Reaksi ibumu selalu luar biasa. Ibumu mengirimi pesan setiap satu jam sekali. Kau kira ibumu sangat sibuk di Busan, karena kalau tidak dia pasti sudah meneleponmu atau lebih tepatnya segera pulang detik itu juga setelah diberitahu kau sakit.

Kau mengirim pesan balasan pada ibumu bahwa kau akan memastikan jendelanya selalu tertutup dan menanyakan kabarnya di Busan. Tapi, tidak segera dijawab. Ibumu jelas sangat sibuk.

Kau memandangi layar ponselmu cukup lama. Kau tidak sedang memandangi wallpaper wajah seorang pria tampan atau apa pun itu yang dipakai remaja wanita kebanyakan. Yang kau lihat saat ini juga bukan foto ayahmu yang membuatmu bisa menangis tiba-tiba. Sebenarnya kau bahkan jarang menangisi ayahmu dan melihat fotonya lama-lama. Kau mungkin merindukannya, tapi bukan begitu caramu menyampaikan kerinduanmu.

Kau menghela nafasmu. Ujung jarimu mengetuk sederet angka yang menyampaikan tanggal berapa hari ini. Rasanya berat kalau mengingatnya lagi.

Tanggal 19 Oktober. Kau menggigit bibir bawahmu. Besok, pikirmu dalam hati. Tapi kau sendiri takut untuk mengatakannya melalui bibirmu.

Besok mau tidak mau membuatmu mengingatnya lagi.

Kau ingin memeluk Todd tapi boneka itu tidak ada disana. Jadi, kau putuskan untuk mengalihkan pikiranmu ke lain hal. Setelah sedikit berpikir apa yang bisa kaulakukan, akhirnya kau mengecek pesan dari Sulli kemudian. Anak itu mengirimmu pesan banyak sekali sejak pagi ini. Sulli jelas merasa bersalah karena tidak ada di sampingmu saat kau membutuhkannya, sama seperti yang dirasakan ibumu. Sahabatmu itu memastikan kau tidak merasa kesepian di rumah sakit. Sulli mengirim banyak foto dan kalimat-kalimat konyol, sesekali kalimat-kalimat pemberi semangatnya padamu. Dan seperti dugaanmu, saat kau membuka pesannya, kau mendapati sebuah foto selca dimana Sulli berfoto dengan pria Jepang tampan di sebuah restoran. Kau mengernyit membaca pesan masuk satu lagi yang muncul kemudian.

Kuharap kau punya teman kencan di Korea, putri tidur.

Kau tertawa. Lalu segera membalasnya dengan stiker Cony yang sedang murka. Kali ini Sulli segera membalasnya.

Kuharap seorang pangeran datang mengetuk pintu kamarmu.

Otomatis kau mengerang membaca ini. Kau tertawa pelan, ketika saat itulah kau mendengar pintu kamarmu benar-benar diketuk. Kau menganga lebar, mulai berpikir Sulli pasti tidak pergi ke Sapporo. Anak itu pasti pergi ke Wales untuk belajar ilmu sihir. Apalagi saat pintunya mengayun terbuka dan memperlihatkan siapa yang mengunjungimu.

Dan kau tidak bisa mempercayai penglihatanmu.

Ini sih pangerannya ibumu.

“Hai, kiddo! Kau sudah baikan?”

Kau tersenyum mendengar sapaan ramah itu. Tidak bisa mengabaikan aksen cadel yang selalu kau terdengar setiap kali calon ayahmu itu berbicara. Kau menegakan tubuhmu untuk menyambut Oh Sehun yang berjalan santai dan menaruh dua bungkus plastik ke nakas di sampingmu. Matamu menangkap sesuatu di belakang punggung calon ayahmu itu. Mengetahui rasa penasaranmu, Oh Sehun bertindak cepat dan menarik apa yang dibawa di punggungnya.

Dan kau memekik senang.

“Todd!”

Kau mengeluarkan tanganmu dari balik selimut dan meraih boneka beruang besar yang diangsurkan Oh Sehun padamu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kau memeluk si bulu cokelat besar kesayanganmu itu. Padahal baru kemarin sejak kau menginap.

Kau tidak bicara apa-apa dan menghabiskan waktumu dengan menenggelamkan wajah ke lengan Todd yang ‘kekar’. Hampir saja melupakan Oh Sehun yang berdiri di sisimu. Menunggu agar eksistensinya digubris. Saat itulah kau ingat sesuatu.

“Kau membawa Todd selama perjalanan?” tanyamu spontan. Kau mengangkat kepalamu dan menyadari kesalahan bicaramu.

Kau.

Jadi panggilan untuk calon ayahmu ini adalah, kau?

Oh Sehun terlihat bingung untuk bicara apa untuk merespon panggilan yang kauberikan. Sedang kau mengutuk dirimu.

Kau terlihat sangat, sangat, tidak sopan sekarang.

“Aku membawanya sepanjang perjalanan. Yah, bersamaku,” jawab Oh Sehun berusaha tenang. Ayahmu tidak pernah memanggil dirinya dengan ‘aku’ saat bicara denganmu. Dan kau tidak pernah memanggil ayahmu dengan ‘kamu’.

Oh Sehun bukan ayahmu. Belum.

Jadi bagaimana kau harus memanggilnya?

Kalian tidak membahasnya lagi.

“Aku sudah berpikir ibu sudah memberitahu semua orang kalau aku sakit. Tapi, aku melewatkan yang terpenting,” ujarmu berusaha mencairkan rasa canggung dalam dirimu dengan tersenyum hangat. Oh Sehun mengangguk dan tersenyum menanggapi usahamu mencairkan suasana. Kau membiarkan Oh Sehun mengacak rambutmu sementara kau berusaha menilik isi bungkusan yang diangsurkannya padamu. Kau menebaknya sebagai makanan.

“Ibumu memberitahuku kalau kau sakit pagi ini. Kau mendapat pesannya?”

“De. Ibu mengirimiku pesan Line setiap satu jam sekali.” Jawabmu.

Oh Sehun mengangguk mengerti. Lalu dia membantumu untuk duduk dengan benar.

“Ini sudah jam makan siang. Kau sudah makan?” tanya Oh Sehun. Tangannya sibuk mengeluarkan isi bungkusan, yang benar seperti dugaanmu, berisi buah-buahan.

“Sekitar setengah jam yang lalu seorang perawat datang dengan nampan berisi bubur mengerikan. Kurasa kau sudah memakannya setengah.” Jawabmu.

Oh Sehun menatapmu sebentar sebelum akhirnya menoleh kearah mangkuk bubur yang juga berada diatas nakas. Dia memberimu tatapan menghakimi.

“Seingatku saat aku adalah pelajar seusiamu, ini tidak bisa dibilang setengah. Apa matematika mengalami revolusi?” tanya Oh Sehun retorik. Kau menggigit bibir bawahmu merasa bersalah. Oke, kau hanya makan dua sendok bubur.

“Maaf,” ujarmu.

“Ouh, ini wortel.”

Kau mengawasi Oh Sehun mengaduk-aduk mangkuk buburmu dan menyingkirkannya di samping paling jauh nakas. Lalu dengan jenaka menatapmu.

“Kau tahu. Kalau aku sudah menjadi ayahmu aku akan menyuruhmu makan bubur itu lagi..”

“Tapi, kau belum.” bisikmu. Dan Oh Sehun tertawa dengan suara beratnya setelah mendengar itu.

“Ya. Tapi, aku belum.” Lalu dia tertawa lagi.

Kau terkejut karena suaranya tidak terdengar seremaja yang kau bayangkan. Maksudmu, oke, Oh Sehun memang bukan remaja. Kau harus melupakan bayangan kalau dia seusia kakak laki-lakimu. Karena, uh, walau wajahnya begitu, tapi usianya lebih tua dari yang kauanggap selama ini.

“Kau suka jjambong?” tanya Oh Sehun tiba-tiba. Dan kau tidak tahan untuk memberinya tatapan aneh.

Kau membelalakan matamu saat melihat semangkuk jjambong instan dikeluarkan dari dalam kantung plastik. Kau tidak habis pikir Oh Sehun memberimu jjambong saat kau tifus.

“Kukira aku tidak boleh makan itu,” selorohmu.

“Memang tidak.” Oh Sehun menyingkirkan mangkuk jjambongnya ke kursi yang berada paling jauh dari jangkauanmu.

“Jjambong itu untuk makan siangku,” lanjut Oh Sehun santai. Oke, kau benar-benar tidak percaya.

“Ini untukmu.” Lalu kau melihat Oh Sehun menyodorkan sebuah cup besar berwarna merah muda. Sekali melihatnya kau seperti ingin berteriak kegirangan. Kau mendongak kearah Oh Sehun lagi untuk konfirmasi, dan dengan segera dijawab dengan anggukan singkat. Kali ini kau tidak bisa menahan senyum lebarmu.

Es krim.

.

.

.

.

Kau memakan apel, anggur, es krim jeruk dan setangkup besar roti. Kau makan banyak sekali sampai tidak kuat lagi ketika akan meraih kotak es krim tiramisu di nakas. Semua yang kau makan hari ini berasal dari Oh Sehun, sampai kau berpikir calon ayahmu itu memiliki kantong ajaib Doraemon.

“Ini keren..” bisikmu kekenyangan. Kau mengusap hidung bulat Todd sembari melihat Oh Sehun yang tengah terduduk di kursi di dekat jendela. Kau tidak tahu apa yang dia lakukan saat kau makan sedari tadi, tapi yang jelas kau yakin Oh Sehun sendiri tidak menyentuh jjambong instannya. Yang kau lihat saat ini justru Oh Sehun yang menatap layar laptopnya dengan serius.

Kau merasa heran.

Saat kau membuka mulutmu untuk bertanya kenapa dia tidak makan, mulutmu mengatup kembali. Kau masih belum tahu harus memanggil calon ayahmu dengan sebutan apa. Kau tahu memanggilnya dengan sebutan ‘kau’ untuk kedua kalinya akan terasa sangat aneh. Kau juga tidak yakin memanggilnya dengan Sehun-ssi akan terdengar sopan setelah kalian sendiri sudah sering bertemu akhir-akhir ini.

Saat dulu, saat kau baru mengenal ibumu, kau langsung memanggilnya ‘ibu’ karena ayahmu memintamu memanggilnya begitu. Sekarang kau tidak punya ide untuk memanggil Oh Sehun sebagai apa. Park Jinhee mungkin ibu yang baru kaudapatkan saat kau berusia tujuh tahun. Tapi, Park Jinhee adalah satu-satunya ibu yang kau kenal selama hidupmu.

Tapi, Oh Sehun berbeda. Dia bukanlah satu-satunya ayah yang kaukenal. Dan yang paling penting lagi, dia juga belum menjadi ayahmu.

Kau belum bisa memanggilnya sebagai ayahmu.

“Kau akan gemuk.”

“Eh?” serumu refleks. Kau memegang pipimu dan segera sadar yang barusan itu hanya ejekan. Oh Sehun terkekeh dan menarik tas kecil di sampingnya.

“Sehabis makan kau harusnya beraktifitas. Ini terlalu buruk karena kau tidak bisa meninggalkan tempat tidurmu dengan selang infus di tangan.”

Kau mengernyit dan melirik pergelangan tanganmu. Sebenarnya, kau masih bisa bergerak atau turun dari tempat tidur. Tapi, kau tidak bilang apa-apa.

“Mau main Uno?” usul Oh Sehun tiba-tiba. Dan ini membuat punggungmu tegak seketika. Kau menatap antusias setumpuk kartu bersisi merah yang dikelaurkan Oh Sehun dari dalam tasnya.

Uno? Sudah lama sejak terakhir kali kau bermain itu. Kau biasa bermain Sulli dan beberapa teman sekelasmu saat kalian masih siswa junior. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kau membayangkan bagaimana rasanya memainkan kartu-kartu Uno lagi setelah kau sudah terlepas dari beban sooneung.

Lucu sekali karena kau akan melakukannya lagi di kamar rumah sakit.

“Aku pintar main ini,” ujarmu memberitahu. Oh Sehun sudah menarik kursi di dekatmu dan mulai memainkan kartu di tangannya. Kau menerima bagian kartu yang dibagikan padamu. 5 kartu masing-masing.

“Seseorang juga mengajariku dengan sangat baik.” Kali ini Oh Sehun yang memberitahumu.

“Ibuku?” ujarmu spontan. Kau tidak tahu, hanya saja ibumu sangat pintar main Uno. Kau punya anggapan bahwa ibumulah yang mengajari Oh Sehun seketika saat Oh Sehun mengatakannya.

“Bukan. Wanita lain.”

“Wanita lain?” kau berseru terkejut. Oh Sehun mengangkat kepalanya. Calon ayahmu itu tertawa geli.

“Seorang… guru.” Ujarnya kemudian.

Kau menganggukan kepalamu saat mendengarnya. Walau begitu kau tidak bisa berhenti mengawasi ekspresi Oh Sehun. Rasanya barusan saja kau mendapatkan serangan jantung.

Sampai sesuatu menghantam pikiranmu. Oh.

“Apa seorang guru mengajarkan muridnya Uno?” tanyamu. Seprtinya nadamu terdengar menyelidik. Tapi kau tidak peduli. Kau mungkin terdengar seperti sedang menginterogasi. Apalagi kau mengawasi bagaimana Oh Sehun menjawab pertanyaanmu.

“Bukan guru di sekolah, kiddo. Dia adalah seorang… guru.”

“Apa dia cantik?” tanyamu. Kau yakin saat ini kau benar-benar terdengar sedang mencoba mencekik Oh Sehun jika pria ini berani bermain dengan ibumu.

“Dia cantik.” Jawab Oh Sehun santai. Tidak terdengar seperti menyembunyikan sesuatu, atau bahkan tertekan sama sekali. “Siapa yang mulai duluan?” tanyanya kemudian.

Kau baru ingin menjawab saat Oh Sehun menyuruhmu mengeluarkan kartumu duluan. Dan kau merasa tidak punya alasan untuk menolaknya.

Kau mengeluarkan kartu biru dengan nomor satu.

Oh Sehun mengangguk dan mengeluarkan nomor satu yang berwarna merah. Tapi sembari permainan berlanjut, kau memutuskan untuk bertanya lagi.

“Apa aku boleh bertemu dengannya?”

Oh Sehun tidak menatapmu. Dia mengamati kartu di tangannya. Terlihat menimbang-nimbang. Kau berpikir apa yang sedang dipikirkan calon ayahmu ini. Bukan soal kartu yang akan dia keluarkan. Tapi, soal jawaban atas pertanyaanmu.

Oh Sehun mengeluarkan kartu reverse.

Kau mengernyit. Ini mencurigakan.

“Reverse tidak berguna kalau pemainnya hanya dua orang.” Ujarmu.

“Kau tidak punya? Kalau begitu ambil kartu tambahan.” Usul Oh Sehun. Kau menggigit bibir bawahmu sembari menarik kartu tambahan. Apa barusan tadi Oh Sehun mencoba mengalihkan perhatian?

“Aku ingin belajar Uno. Apa aku juga bisa minta diajari?” ucapmu. Jelas sekali kau sedang berusaha kembali ke topik awal. Oh Sehun jelas tahu itu. Terlihat dari caranya mengernyit sebelum menatap kartunya lagi. Tapi kau tidak peduli, kau memang tidak berusaha untuk menutupinya.

“Bolehkah?” tanyamu.

Oh Sehun memiringkan kepalanya dan menatapmu. Kau tahu dia tengah menimbang sesuatu. Tapi di lain sisi kau juga tahu kalau Oh Sehun terlihat tidak sedang menutupi sesuatu. Dia tidak tertekan dengan kecurigaanmu. Oh Sehun hanya seperti sedang bermain.

“Bagaimana kalau bermain truth or dare sambil bermain Uno?” ujar suara berat itu tiba-tiba.

Kau mengernyit mendengar usul Oh Sehun. Truth or Dare?

“Jika lawanmu mengambil kartu tambahan kau bisa melemparkan truth or dare. Truth akan dijawab dengan jujur, dan Dare akan dilakukan apapun itu. Seperti biasanya. Call?”

Jadi kau akan mendapatkan jawaban jujur dari semua pertanyaanmu?

Kau tiba-tiba punya pikiran untuk mengatakan pada ibumu agar tidak menikah setelah ini. Kau merasa aneh dan geli karena pikiran konyolmu. Entah kenapa.

Call. Mulai dari sekarang.” Ujarmu cepat.

Lalu kau mengeluar kartu plus empat. Dan kau memastikan melihat ekspresi Oh Sehun saat itu juga.

“Aku tidak punya kartu itu,” ujar Oh Sehun.

Kau tersenyum diam-diam. Menyanyikan lagu kemenanganmu dalam hati.

Truth or Dare?” tawarmu.

Truth.”

Kau menyanyikan lagu kemenanganmu dua kali lebih keras dalam hatimu.

“Apa kau menyukai guru Uno-mu?”

“Tidak.” Jawab Oh Sehun. Biasa saja. Sekarang kau merasa sedang menginterogasi pacar Sulli yang terduga berselingkuh, alih-alih menaruh rasa curiga pada calon ayahmu sendiri. Oh Sehun mungkin tidak seperti dugaanmu. Tapi bukankah justru aneh kalau kau mengabaikan wanita cantik yang tiba-tiba saja diangkat ke permukaan oleh Oh Sehun sendiri?

Dan wow. Ini lebih menyenangkan dari dugaanmu. Kau tidak sadar mengangkat Todd ke pangkuanmu.

Truth or Dare?” ujarmu lagi. Oh Sehun mengernyit.

“Dua kali?” ujarnya bingung. Kau mengibas kartumu.

“Empat kali. Karena empat kartu yang diambil.”

Kau tertawa dan menari di dalam hatimu sekarang. Kau pikir Oh Sehun bahkan mendengar lagu kemenanganmu.

“Oke,” ujar Oh Sehun mengalah dan mengangkat bahunya, “Baiklah, Truth.”

Kau tidak sadar menarik napasmu sebelum menyerukan pertanyaanmu keras-keras.

“Harus di jawab jujur. Ibu atau guru Uno?”

Detik berikutnya kau mendengar Oh Sehun tertawa keras sekali. Sepertinya yang terhibur tidak hanya dirimu, bahkan Oh Sehun menikmati sesi interogasi ini.

“Ibu siapa?” tanya Oh Sehun. Kau berdecak, walaupun tahu itu tidak sopan.

“Ibuku, tentu saja.”

“Aku pilih ibumu, tentu saja.”

Kau mengangkat bahumu tidak peduli. Padahal kau tahu itu lebih tidak sopan.

Truth or Dare?”

Truth.

Oh Sehun jelas tidak suka Dare. Atau dia memang hanya sedang ingin menjawab jujur semua pertanyaanmu.

“Apa aku boleh bertemu dengan guru ini?”

“Ini masih tentang guru Uno?” tanya Oh Sehun, tidak langsung menjawab. Kau mengangguk yakin untuk pertanyaan ini.

“Entahlah, tapi…” Oh Sehun tiba-tiba saja tidak tersenyum lagi. Kau tidak tahu tapi kau yakin itu bukan karena ada yang disembunyikan. Kau tidak tahu.

Oh Sehun tidak menatapmu lagi, tiba-tiba saja tidak ada diantara kalian yang berbicara. Kau menunggunya menyelesaikan kalimat. Kau tidak tahu, kau pikir kau tidak boleh menekannya. Oh Sehun terlihat seperti… teringat sesuatu.

“Tapi apa?”

Oh Sehun mengangkat kepalanya dan menatapmu. Kau melihat calon ayahmu itu menghela nafas. Saat dia mulai berbicara, kau jelas tidak menduga apa yang akan kau dengar selanjutnya.

“Tapi, dia sudah tidak ada.”

.

.

.

.

.

 

 

 

 

Saat kau masih kecil dulu, kau suka bermain Uno dengan ayahmu. Hanya ayahmu. Kau masih terlalu kecil saat itu untuk memegang lima kartu sealigus dalam tangan mungilmu. Jadi, ayahmu hanya membagi tiga untuk masing-masing kalian berdua.

Lalu ayahmu berpura-pura tidak melihat kartu-kartu yang kau pegang. Ayahmu juga akan membiarkanmu tidak mengambil kartu tambahan. Ayahmu bahkan tidak mengeluarkan kartu yang sama agar kau senang.

Tapi ayahmu tidak segan-segan untuk berteriak ‘Uno!’ saat kartumu tinggal satu. Kau selalu marah dengannya saat itu.

Itu sudah lama sekali, sampai kau sendiri mungkin lupa. Itu bahkan seblum kau bertemu Park Jinhee.

Kau mungkin juga lupa apa itu yang kau tanyakan pada ayahmu saat di suatu malam di akhir bulan Oktober.

“Ayah, siapa yang mengajari ayah bermain Uno?”

Kalau kau ingat malam itu, kau seharusnya juga ingat bagaimna ekspresi ayahmu saat kau bertanya.

Hari itu 19 Oktober.

Ayahmu mengelus puncak kepalamu dan mengambil kartu tambahan tanpa sebab. Kau memperhatikannya.

“Ibu yang melahirkan Sohee yang mengajari ayah.”

Kau lupa hari itu adalah hari dimana ayahmu mengatakan ‘ibu’ di depan wajah polosmu.

Ayahmu tidak pernah menceritakan soal ibumu. Kau bahkan terlalu kecil untuk tahu apa itu ibu kandung dan apa itu ibu tiri.

Kau tidak bertanya malam itu, karena besoknya ayahmu mengenalkan Park Jinhee padamu.

Hari itu 20 Oktober.

.

.

.

“Uno!”

Kau berjengit dan berseru keras. Itu seharusnya adalah kartu terakhir di tanganmu, tapi Oh Sehun justru berteriak lebih dulu.

Kau mengambil kartu tambahanmu tanpa diminta.

Truth or Dare?”

Dan Oh Sehun mengajukan pilihannya juga tanpa diminta.

Kau butuh waktu lama untuk memilih.

Setelah melebihi setengah jam kalian bermain, tidak ada diantara kalian yang menang dan menjatuhkan kartu terakhir sebelum yang lain berteriak ‘Uno’.

Sudah agak lama sejak Oh Sehun menjawab truth terakhirmu. Dan dijawab dengan sangat mengejutkan.

“Tapi, dia tidak ada.”

Kau masih ingat bagaimana wajah Oh Sehun yang terlihat biasa saja saat mengatakannya. Tapi kau sendiri tidak bisa untuk tidak merasa bersalah.

Setelah itu kau tidak bertanya soal guru Uno Oh Sehun lagi.

“Aku pilih truth.” Pilihmu kemudian. Oh Sehun mengangguk puas.

“Todd atau Bigbang Taeyang?” tanya Oh Sehun segera. Dan kau tertawa tepat setelahnya. Yang benar saja. Kau baru akan menjawab saat Oh Sehun berujar lagi.

“Atau calon ayahmu?” ujarnya. Kau tertawa lebih keras lagi.

“Atau Wonbin?” tambahmu. Sedikit mengusulkan pilihan lain. Oh Sehun terlihat pura-pura menimbang-nimbang.

“Atau Choi Siwon? Atau Choi Minho?” ujarmu sembari tertawa. Dankau bisa melihat Oh Sehun terkekeh di sampingmu.

Heol. Kau benar-benar suka pria-pria tampan, kiddo.” Ujar Oh Sehun.

“Seleraku tinggi.” Ujarmu penuh percaya diri. Oh Sehun tertawa mendengarnya.

“Aku tidak mau main lagi.” Ujarmu memberitahu. Ini kebiasaanmu sebenarnya, menyudahi apa saja yang membuat bosan. Bukan kebiasaan bagus. Tapi, orang-orang terdekatmu tidak bisa berbuat banyak selain memakluminya. Kadang Sulli pun harus dibuat mengomel karena kebiasaanmu ini. Tapi, selalu setuju pada akhirnya.

Tadinya kau berharap Oh Sehun melakukan hal yang sama. Tapi, kau salah.

“Kau hanya punya dua kartu. Kita selesaikan.” Ujarnya.

“Shireo.” Serumu, sedikit bersandar pada tubuh Todd di belakangmu.

Oh Sehun tidak menjawab. Dia mengeluarkan kartunya.

“Aku tidak punya kartu itu.” Ujarmu. Kau ingin membuat Oh Sehun menyerah.

“Kalau begitu truth or dare?

Kau mengernyit. Kau siap untuk merajuk.

“Aku tidak mau.”

Oh Sehun mengangkat bahunya. “Kalau begitu ambil kartu.”

Apa kau benar-benar masih harus bermain? Kau bersikeras dengan menggeleng cepat. Kau bisa melihat Oh Sehun menatapmu sebentat sebelum angkat bicara.

“Ambil kartumu, Park Sohee.” Ujarnya.

Oh Sehun tidak memanggilmu dengan nama lengkapmu. Bahkan dia tidak pernah memanggil dengan namamu. Kau baru menyadari hal ini setelah calon ayahmu itu memanggilmu barusan.

Dan itu cukup mengerikan.

“Oke.” gumammu memutuskan. Oh Sehun tidak melihat kearahmu tapi kearah kartu-kartunya. Dan kau mengambil kartumu dengan ragu-ragu.

“Giliranmu.” Ujar Sehun. Sekarang nadanya tidak mengerikan. Padahal sebenarnya sama saja. Tapi yang sebelumnya itu membuatmu berpikiran kalau Oh Sehun tidak hanya memintamu untuk menurutinya. Tapi dia juga memintamu menuruti permainan. Kau tidak yakin apakah Oh Sehun pernah mendengar soal kebiasaan burukmu menghentikan pekerjaan yang menurutmu membosankan. Apapun yang Oh Sehun sudah tahu ataupun belum tahu, kau merasa calon ayahmu itu memintamu untuk tidak bertindak hanya sesuai mood-mu.

Anehnya kau mematuhinya hanya dalam sekali kalimat.

Kau menatap kartumu. Kau masih tidak ingin bermain. Tapi kemudian kau berpikir untuk mengeluarkan satu kartu saja tidak akan membunuhmu.

Jadi kau mengeluarkan kartu plus empatmu lagi.

Dengan kartu ini setidaknya kau pikir bisa menang telak. Siapa yang mengira kau meminta berhenti padahal kau memiliki kartu yang menguntungkan di tanganmu?

Dengan ini Oh Sehun harus mengambil empat kartu tambahan dan kau hanya perlu membuang satu lagi. Sudah jelas, kau menang.

“Kiddo benar-benar…” gumam Oh Sehun, terdengar menyesal. Dan kau tidak bisa tidak menahan seringaimu.

Kau jelas menang di pertarungan yang diajukan calon ayahmu sendiri.

Sudah kau bilang kau hebat dengan permainan ini. Kau menumbangkan semua anak di kelasmu saat kau masih seorang junior. Uno adalah sahabat lamamu kalau kau mau bersikap sombong dan–

“Sayang sekali, kiddo. Aku juga punya kartu yang sama.”

Dan Oh Sehun bilang dia punya kartu yang sama.

What the…

“Dan sebenarnya semua kartuku adalah kartu yang sama. Kurasa ini takdir.” Ujar Oh Sehun. Tidak lupa mengangkat bahunya. Calon ayahmu itu mengeluarkan dua kartu plus empat yang sama.

Dan kau harus bilang kalau kau tidak punya kartu itu lagi.

“Kecuali satu ini,” Oh Sehun mengeluarkan kartu terakhirnya. Sebuah reverse. Sorry, kid. But… That’s a shrieking ‘Uno!’ for me.

.

.

Truth or Dare?”

“Dare.”

Menyanyi Uh-Eee dengan logat Jeju.” Seru Oh Sehun. Bahkan tanpa perlu berpikir.

Kau menghela nafasmu sebal. Kau tidak tahu kalau yang kalah harus menjawab semua truth or dare. Kalau begini caranya, kau akan menolak semua makanan yang calon ayahmu itu bawa siang tadi.

Semacam bentuk penolakan untuk membuatmu tersiksa dan membuat kamar rawatmu kelewat ribut.

Kau tidak sadar kalau kau bahkan menikmatinya.

“Aku mau roti.” Ujarmu tiba-tiba. Oh Sehun menatapmu pura-pura curiga. Dengan tatapan kau-masih-harus-bernyanyi-setelah-makan-roti, Oh Sehun mengambilkan roti keju dari tasnya. Dia membukakan bungkusnya dan memberikannya padamu. Kau jelas menerimanya dengan senang hati. Sedangkan Oh Sehun mengambilkanmu minum dan menaruhnya di nakas. Lalu kau memperhatikannya memutari tempat tidurmu dan berjalan mendekati jendela. Membukanya sedikit agar kau bisa melihat pemandangan di luar.

Sudah sore. Kau bahkan tidak menyadarinya.

“Bagaimana sooneung?” tanya Oh Sehun sembari duduk di kursi dekat jendela. Kau menjawab sambil setengahnya masih mengunyah rotimu.

“Aku berusaha keras untuk itu.” Jawabmu. Oh Sehun mengangguk.

“Apa kau berusaha keras sampai sakit?” tanya Oh Sehun.

Kau tidak menjawab. Ibumu tidak bertanya seperti itu. Walaupun kau yakin dia akan mengomelimu soal dirimu yang terlalu memforsir tubuhmu untuk sooneung, tapi ibumu belum mengatakannya. Kau sedikit terkejut mendapati Oh Sehun adalah orang pertama yang mengatakan ini. Bahkan sebenarnya Oh Sehun adalah orang pertama yang menjagamu di rumah sakit.

“Tidak ada satu pun dari kedua orang tua yang menyukai anaknya berusaha terlalu keras hingga jatuh sakit. Sekalipun usaha anaknya adalah untuk hal terpenting di dunia.”

Kau diam saja. Mendengarkan dan diam.

Satu frasa saja yang membuatmu tidak tahu harus mengatakan apa.

Kedua orangtua.

Tidak ada satupun yang pernah berkata ‘orangtua’ padamu sejak ayahmu meninggal. Mereka, orang-orang, akan bilang ‘Sohee-ya kau harus membuat bangga ibumu’, ‘Sohee-ya jagalah ibumu untuk ayahmu di atas sana’, atau ‘Sohee-ya kau benar-benar mengingatkan tentang ayahmu. Semoga dia tenang disana.’

Hal-hal seperti itu.

Cara Oh Sehun mengatakan, ‘tidak ada satu pun dari kedua orangtua’ membuatmu berpikir sesuatu. Dan ini mengganggumu.

Siapa orang tua yang Oh Sehun maksud?

Apa itu berarti ayahmu, ibu kandungmu dan Park Jinhee?

Kau tahu ini bodoh dengan mengungkitnya. Hanya saja lagi-lagi kau merasa Oh Sehun tidak tahu apa-apa. Mungkin dia tahu soal ibumu dan ibu kandungmu. Tapi apa itu yang Oh Sehun maksudkan saat calon ayahmu itu mengatakan orangtua kepadamu?

Ini menyadarkanmu juga.

Apa maksud dari orangtua juga berarti Oh Sehun?

Apa Oh Sehun adalah orangtuamu?

“Jangan sakit.” Ujar Oh Sehun. Memecahkan pikiranmu.

“Ibumu sangat khawatir di Busan.” Tambahnya. Kau mengangguk sekali dan kembali memakan rotimu.

Ibumu, memang, sangat khawatir saat ini.

Tapi bagaimana dengan ayahmu? Apa Oh Sehun khawatir layaknya seorang ayah?

Kau tidak menuntut siapa pun bertindak untuk mengisi kekosongan yang membuat rindu akan perhatian seorang ayah. Kau tidak mau menuntut Oh Sehun untuk menjawab kekhawatiranmu soal siapa yang akan mengambil alih sosok ayah dalam hidupmu ke depan.

Kenapa?

Karena kau sendiri bahkan belum bisa menerimanya sebagai ayahmu? Kau tidak tahu bagaimana menjadi anaknya Oh Sehun. Kau bahkan tidak memanggilnya dengan ayah. Padahal tidak lama menunggu untuk pernikahan ibumu.

Apa kau siap mempunyai orangtua lagi? Lagi.

Kau bahkan memanggil calon ayahmu dengan ‘kau’ dengan tidak sopan.

“Mau membantuku sesuatu?”

Kau sedikit terkejut saat Oh Sehun berbicara lagi. Kau tidak yakin barusan Oh Sehun berbicara denganmu. Kau terlalu sibuk dengan pikiranmu, dan ketika kau mendongak kau mendapati Oh Sehun yang menatapmu.

“De?” ujarmu buru-buru. Kau menyingkirkan bungkus rotimu dan menatap calon ayahmu.

“Membantu apa?”

Kau bisa melihat Oh Sehun yang seperti menimbang-nimbang sesuatu. Kau tidak tahu, tapi kau mendadak merasa penasaran dengan apa yang diminta Oh Sehun. Apa dia memintamu untuk memanggilnya ayah?

Tiba-tiba kau merasa sesuatu menekanmu.

“Begini,” Oh Sehun mengerutkan keningnya sebentar sebelum melanjutkan. “Apa kau bisa membantuku memilih beberapa lagu kesukaan ibumu?”

Keningmu berkerut.

“Lagu?” tanyamu tidak yakin. Untuk apa? Kau bisa lebih spesifik dengan menanyakan untuk apa memilih lagu kesukaan ibumu. Tapi, sebelum kau memutuskan untuk bertanya, Oh Sehun sudah lebih dulu menjawabnya.

“Ini untuk hadiah ulang tahun ibumu besok.”

  1. 20 Oktober.

Kau tidak tahu harus bicara apa. Seperti seseorang menyadarkanmu lagi untuk kesekian kalinya. Kau tahu ibumu akan berulangtahun besok, ibumu pun tahu. Tapi, itu bukan berarti kau –atau bahkan ibumu sendiri– berencana untuk merayakannya.

Sudah lama sekali sejak kalian merayakan ulang tahun. Sejak ayahmu meninggal.

Ulangtahun siapapun tidak pernah dirayakan. Kau terlanjur terbiasa dengan ini, bahkan kau tidak merayakan ulang tahun Sulli. Sahabatmu paham hal ini.

Bahwa kau tidak pernah merayakan ulang tahun siapa pun sejak ayahmu tiada.

Dan saat ini adalah satu dari sekian banyak hal lain yang terlewat untuk kaupikirkan ketika situasinya sudah berbeda.

Ada Oh Sehun. Dan kaurasa calon ayahmu ini tidak tahu soal ‘perayaan’ ini.

“Oh.” Bisikmu kelu sebagai jawaban. Kau tahu itu tidak sopan. Tapi, kau bahkan berhenti mengusap hidung Todd dan membiarkan Oh Sehun menunggu persetujuanmu.

Kau tidak punya ide harus memberitahu Oh Sehun atau tidak.

Kau kecewa. Kau merasa itu ‘tugas’ ibumu memberitahu calon suaminya tentang apa-apa di keluarga kalian. Kau membuang mukamu kearah pintu, yang artinya menoleh kearah lain dari tempat Oh Sehun duduk. Kau tidak tahu seberapa kekanakannya kau, tapi kau merasa sangat kesal.

Ini benar-benar seperti disadarkan berulang kali dalam sehari.

Bahwa Oh Sehun masih orang lain. Mungkin, masih orang lain.

Yang orang baru itu Oh Sehun. Yang datang itu Oh Sehun.

Soal siapa yang belajar dan menyesuaikan dirinya. Itu jelas bukan kau. Itu jelas adalah Oh Sehun.

“Aku akan membuat sebuah album buatan sendiri. Berisi lagu-lagu yang direkomendasikan untuk ibumu. Aku ingin kita bersama membuatnya.” Ujar Oh Sehun. Nadanya tidak berubah. Berat tapi terdengar bersemangat.

Kau menggigit bibir bawahmu.

“Ayo, menyiapkan ulangtahun yang hebat untuk ibu. Sohee mau membantu ayah, kan?”

Kau menatap Todd sebentar, mengelus hidungnya. Lalu dengan sedikit mengatur nafas kau beralih menatap Oh Sehun.

“Aku tahu beberapa lagu bagus untuk ibu,” ujarmu. Kau tidak benar-benar menatap Oh Sehun, tapi kau merasakan sepasang mata itu mengawasimu dengan hangat.

Kau merasa dirimu menjadi jauh lebih kekanakan dengan tidak menatap calon ayahmu saat kau berbicara. Jadi, kau menatapnya. Tepat di matanya yang seperti tersenyum kearahmu. Kau sedikit terkejut melihat ekspresinya. Sedetik lalu kau merasa seperti melihat ekspresi cemas, lalu sekarang kau melihat Oh Sehun menggangguk sekali kearahmu. Dia meyakinkanmu sesuatu. Dan kau tidak tahu apa itu.

Hanya saja kau mengatakannya.

“Aku akan membantu.”

Oh Sehun tersenyum. Kau bisa melihatnya luar biasa lega. Dan untuk saat ini kau menolak berpikiran bahwa ekspresi itu bisa kau hargai. Dengan wajah lesu kau menarik ponselmu. Sedangkan Oh Sehun menjelaskan kalau kau sudah mendapat lagunya kau hanya perlu mengirimnya ke sebuah ipod di meja. Kau mengangguk seadanya dan mulai mencari.

Kau pernah mendengar soal mix album sebelumnya. Tapi, sekalipun kau tidak pernah membayangkan akan melihat bagaimana seseorang berusaha membuatkannya untuk orang lain. Apalagi sekarang kau turut terlibat dalam pembuatannya. Normalnya, kau akan sangat antusias dengan pekerjaan ini. Maksudmu, kau sebenarnya selalu penasaran bagaimana itu mix album. Kau sudah tertarik sejak Sulli mendapatkan satu dari mantan kekasihnya –yang entah keberapa.

Saat itu kau merasa iri pada Sulli, bahkan kau mengatakan rasa irimu langsung pada sahabatmu itu. Pasti rasanya hebat sekali mendapatkan hadiah mix album. Kau bisa membayangkan bagaimana seseorang berusaha keras mengumpulkan setiap lagu di dalamnya dengan memikirkanmu. Mendengarkan lagu-lagu itu nanti seperti disanjung. Kau akan merasa betapa pentingnya kau bagi orang yang susah payah mengumpulkan berbagai genre lagu. Dan semua lagu itu rasanya hanya tentang dirimu.

Kau menyukai ide ini. Tapi, ini menyakitimu jika mengetahui album ini adalah tanda pertama kalinya sebuah perayaan ulangtahun dimulai lagi setelah sejak lama. Ini berbalik menjadi lebih mengganggumu. Kau tidak tahu. Tapi, dalam dirimu kau hanya ingin bilang kalau kau berhak berpikir bahwa Oh Sehun tidak sepatutnya mengubah apa-apa tentang ayahmu.

Kau merasa ibumu seharusnya paham hal ini. Kau ingin ibumu mengatakan apa saja kebiasaan keluarga kalian pada Oh Sehun. Kau ingin ibumu memberitahu Oh Sehun apa yang kalian biasa lakukan, maupun yang tidak biasa kalian lakukan. Kau ingin Oh Sehun mengenali kebiasaanmu.

Karena jika dia tidak begitu. Berarti dia orang lain. Orang asing.

“Apa yang disukai ibumu?”

Kau melirik Oh Sehun. Setelah sadar kalau calon ayahmu itu memang sedang berbicara denganmu, kau memutuskan untuk mendengarkan. Tapi Oh Sehun tidak bilang apapun setelah itu.

“Ibu sangat aneh. Dia… lebih suka lagu yang lawas, tapi juga tidak bisa menolak beberapa yang baru.” ucapmu. Entah mengapa tiba-tiba saja menyumbang saran. Oh Sehun mengangkat kepalanya kearahmu. Kau bisa merasakan dia menatapmu sembari tersenyum. Kau tidak tahu senyum apa itu yang Oh Sehun berikan padamu. Kau memutuskan dengan cepat sebagai ‘senyuman orang yang tidak tahu. Menurutmu Oh Sehun tentu saja tidak tahu apa-apa soal ibumu. Setidaknya jika dibandingkan denganmu.

“Ibu,” kau melanjutkan untuk menjelaskan, dengan fokus kearah playlist musik di ponselmu. Kau menimbang-nimbang apa saja yang perlu untuk diberitahu. “Ibu tidak terlalu suka balad. Atau sesuatu yang lembut dan menyenangkan. Yang tidak bisa diprediksi dari penampilannya adalah ibu suka musik yang menghentak dan bernada adiktif. Ibu jarang mendengar yang lembut. Jika pun musiknya lembut, dia akan memilih agar vokalnya kuat. Seperti Cranberries.”

Saat kau mengatakan kalimat terakhirmu, kau memutuskan untuk memilih tembang Ode to My Family berputar dari music player di ponselmu.

“Ini adalah lagu terlembut yang ibu suka.” imbuhmu.

Oh Sehun tidak berkata apa pun, dan kau membiarkannya begitu. “Jika ada lagu lain yang ibu suka, itu adalah lagu kesukaan ayah.” Kali ini kau tidak menahan dirimu untuk menatap Oh Sehun sebentar. Kau mengira Oh Sehun akan terganggu dengan kata ‘Ayah’, tapi kau tidak mendapatkan apa yang kau duga tergurat dalam wajah hangat Oh Sehun. Dia hanya tidak bergeming.

“Ayah sangat suka Urban Green. Semua dalam keluargaku suka Lim Kim.” kau tersenyum. Sekilas kau merasa itu bisa saja diinterpretasikan sebagai sebuah ejekan untuk Oh Sehun. Menunjukan betapa bahagia keluargamu sebelumnya saat ayahmu masih ada.

Kau tidak perlu Oh Sehun kalau ayahmu masih ada di sisimu. Ini mungkin kejam menceritakan tentang kau, ayahmu dan ibumu. Dan meneceritakan betapa sangat harmonis keluargamu sebelumnya. Tapi, inilah kau. Mengenalkan apa yang harus kaukenalkan pada Oh Sehun, calon ayahmu.

“Ibumu suka Five for Fighting.” ujar Oh Sehun saat tahu kau selesai berbicara. Kau mengangguk mengiyakan.

“100 Years adalah kesukaannya. Atau sebenarnya lagu itu adalah kesukaan semua orang.”

Lagu itu semacam epik untuk ibumu. Kau ingat betapa ibumu tidak bosan-bosannya menedengarkan lagu itu di dapur, kadang menyanyikannya.

“Kita pilih Cranberries dan Five for Fighting.” ujar Oh Sehun. Menandai sesuatu di ponsel pintarnya. Sedangkan kau melanjutkan berpikir di tempat tidurmu.

“Oh! Ibu suka Rolling Stones!” ujarmu. Kalau saja kau bisa melihat ekspresimu sendiri saat ini, kau bisa saja terkejut dengan betapa antusiasnya wajahmu.

“Maksudmu yang suka ibumu putar di mobilnya? She’s A Rainbow?” tanya Oh Sehun, kau bisa melihatnya sangat antusias. Bahkan mungkin seantusias dirimu saat ini. Kau bisa melihat Oh Sehun mencari lagu yang kalian bicarakan di ponselnya. Detik berikutnya kau sudah bisa mendengar intro lagu itu menyapu ke seluruh kamar inapmu. Kau membayangkan bagaimana ekspresi ibumu setiap kali mendengar lagu itu.

Kau lalu meniru bagaimana ibumu biasa menggerakan tangannya mengikuti irama. Tidak sulit bagimu untuk membayangkan perasaan ibumu saat menerima ‘hadiah’ ini nanti. Lalu entah bagaimana kau dan Oh Sehun memulai bernyanyi.

She comes in colors ev’rywhere…
She combs her hair… She’s like a rainbow!”

Kau membayangkan bagaimana ayahmu menyanyikannya untuk ibumu. Seperti film lama, kau bisa melihat ibumu tertawa di balik pantry. Kau pun juga tertawa. Suara ayahmu sebenarnya tidak buruk. Tapi kau dan ibumu tidak bisa menerima ide ayahmu yang menggunakan mentimun sebagai pengeras suaranya. Kau, mau tidak mau, kembali tertawa saat mengenangnya.

Tanpa sadar kau kini juga menertawakan Oh Sehun yang masih bernyanyi di sisi tempat tidurmu. “Ayo, Kiddo! Bernyanyi denganku!” kata Oh Sehun. Calon ayahmu itu tertawa pelan. Walau begitu sudut-sudut matanya terlihat berkerut, dan kau bisa menjelaskan betapa senangnya Oh Sehun dari ekspresinya itu.

“She’s like a rainbow!”

Kau menyerah dan ikut bernyanyi walau hanya tahan pada bagian reff-nya saja. Selebihnya kau tidak bisa menahan tawamu lagi. Sampai lagunya selesai kau mengayunkan tanganmu dan tangan Todd ke kanan dan ke kiri, sedangkan Oh Sehun dengan senang hati melanjutkan nyanyiannya sampai lagunya benar-benar berakhir.

Saat lagunya berhenti, kau juga menghentikan tawamu. Kau menurunkan Todd dan menatap kearah pintu, takut jika serang susuter tiba-tiba masuk karen suara berisik dari kamarmu. Saat itulah Oh Sehun mengajukan usulnya.

“Ibumu suka The Cars.” ujarnya. Kau segera berbalik kembali kearah Oh Sehun. Dengan sedikit mengernyit berusaha menigingat-ingat lagunya. Sampai salah satu diantaranya teringat di kepalamu. Oh. Pikirmu. Oh, The Cars. Oh, tidak.

“Aku tidak suka.” Protesmu segera setelah lagu itu terputar kembali dalam ingatanmu. Karena seingatmu lagu itu buruk sekali.

“Kita tambahkan itu.” Ujar Oh Sehun. Kau menggeleng kuat-kuat. Kau tidak mau. Oke, ini memang kesukaan ibumu, dan kalian melakukan ini semua memang untuk hadiah ibumu. Tapi, kau hanya benar-benar tidak ingin menambahkannya.

Dan tanpa kauduga, Oh Sehun memutar lagunya. Kau mendelik, mengerang dan memeluk Todd erat-erat. Lagunya jelek. Ini bukan lagumu, ini benar-benar hanya lagu ibumu.

“I don’t mind you coming here~” Kau melirik Oh Sehun. Apa barusan dia mencoba menyanyi?

It’s not the perfume that you wear.. It’s not the ribbons in your hair~ Ayo Sohee~ kau tahu lagu ini.” ujar Oh Sehun sambil tertawa. Kau mengeluh. Kau memang tahu lagu ini. Dan karena kau tahu lagunya kau bisa mengatakannya kalau kau tidak suka. Lagu ini lagu lama sekali. Kau tidak percaya Oh Sehun tahu lagu lama seperti ini. Bahkan sekarang menyenandungkan liriknya. Bahkan sampai puncaknya yang paling kau benci.

I guess that’s you are I needed!” Kau menutup wajahmu dengan perut Todd. Ini memalukan. Kau harap tidak ada suster yang mendengar suara calon ayahmu itu dari luar ruangan. Karena akan sangat sulit mencari alasan ketika suster itu bertanya kenapa calon ayahmu itu bernyanyi dan berteriak seperti orang ayan. Karena satu-satunya jawaban yang bisa kaukatakan adalah, calon ayahmu ini gila.

Kau tidak bisa bertindak apa-apa lagi selain menatap Oh Sehun sebal. Setelah calon ayahmu itu selesai bernyanyi (atau kau lebih suka menyebutnya berteriak membangunkan penghuni rumah sakit), kau mendesah lega dan kembali menutup mukamu dengan perut empuk Todd.

“Ya, kiddo.” Kau melirik calon ayahmu dengan sebelah matamu. Masih merasa malu. Walau begitu kau berniat mengdengarkan apa yang akan dikatakan Oh Sehun selanjutnya.

Setelah tersengal sebentar, Oh Sehun melanjutkan bicaranya.

Kiddo, truth or dare?”

Kau mengerjap. Mengawasi wajah calon ayahmu yang terlihat serius tapi masih dengan senyumannya. Kau menimbang-nimbang sebentar.

Truth.” Jawabmu. Semata-mata karena kau takut diminta bernyanyi.

Oh Sehun mengangguk dan membenarkan posisi duduknya. Kepalanya menyandar dan menengadah ke langit-langit ruangan.

“Jujurlah. Apa kau merindukan Ibu kandungmu?”

.

.

.

Kau tidak pernah menangis di pemakaman ayahmu. Tidak pernah menangis saat diminta bercerita tentang ayahmu. Tidak pernah menangis ketika diingatkan sebanyak apa pun tentang ayahmu. Kau terbiasa jika orang-orang bertanya ‘apa kau rindu ayahmu?’

Kau hanya akan menjawab bahwa kau memang merindukannya. Tapi, kau tidak pernah menangis untuk itu.

Kalau pun Oh Sehun yang bertanya apakah kau merindukan ayahmu, kau tidak akan menangis. Kau mungkin saja akan terkejut. Tapi, jujur kau pun sebenarnya pernah berpikir apakah Oh Sehun juga memikirkan ayahmu, bagaimana ayahmu, seperti ayahmu. Ayah yang sangat dekat dengan anak perempuannya. Apa Oh Sehun pernah berpikir tentang kesanggupannya mengganti sosok itu bagi kau juga ibumu?

Kau pernah berpikir sejauh itu.

Tapi soal ibumu. Ibu kandungmu? Tidak. Kau tidak pernah berpikir sejauh itu.

Kau sendiri tidak pernah melihat ibumu. Ibu yang kautahu adalah Park Jinhee. Ibu kandungmu, kau tahu dialah yang melahirkanmu. Tapi kau tidak mengenalnya. Kau tidak pernah memeluknya.

Kau pun pernah bertanya. Apa kau merindukannya? Ibu kandungmu?

Kau sering ingin bertanya bagaimana ibumu pada ayahmu dulu. Tapi setelah Park Jinhee hadir, kau sekarang sadar bahwa kau jarang memikirkan bagaimana ibu kandungmu. Apa dia ibu yang baik? Apa di cantik? Apa dia secantik dan sebaik Park Jinhee? Apa pelukannya hangat?

Dan yang paling penting, apa dia menyayangi anak perempuannya yang tidak pernah dia lihat? Apa kau, anak perempuannya, merindukan ibumu?

Apakah kau menyayangi orang yang tidak kau kenali?

Sekalipun itu adalah ibumu sendiri?

“Aku merindukan ibu kandungku.” Jawabmu. Kau tidak menatap Oh Sehun, kau melihat tanganmu yang kau mainkan di balik tubuh besar Todd.

“Karena aku bertanya-tanya bagaimana dia sampai saat ini. Aku ingin bertemu dengannya dan bertanya banyak hal padanya. Aku ingin melihatnya dan memeluknya. Aku merindukannya karena kupikir kalau tidak begitu aku tidak akan sepenasaran ini tentangnya.”

Kau diam dan mengerut dahimu. Kau berusaha mengingat beberapa foto ibu kandungmu yang pernah kau lihat di album foto ayahmu.

“Aku menyayangi ibu kandungku, walau pun aku tidak mengenalnya.”

Oh Sehun mengangguk dan tersenyum saat kau mengucapkan kalimat terakhirmu. Kau membalas senyumannya.

“Besok aku harus pergi pagi-pagi sekali.” Ujar Oh Sehun. Kau menatapnya dan segera sadar bahwa calon ayahmu itu sengaja tidak membahas ibu kandungmu lagi. Seakan dia tahu kalau kalian membicarakannya lebih lanjut lagi kau bisa merasa sangat canggung karenanya.

“Aku akan ke Boils and Boba. Aku ingin kau mampir mengingat kau belum pernah kesana.”

“Aku berpikir ingin kesana sekarang.” Ujarmu memberitahu. Oh Sehun tersenyum dan beranjak dari duduknya.

“Nanti kau akan kesana kalau kau sudah sembuh. Lagipula besok aku harus melakukan sesuatu.”

Kau mengangguk, tak sadar sambil menguap. Oh Sehun tersenyum dan menyuruhmu tidur dengan gerakan tangannya. Kau menurut saja dan segera berbaring. Kau membiarkan Oh Sehun membenarkan selimutmu dan letak Todd di sisimu agar tubuh boneka besar itu membuatmu nyaman.

“Kau tahu apa yang harus kulakukan besok?” tanya Oh Sehun. Kau menggeleng dan membenamkan wajahmu ke lengan Todd. Sebenarnya kau tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang ditanyakan Oh Sehun padamu.

“Besok aku akan memberitahu kabar gembira pada guru Uno-ku,”

Lamat-lamat kau masih mendengar suara Oh Sehun. Kau hanya terlalu lelah untuk mendengarkan yang berikutnya.

“Karena besok adalah hari ulangtahun orang itu.”

Tapi kau sudah terlelap dan tidak mendengarnya lagi.

.

.

.

.

Kau terbangun keesokan harinya. Sendirian.

Hanya dengan Todd dan beberapa buah di nakas. Kau menatap jendela kamarmu yang terbuka. Hari ini cerah dan tidak terlalu dingin seperti kemarin. Kau berpikir Oh Sehun pergi pagi ini sebelum kau bangun. Mungkin membiarkan jendela terbuka agar kau dapat melihat keadaan di luar.

Itu artinya Oh Sehun menunggumu di rumah sakit sehari penuh.

Kau menguap sekali lagi dan meraih secangkir air putih –yang mungkin diberikan seorang suster pagi ini. Saat itulah kau melihat kartu Uno di sela buah apel di nakas. Kau mengerutkan keningmu sebelum meraihnya.

Kau melihat sebuah pesan di sana.

Kau masih memiliki hutang truth or dare.

Aku memilihkan dare untukmu.

Kau harus melakukan satu dare yang tidak pernah kau lakukan sebelumnya.

Dan hutangmu selesai.

Kau mengernyit membacanya. Dengan setengah hati kau membalik kartu itu.

Sebuah kartu reverse.

Tiba-tiba kau mengingat sesuatu. Buru-buru kau mencari ponselmu. Setelah menemukannya di balik tubuh besar Todd kau segera menariknya dan menekan nomor 1.

Kau memanggil ibumu.

“Yeobeoseyo?”

Kau menahan nafasmu saat mendengar suara lelah ibumu. Tiba-tiba saja kau merasa sangat bersalah hanya dengan mendengar suara lelah itu.

Ibu akan segera sampai. Bagaimana kabarmu, Sohee-ya?”

“Aku jauh lebih baik.” Jawabmu.

Kau menatap kartu reverse di tanganmu yang lain. Sedikit tersenyum sembari memainkannya di pangkuanmu.

Apa yang bisa kau lakukan untuk menjawab tantangan Oh Sehun?

Kau punya banyak hal yang ingin kau lakukan sekarang.

“Ibu,” ujarmu setengah berbisik. Kau bisa mendengar ibumu menggumam. Kau membayangkan ibumu tengah bersandar di kursi mobil. Mungkin sedikit mengantuk. Kau menghela nafasmu sekali lagi.

“Ibu, selamat ulang tahun.”

Ada banyak hal yang ingin kaulakukan saat ini. Lebih dari satu.

Yang pertama adalah memberi semangat pada ibumu di hari ulang tahunnya.

“Ibu, aku mencintaimu. Segeralah kesini agar aku bisa memelukmu.”

Ibumu tertawa berderai dari ujung sana. Sedangkan kau merasakan matamu memanas.

Hari ini adalah pertama kalinya kau tidak mengabaikan hari ulang tahun ibumu. Kau memutuskan untuk melupakan bagaimana kematian ayahmu membuatmu bersikap sedikit dingin pada ibumu di setiap hari ulang tahunnya.

Karena ayahmu meninggal di saat dia menyiapkan segalanya untuk hari ini. 20 Oktober.

Kau memejamkan matamu. Beberapa kenangan itu seperti terulang kembali di kepalamu.

“Ayo, menyiapkan ulangtahun yang hebat untuk ibu. Sohee mau membantu ayah, kan?”

Terima kasih, sayang. Sohee-ya… Apa Sehun datang kemarin?”

Kau mendengar suara ibumu yang bergetar. Kau tersenyum mendengar ibumu yang tidak bicara banyak tentang ucapan selamatmu. Kau membuka matamu lagi dan mengusap pipimu yang sudah membasah. Berusaha fokus dengan pertanyaan ibumu.

“Iya, ibu.”

Kau mendengar ibumu bergumam pelan. Tidak bicara apa-apa.

Oh Sehun. Tiba-tiba saja kau teringat sesuatu.

“Ibu…”

“Ya?”

Kau menunduk dan menatap kartu reverse di tanganmu. Menimbang-nimbang apakah kau perlu mengatakannya pada ibumu.

“Ibu, apa ibu mengenal guru Uno Oh Sehun?” setelah kau mengatakannya, kau menjadi tidak yakin ibumu paham siapa yang kau maksud. Ibumu bisa saja baru mendengar guru Uno Oh Sehun hari ini.

“Guru Uno Oh Sehun?”

Kau mengangguk pelan, walau ibumu tidak bisa melihatmu saat ini.

“Sudahlah ibu, lupakan saja–“

Apakah Oh Sehun pergi untuk merayakan ulang tahun guru Uno-nya?”

Kau mengernyit kaget. Bagaimana ibumu bisa tahu soal guru ini? Bahkan ulangtahunnya?

“Apa ibu tahu?” tanyamu lagi. Sekarang kau sendiri tidak yakin siapa yang paling tidak tahu disini. Tanpa sadar kau menegakan tubuhmu karena merasa sangat penasaran.

“Apa ibu mengenal guru Uno Oh Sehun?”

“Ya. Dia berulang tahun hari ini.”

Kau memegang erat-erat kartu reverse di tanganmu. Ada sesuatu yang aneh. Kau punya sebuah dugaan.

Guru Uno Oh Sehun berulangtahun di hari yang sama dengan ibumu.

“Ibu, Guru Uno Oh Sehun. Apa aku mengenalnya?”

Kau tidak mendengar jawaban segera dari ibumu. Dan ini benar-benar membuatmu semakin penasaran.

Apa Oh Sehun tidak memberitahumu siapa guru ini?”

Siapa guru ini? Apa ini artinya kau mengenalnya?

“Ibu–“

“Iya, sayang. Guru Uno Oh Sehun adalah ibumu. Ibu kandungmu.”

.

.

.

.

.

Ayahmu sangat menyayangi ibumu. Park Jinhee dan ibu kandungmu. Keduanya.

Kedua ibumu berulang tahun di hari yang sama. 20 Oktober.

Karena kebetulan yang lucu ini, ayahmu memutuskan untuk merayakan hari ulang tahun ibu kandungmu lebih dulu di awal Oktober. Ayahmu melakukan ini agar Park Jinhee tidak merasa terganggu, walaupun Park Jinhee menolak ide ini, ayahmu tetap melakukannya.

Hari itu, di hari kematian ayahmu, beliau mengendarai mobilnya ke pemakaman ibumu. Kau masoh sangat kecil dan menolak ikut. Kau ada di kamarmu saat itu, ketika kau mendengar Park Jinhee menangis di ruang tengah.

Kau tidak tahu bagaimana tepatnya semua itu terjadi.

Ayahmu menyiapkan Todd, sebuah boneka beruang besar untuk Park Jinhee. Dan Park Jinhee memberinya padamu.

Kau tidak tahu kalau Todd adalah boneka terakhir yang bisa diberikan ayahmu untukmu.

Ayahmu meninggal hari itu, Dalam perjalanannya menyiapkan 20 Oktober terbaik untuk Park Jinhee dan ibu kandungmu.

.

.

.

.

Kau punya banyak kekhawatiran setelah ayahmu meninggal, bahkan ketika saat itu umurmu masih 8 tahun. Dimulai dari siapa yang akan membelikanmu mainan? Siapa yang akan memelukmu saat kau susah tidur? Siapa yang akan mengantarmu ke sekolah? Siapa yang akan menyapamu dengan aroma kopinya di pagi hari? Lalu seiring kau bertambah dewasa hal-hal kecil seperti itu berentet menjadi semakin kompleks dari hari ke hari. Ini bukan hanya tentang mainan baru dan siapa yang akan memelukmu lagi. Hal-hal seperti, siapa yang akan mendatangi pertemuan ayah di sekolahmu? Siapa yang akan kau ajak pergi di hari ayah? Siapa yang akan mencoba minuman fermentasi yang kau buat di hari eksperimen? Siapa yang akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Siapa yang akan menanggung biaya sekolahmu? Siapa yang akan memberimu dukungan dan menepuk bahumu untuk memberimu semangat di pagi hari sebelum kau mengerjakan sooneung? Lalu siapa yang akan membayar tuitisi saat kau di perguruan tinggi nanti?

Bahkan kau pernah berpikir, suatu saat nanti kau akan melemparkan lebih banyak kekhawatiran yang tidak semuanya bisa dijawab oleh hanya seorang ibu.

Dan untuk menerima Oh Sehun cukup sulit bagimu. Karena kau merasa belum cukup mengenalnya.

Kau tidak pernah tahu bagaimana cara menilai orang lain jika kau sendiri tidak mengenalnya. Kau, hanya seperti layaknya orang lain, tidak mungkin mempercayakan semua kekhawatiranmu pada orang yang tidak cukup kau kenal.

Hingga kau diberi kesempatan pada hari itu.

Hari yang kebetulan adalah hari ibumu dan ibu kandungmu berbagi ulang tahunnya.

Hari dimana ayahmu menyiapkannya sebaik mungkin.

Hari itu adalah hari dimana kau bisa mengenal seorang. Kau tidak tahu sebelumnya Oh Sehun mengenal ibu kandungmu. Kau tidak tahu kenapa calon ayahmu itu bertanya mengenai ibu kandungmu hari itu.

Tanpa sadar kau menilai Oh Sehun terlalu cepat bahkan sebelum kau berhasil mengenalnya.

Dia bukan orang baru lagi sekarang. Kau sudah cukup mengenalnya hari itu.

Hari itu kau mendapatkan tempat dimana kau bisa menumpahkan kekhawatiranmu. Menemukan seseorang yang sama seperti yang tersenyum bangga padamu saat kau berhasil menaiki sepeda kecilmu. Yang akan membelamu dan melindungimu saat kau berlari dan mengadukan padanya ada anak-anak nakal yang mengganggumu. Yang bertingkah konyol dan menghiburmu agar kau tertawa. Yang membelikanmu mainan dan makanan kesukaanmu. Yang tersenyum padamu saat dia membuka pintu rumah dan terlihat lelah berkerja. Seperti dulu.

Hari itu–walau terdengar bodoh–adalah hari dimana kau kembali menjadi gadis kecil seorang ayah.

Kau mengenalnya, Oh Sehun itu. Kau mengenalnya.

.

.

.

I’m gonna watch you shine
Gonna watch you grow
Gonna paint a sign
So you’ll always know
As long as one and one is two woo~
There could never be a father who loved
His daughter more than I love you

Father and Daughter – Paul Simon

***

Cont-

A/N

Lama ya? Nyahahaha

Soal mix album aku terinspirasi dengan ff kai/oc di AFF tapi aku lupa judulnya.

Soal Uno, aku masih pemula sebenarnya. Salam sayang sama teman-teman main uno-ku di kelas, walau aku pemula jangan lupakan daku pernah menang sekali u.u

Ini pre-finale, ngomong-ngomong. Maaf soal fluff yang kujanjikan ternyata gak muncul. Aku cut karena segini aja udah panjang amat. Besok deh di finale.

Keep RCL! xoxo

p.s : ngomong-ngomong seulgi red velvet cantik ya……. /toel-toel fansnya luhan /fansnya kyu /fansnya yesung/ ;3

Advertisements

5 thoughts on “Silent Problem #3 – Daddy’s Daughter

  1. AAAAAAAAAAAAAAA T-T dafuq kenapa aku baru sadar ff ini udah ada lanjutannya? Aku baca dari pertama chap 1 tapi berenti karna belum ada next chap dan kemudian aku lupa judul ff ini lalu niatan mau baca jadi terbengkalai (?) T-T but here i am. Just found again this fics an hour ago. Aku cinta banget sama ff ini. Sungguh. Entahlah. Aku sangat paham perasaan si sohee. Aku pernah seperti dia. Aku pernah mengalami takdir sohee. Dan mungkin sampai sekarang, aku masih seperti sohee. Bagaimana perasaan sohee terhadap sehun pertama kali, bagaimana sohee merasa sehun adalah orang baru, park jin hee adalah orang lain, kehilangan seorang ayah, mendapat ibu baru, mendapat ayah baru. I truly understand how it was when sohee got all those things above.

    Aku benar benar dapet feel nya x) Karena aku paham rasanya, didukung sudut pandang pake “kau” jadi aku bener bener merasa bahwa aku sedang bercerita pada diriku sendiri tentang bagaimana aku sebenernya. Aku sampe nangis bacanya (?) aku suka quotes di posternya. Aku langsung download lagu Father and Daughter nya Paul Simon itu hehe. How marvelous this story is. Love it. Terimakasih sudah menulis ff ini x)

    • aku bener bener gak tau gimana mau jawab komen kamu, aku juga jd terharu begini. Aku sebenernya g yakin waktu nulis ff ini, sbg author memahami karakter sohee sendiri sangat susah. Seneng rasanya bisa ada reader spt kamu yg bisa memahami sohee sebaik kita memahami diri kita sendiri. Terimakasih sudah mau mencintai ff ini. :’)

  2. Ga sengaja nemu ff ini, tertarik sama judulnya dikirain ff tentang broken home, tapi taunyaaa…. Fix suka bgt sm ff ini!:D

  3. sehun keren bangeeet
    sehun dewasa bangeeet
    sehun bedaaaaaa banget!!!
    ugh aku emang udah mulai curiga sama guru sehun itu yg karna ayah sohee jg diajarin sama ibu kandungnya sohee
    sedih banget ini fanfic daebak dehh! dan aku jg pengen dibikinin mix album hohoho
    semangat kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s