If I were You

Standard

IFIWEREYOU

Author : dafuns @sefinarf | genre: (maybe) surreal, romance, fluff, slight!angst | lenght : oneshot|rating : PG-13 |main cast : Kai EXO, Minzy 2NE1

 

 

 

 

Hari itu adalah saat dimana titik balikku terjadi.

Berkali-kali kuurungkan diriku membuka pikiranku sendiri terhadap kenyataan.

Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya akan terjadi jika aku menerima keadaanku. Walaupun terdengar baik melakukan hal yang seharusnya kau lakukan sejak awal, aku justru merasa akan mengalami hal buruk jika melakukannya.

Hari itu adalah titik balikku terjadi.

Aku seakan bersedia membuka kenyataan yang sebenarnya terjadi padaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah harinya. Hari ini. Minzy diam, berusaha menyemangati dirinya dalam hati. Dibiarkannya Kai bergerak malas. Mereka sedang ada di belakang rumah sekarang. Kai duduk termangu menatap rumput-rumput panjang sebelum akhirnya menarik kedua kakinya turun ke tanah. Posisinya mungkin masih duduk di pinggiran beranda, tapi Minzy yakin anak-laki-laki itu tengah berencana untuk segera beranjak.

“Kai, kau tidak akan pergi ke kelas hari ini bukan?”

Minzy merasakan bagaimana anak laki-laki itu menguap beberapa kali sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah berjanji padamu untuk tidak latihan.” jawab Kai.

Minzy tersenyum. Minzy tahu walau Kai sangat suka menari selayaknya orang yang menjadi gila karenanya, Kai tetap akan mematuhi perkataan Minzy. Lagipula ini beralasan jika meminta Kai berhenti latihan menari sehari saja. Anak laki-laki itu terlalu sering memforsir tubuhnya demi mencapai kepuasaan melatih gerak tarinya.

Sebenarnya Minzy tidak keberatan. Dia juga suka menghabiskan waktunya di kelas dan menari. Tapi, dia tidak suka diforsir. Minzy tahu dia dan Kai sama-sama berbakat dalam hal itu. Api, menurut Minzy, karena hal dia kira tidak perlu mengikuti jadwal ketat yang tidak ada gunanya selain membuat badan pegal. Kai mungkin lebih bersemangat darinya. Tapi, Minzy selalu berpikir anak laki-laki itu terlalu berlebihan dalam latihan.

Jadi sehari sebelumnya Minzy pesan agar Kai berhenti sehari saja. “Lakukan apa saja asalkan jangan menari hari ini.” Sekali berkata begitu, Kai hanya bisa menurut.

Kai tidak pernah tidak patuh pada gadis kesayangannya.

“Kau tahu? Aku merasa kalau aku lebih takut untuk melanggar janjiku padamu daripada merasa takut dibentak ibuku sendiri,” jawab Kai dengan setengah membuka matanya. Minzy merespon dengan dengusan sebal.

“Lucu sekali bercandamu hari ini.” komentar Minzy. Dia kesal, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Percuma kesal jika dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan kebiasaan Kai menyebut-nyebut ibunya.

“Kalau kau tidak berangkat. Lalu untuk apa sepatumu kau cuci? Jelas bukan tanpa alasan kau mencuci sepatumu. Sepatu itu tidak pernah dicuci bahkan sejak kau lahir, aku heran kau akan melakukan keajaiban dengan mencucinya jika benar-benar tidak ada hal yang penting.” seloroh Minzy mengajukan hal yang mengganggunya sedari tadi. Gadis itu menekuri tetesan air sabun yang berasal dari ujung-ujung tali sepatu Kai. Nampak jelas kalau sepatu Kai yang tercuci adalah pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dan apa pula itu? Minzy mengernyit heran saat matanya menangkap gerakan tangan Kai yang mengayunkan sepasang kaos kaki dengan gaya tidak tahu diri khas anak laki-laki itu.

“Wow, pasti kau habis membobol bank atau membunuh nenek tua tetangga sampai tiba-tiba berubah begini. Ada apa?”

“Aku mau kencan.”

Minzy mengangguk datar lalu menahan bunyi perutnya yang kelaparan, kalau pun itu bisa dilakukan seorang anak manusia.

Entah, ya. Minzy tidak pernah dengar Tuhan memberi kemampuan manusia mengontrol isi perutnya. Atau mengontrol jumlah kapasitas tepatnya udara yang bisa dihirup. Sedekat ini dengan tubuh sendiri, manusia bukan apa-apa karena mereka bahkan tidak bisa mengatur apa yang ada dalam dirinya.

Termasuk mengatur seberapa rasa marah dalam hati Minzy ketika mendengar kata ‘kencan’ disebutkan. Minzy yakin dia tidak bisa mengatur emosinya sendiri. Dia hanya berharap bisa menahannya untuk saat ini.

“Dengan siapa?” tanya Minzy. Atau seharusnya dia tidak usah bertanya. Bukan caranya berpura-pura antusias jika dia memang tidak. Ini payah, kalau sudah menyangkut perasaan.

“Kau pura-pura tidak tahu, ya?” goda Kai. Masih dengan nada setengah malas. Minzy sadar anak itu bangun terlalu awal hari ini. Oke, bangun jam setengah satu siang.

Dalam hati Minzy heran gadis mana yang mau diajak kencan dengan laki-laki yang bangun sesiang itu? Tapi lalu Minzy memilih diam saat sadar dia sendiri adalah gadis bodoh itu. Hanya saja Minzy tidak yakin ada yang lain yang sebodoh itu selain dirinya.

“Siapa pun itu, apa dia tahu kalau kau bangun setengah satu siang hari ini? Maksudku, gadis itu pasti kehilangan kewarasannya dengan bersedia mengencanimu.” ujar Minzy. Acuh tak acuh.

Kai sendiri tertawa mendengarnya.

“Yah, tapi dia tetap kencan denganku.”

“Karena dia tidak tahu orang yang dia kencani sangat bau dan pemalas seperti kukang.”

“Kau ini menghina siapa?” seru Kai setengah tertawa. Menelengkan kepalanya saat gadis yang diajaknya bicara itu langsung diam.

“Kau suka aku, ya?” tanya Kai tiba-tiba. Atau terlalu tiba-tiba. Sialnya kalimat tanya itu disebutkan dengan masih setengah tertawa. Tapi, karena tidak sampai hati, Kai putuskan untuk menghentikan tawanya. Bagaimanapun bukan cara Minzy untuk memilih menutupi perasaannya. Mungkin gadis itu terlalu naif. Atau dia terlalu pintar untuk membiarkan perasaannya terus bersembunyi.

“Kau suka aku, kan?” ulang Kai. Kali ini lebih terdengar tidak butuh jawaban.

“Kau suka aku.” tegas Kai.

Masalahnya siapa itu kau. Siapa itu aku.

“Jangan bilang pada ibu, kalau kau meracau lagi.” bisik Minzy kesal.

“Dia bukan ibumu.” protes Kai. Minzy mendelik. Anak laki-laki itu..

“Dia yang menciptakanku!” Kai diam.

Kalau Minzy adalah benar sebuah raga yang utuh. Seorang manusia, bukan hanya sebuah kepribadian. Kalau saja. Mungkin Kai akan memeluk gadis itu dan menepuk punggungnya lembut. Menenangkan Minzy demgan mengelus rambut jet hitam sebahunya yang selalu dibayangkan Kai dimiliki gadis itu.

“Manusia tidak bisa menciptakan kepribadian.” ucap Kai berusaha memberitahu.

“Lalu aku ini dari apa?” bisik Minzy. Sejak tadi suara gadis itu terdengar lebih inferior. Untuk beberapa alasan Kai merasa dirinya harus merasa khawatir karena hal itu.

“Kau tahu, Minzy. Kau kenal siapa dirimu.” bisik Kai. Semata-mata dia tidak ingin kepribadiannya terlalu mendominasi. Walau sejak awal memang Kai yang paling bisa mendorong Minzy keluar dari tubuhnya. Ya, karena ini tubuhnya. Ini tubuh Kai yang memiliki dua kepribadian di dalamnya.

“Aku tidak tahu apa-apa. Aku bangun sebagai bagian dari dirimu.”

“Kau salah.” Minzy tidak menjawab lagi. Kalau saja dia bisa menatap wajah Kai secara langsung, mungkin dia tidak bisa menahan untuk menamparnya tepat di pipi anaak laki-laki itu. Tapi, Minzy segera sadar kalau dia bahkan tidak punya tangan. Minzy hanya sebuah kepribadian minor yabg terjebak dalam tubuh anak laki-laki yang kebetulan dia sukai.

Kalau saja bisa, Minzy pasti sudah akan menangis dengan mata Kai. Tapi, dia lebih tahu, demi apa pun, Kai tidak akan membiarkan matanya sendiri basah karena air mata. Kai tidak mungkin menangis, dia anak laki-laki.

Kadang pun Minzy tidak paham bagaimana bisa dia terima untuk terlalu sering mengalah dalam hal mengekspresikan perasaan.

Itu Kai yang tertawa di depan teman-temannya. Itu Kai yang berdebar dan jatuh cinta pada gadis pujaannya di kelas. Itu Kai yang ramah pada siapa saja.

Tapi, di dalam sana. Ini ada Minzy. Yang ingin menangis dan merasa kesal karena harus menahan emosinya seharian penuh.

Ini Minzy yang selalu merasa kasihan pada dirinya sendiri.

Ini Minzy yang selalu mengalah.

Kai mungkin tahu itu, pikir Minzy. Makanya anak laki-laki ini selalu membiarkan Minzy mengambil alih setiap kali tubuhnya sedang sendiri.

“Menangislah sekarang. Tidak apa-apa.” bisik suara Kai. Digenggamnya tangan kirinya dengan tangan satunya lagi. Dengan ini Kai membayangkan dia tengah menggenggam tangan gadis dalam tubuhnya itu. Minzy tidak menjawab, kalau Kai ingin pribadi Minzy mengambil alih setiap anak laki-laki itu sendiri. Minzy hanya ingin mengekspresikan rasa sukanya pada Kai. Hanya itu saja. Dn itu sudah mewakili semuanya.

“Aku suka kau.” bisik Minzy. Kai diam saja.

“Kau tidak suka aku.” bisik Minzy lagi.

“Aku juga suka kau.” balas Kai. Mengharap Minzy percaya kata-katanya. Tapi, Minzy bukanlah gadis yang berpikir seromantis itu, dan Kai tahu kata-katanya itu ditolak logika Minzy mentah-mentah.

“Tidak, oke? Kau suka Krystal, gadis yang kau ajak kencan,” tuduh Minzy. Nafasnya memburu dan Kai tidak keberatan untuk membiarkannya begitu. Kai mengalah dari Minzy jika tidak ada orang.

“Kau tidak pernah mengajakku kencan..”

“Minzy..”

“Tentu saja karena kau tidak bisa mengencani tubuhmu sendiri.” ujar Minzy getir. Lalu tertawa. Minzy bisa merasakan suara tawanya tanpa andil suara Kai sama sekali. Minzy tahu pribadi Kai menolak tertawa bersamanya. Minzy tahu Kai berpikir hal seperti itu tidak untuk ditertawakan.

Minzy menghirup udara musim panas sore itu. Sore itu di belakang halaman rumah Kai.

Dua kepribadian dalam satu tubuh adalah seperti kembar siam. Kalian ada dua. Tapi kalian hanya punya satu hidung, satu mulut, dua mata, dua telinga. Semua organ untuk satu kepribadian. Kepribadian yang lain hanya mengganggu dengan menumpang saja. Menunggu kapan tepatnya si kepribadian minor bisa mengekspresikan emosinya lewat tubuh tumpangannya. Tapi Minzy tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Menurutnya, kalau Tuhan bahkan tidak memberikan kemampuan mengontrol emosi dengan baik kepada manusia. Bagaimana bisa Minzy, yang hanyalah sebatas kepribadian saja, dapat melakukannya?

Jadi Minzy putuskan untuk tidak menunggu lagi. Dia tidak ingin menumpang. Dia tidak ingin tetap hidup dengan keegoisannya. Minzy merelakannya untuk Kai. Karena Kai tidak butuh Minzy. Selama ini Minzy yang membutuhkan Kai. Tapi, sekarang ini Minzy merasa sudah cukup.

“Kai, kau butuh seorang gadis. Katakan perasaanmu pada Krystal di kencan nanti.” ujar Minzy. Kai tidak bisa untuk tidak membelalakan matanya terkejut. Kai bisa merasakan matanya memanas dan hatinya terasa sangat lega. Tapi, Kai yakin itu bukan perasaannya. Itu perasaan Minzy yang ada dalam tubuhnya. Kai terduduk tegak di pinggir beranda belakang rumahnya. Menatapi bagaimana burung-burung menyapa musim panas. Kai senang telah memberi kesempatan Minzy menyaksikannya.

“Kau membiarkan kita berbagi terlalu lama,” lanjut Minzy. Angin musim panas membuat rambut cokelat Kai menari-nari. Andai saja Kai bisa melihat rambut sebahu Minzy ikut berhembus. Kalau saja…

“Karena itu kau membuatku menjadi semakin menyukaimu..”

Tapi, Minzy tidak ada.

“Aku menyukaimu.” Kai menutup matanya saat air mata itu mengalir. Air mata Minzy. Satu-satunya yang murni milik Minzy dalam tubuh Kai. Satu-satunya yang ditinggalkan Minzy sebelum gadis itu pergi.

“Aku lebih dari itu, Minzy. Aku memujamu,” bisik Kai di sela tangisnya.

Itu adalah salam perpisahannya. Untuk Minzy. Kendati Kai masih ingin berbagi dengannya.

Gadis itu sudah pergi.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kau tahu apa yang terjadi pada Kai?” Krystal mengernyitkan keningnya saat menatap wajah serius Sehun di depannya.

Kafe dimana mereka berada sekarang adalah tempat dimana Kai memintanya bertemu. Tapi, setelah menilik jam tangannya, Krystal tidak yakin anak laki-laki itu akan memenuhi ajakan kencannya.

Untuk beberapa saat gadis itu bungkam, tapi Krystal tidak bisa terus begitu saat sekelebat ingatannya menampilkan Kai berbicara dengan suara wanita dua minggu lalu. Krystal tidak sengaja mendengarnya, kejadian itu membuatnya terlejut. Dan Krystal yakin sampai sekarang pun dia tidak bisa memahami pendengarannya saat itu.

Kai berbicara bagaikan orang lain yang ada di dalam tubuhnya. Krystal melihat sendiri, mendengarnya sendiri, Jadi Krystal mengangguk. “Ya, aku tahu,”jawabnya.

Sehun menyeruput sodanya sembari mengangguk kecil.

“Betul. Kau memang bukan tipe gadis yang akan melupakannya dan menganggapnya sebagai hal lalu begitu saja. Jadi, kau mencari tahu?” tanya Sehun memastikan.

Sehun adalah sahabat Kai sejak lama. Anak laki-laki itu tiba-tiba saja datang saat Krystal menunggu Kai. Bukan masalah besar bagi Krystal untuk mengobrol apalagi Kai tidak kunjung datang. Tapi, setelah mendengar pertanyaan Sehun, Krystal yakin sahabat Kai itu punya urusan lain untuk dibahas bersamanya. Sehun jelas tidak ingin gadis yang disukai sahabatnya bahkan tidak tahu menahu apa-apa soal masalah Kai.

Jadi, Sehun segera tersenyum puas saat Krystal menganggukan kepalanya sekali lagi.

“Aku mencari tahu,” Krystal menekuri lantai kafe yang bermotif awan lucu, sebelum pada akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan pandangan memberitahu, “Hingga aku tahu semuanya. Semua.”

Sehun mengernyit dan mengangkat bahunya santai saat mendengar pengakuan Krystal. “Yah, kita masih harus memastikan semua yang kau tahu sekarang adalah benar,” ujar Sehun.

Krystal mengawasi Sehun. Mau tidak mau dia merasa diinterogasi. Ya, Krystal agaknya membuat pikirannya melantur tidak jelas setelah dia mengetahui semua masalah Kai, Krystal kebingungan.

Benar, jika Krystal menyukai Kai. Tapi, apa yang ditemukannya soal anak laki-laki itu membuatnya tidak percaya sekaligus kebingungan.

“Jadi Krystal. Kalau kau memang tahu, kenapa Kai bisa begitu? Kenapa dia punya dua kepribadian dalam tubuhnya?”

“Karena ibunya.” jawab Krystal cepat. Gadis itu memandangi teh hijaunya sebentar. Menimbaang-nimbang untuk kembali melanjutkan.

“Aku tidak tahu. Tapi, nyonya Kim sebelum meninggal sangat terobsesi dengan kepribadian dalam tubuh Kai. Beliau memperlakukan Kai sebagai dua orang, dan beliau jelas menyayangi kepribadian lain yang bukan Kai.” Krystal mengernyit untuk menimbang lagi apakah kata-katanya barusan masuk akal. Tapi, dia segera mengangkat bahunya. Yah, bagaimanapun cerita ini tidak pernah terdengar masukakal baginya.

“Lalu?” tanya Sehun lagi. Krystal mengangkat kepalanya, gadis itu mengigiti bibir bawahnya.

“Nyonya Kim dirawat di rumah sakit jiwa karena hal ini. Dia kehilangan kewarasannya. Tapi, orang-orang di sekitarnya tidak tahu kalau Kai sendiri terpengaruh perilaku ibunya.” Krystal lalu diam. Krystal tidak percaya dia sendiri bisa menjelaskan ini. Apa yang dijelaskannya sendiri barusan bahkan masih terdengar mustahil baginya. Krystal belum sadar benar, saat Sehun mengajukan pertanyaan berikutnya.

“Lalu siapa kepribadian lain di tubuh Kai ini? Kenapa Kai memilih untuk tidak mendorong kepribadian ini segera keluar dari tubuhnya dan melupakan kepribadian itu segera setelah dia menjalani rehabilitasi dua minggu lalu?” Sehunterdiam sebentar menatap Krystal. Gadis cantik itu mengangguk menandakan dia juga tahu soal Kai yang ikut terapi kejiwaan sejak dua bulan lau.

“Kenapa Krystal? Kenapa Kai tidak segera bertindak segera setelah dia sadar dua kepribadian dalam satu tubuh adalah salah? Segera setelah dia tahu dia bisa dengan mudah membuang kepribadian lainnya?” seloroh Sehun cepat. Sehun tahu dia terlalu antusias untuk mendengar jawaban krystal. Dia terlalu antusias untuk membahasnya dengan seseorang lain yang sama tahunya soal masalah Kai.

Maka dari itu ketika Krystal tak kunjung menjawab, Sehun terpaksa mendorong gadis itu untuk melakukannya.

“Kenapa?” bisik Sehun mengintimidasi. Krystal tidak langsung menjawab. Gadis itu bingung. Bukan karena dia tidak tahu jawabannya. Tapi, karena Krystal enggan mengatakannya.

“Karena..” Krystal mengawasi mata Sehun yang menuntutnya untuk melanjutkan kalimatnya. Krystal menghela nafas. “Karena kepribadian ini adalah Minzy. Saudara kembar Kai yang meninggal saat umur mereka masih empat tahun.

Krystal tidak menatap ekspresi puas Sehun.

“Kai.. dia memuja sosok Minzy yang selalu sempurna di mata ibunya. Sudah kubilang, orang-orang rumah sakit 15 tahun lalu, mereka tidak pernah tahu betapa Kai juga terpengaruh perilaku ibunya.”

Sehun mengangguk. Anak laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan meja.

“Kau tahu semuanya dengan benar. Sekarang aku akan beritahu potongan yang terakhir padamu.” Krystal mengernyit. Apa ini yang dimaksud Sehun?

Sehun tersenyum dan mendorong gelasnya maju. Dia mendekatkan kepalanya kearah Krystal untuk berbisik.

“Minzy meninggalkan tubuh Kai hari ini. Jadi, kau tidak perlu menunggu Kai memenuhi janji kencannya. Karena dia tidak akan datang.”

 

 

 

 

 

 

 

Hari itu adalah titik balikku terjadi.

Kau pergi dari tubuhku. Kau adalah sosok yang kupuja. Yang membuatku iri.

Siapa kau. Siapa aku. Kita berbeda, dan selama ini aku tidak pernah mau tahu itu.

Kalau saja. Kalau saja aku adalah kau.

Dan kau adalah aku, Gong Minzy.

 

 

 

 

Kkeut

 

A/N

LOL

Aku gak pernah nulis yang beginian deh. Aku merasa gagal .__.

Kalau ada yang bingung ya sudah /akupasraaaah/

Tapi aku cukup puas udah menuliskan cinta segitiga Kai-Minzy-Krystal

Dan segi empat mungkin. Siapa tahu Sehun mau ikut ngeksis XD

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s