Silent Problem #2 – That’s Old and Fate

Standard

Silent Problem – That’s Old and Fate

silent problem-fate

Author : saynae @sefinarf | genre: family, romance | lenght : chaptered |rating : PG-15 |main cast : You, OC, Oh Sehun

 

Dia tidak berkhianat pada siapa pun. Takdir yang membawanya.

.

 

.

.

.

.

Takdir setiap orang sangat aneh.

Kadang kau mendengar cerita-cerita seperti seorang anak yatim piatu yang jatuh cinta dengan seorang donatur panti asuhan yang rupawan. Lain waktu ada cerita dimana seseorang menikahi sahabat masa kecilnya. Lalu ada seorang lain yang harus menelan rasa sakit yang mendalam karena belahan jiwanya meninggalkannya sendiri untuk selamanya. Hebatnya terkadang cerita-cerita seperti itu disetujui Tuhan untuk menjadi takdir hidup seseorang. Dan tidak jarang kau mendapati dirimu tidak mengerti.

Takdir yang ada di hadapanmu terlalu aneh bagimu. Dan lagi, kau tak pernah kunjung paham.

“Ibu..” bisikmu di sela sarapan pagi hari ini yang kelewat hening. Dengan diam, kau menatap selai di atas rotimu. Kau tidak berniat memakannya. Hanya ada ibumu di sisimu pagi ini. Menemanimu sarapan. Ini jarang sekali terjadi. Dan kau setuju pada dirimu untuk membuat ibumu senang dengan memakan sarapanmu. Karena mungkin besok pagi ibumu tidak bisa menemanimu karena pekerjaan.

Kau menghela nafas. Dulu kau sangat dekat dengan ibumu. Kalian seperti sahabat. Bahkan kau bisa bilang kau tidak butuh Sulli kalau ada ibumu. Kau terbiasa menceritakan apa saja kepada ibumu. Tapi, itu sudah lama sekali. Saat-saat seperti itu adalah saat sebelum ayahmu meninggal. Dan itu memang sudah lama sekali.

“Ada apa, Sohee-ya? Kau ingin selai cokelat lagi?” tanya ibumu lembut dari balik pantry. Kau mengawasi punggung ibumu dari meja makan. Dan seperti dilempar dengan sekali hentakan, kau mengingat saat-saat dimana kalian, kau dan ibumu, menjadi sangat dekat dari hari ke hari. Kau di balik meja makan dan ibumu terpaksa menggoreng telur karena kau tidak suka makan roti kacangnya.

Kau masih mengingatnya seakan semua itu baru terjadi kemarin. Dan pagi ini seakan hanyalah pagi biasa yang hangat dan menyenangkan dimana kau masih memiliki ayahmu yang sangat kau cintai. Di pagi biasa dimana kau tidak merasa seperti seorang anak perempuan tanpa kasih sayang seorang ayah.

Kau tersenyum getir. Apa yang kaulakukan sekarang? Mengasihani dirimu sendiri?

“Ibu.. aku ingin minta maaf tidak pulang kemarin,” bisikmu. Terlampau pelan tapi kau yakin ibumu mendengarnya dengan baik. Kau mengawasi gerak ibumu yang stabil di balik pantry. Setelah tidak ada respon, kau putuskan untuk tidak bicara lagi dan meminum susu cokelatmu.

Siapa yang kau bohongi sebenarnya?

Kau jelas tahu kalau bukan itu yang ingin kaukatakan. Ibumu pun tahu.

“Tidak apa-apa.” Kau menghentikan gerak tanganmu. Hati-hati, kau mengawasi ibumu yang membalikkan badannya menatapmu. Lalu kau melihat seorang wanita cantik disana. Dengan dress rumahannya yang sederhana berwarna ivory. Ibumu terlihat sangat cantik bahkan dengan rambutnya yang terikat sembarang keatas. Kau menatap matanya yang sangat gelap dan hitam.

Diam-diam kau membayangkan bagaimana ayahmu dulu sangat mencintai wanita ini. Betapa ayahmu selalu memeluk ibumu dulu, dan mengatakan beruntungnya memiliki seorang wanita sepertinya. Lalu kau melihat Oh Sehun yang juga merasakan hal yang sama seperti ayahmu rasakan pada wanita cantik ini. Dalam bayanganmu, kau mencoba menebak bagaimana Oh Sehun terkalahkan akan ibumu.

Dan ini dia.

Kau merasa asing dengan sosok ini. Sosok wanita di depanmu ini terlihat asing. Seorang wanita yang membuat ayahmu jatuh cinta. Dan wanita lain yang membuat Oh Sehun jatuh cinta. Kau merasa dua wanita ini berbeda.

Wanita ini, yang menggenggam hati Oh Sehun, bukanlah ibumu. Adalah orang lain. Dia bukan ibumu saat itu. Dulu.

“Kau mau kubuatkan telur daripada roti itu, sayang?” tawar ibumu lembut. Kau tersenyum kearahnya. Dengan senyum tulusmu kau mengangguk bersemangat.

Lalu ibumu, wanita yang membuat ayahmu jatuh cinta, ada di dalam sana. Jauh di dalam sana. Di dalam wanita ini.

“Tentu saja, ibu.”

.

.

.

.

.

Kau menutup pintu mobil di sampingmu. Mengangguk kearah ibumu di kursi pengemudi, kau bilang kau sudah siap untuk berangkat. Ketika mesin mobil dihidupkan, kau tidak bisa untuk tidak mengingat mobil Pocari keluaran 1998 dan pengemudinya yang mengantarkanmu pulang kemarin.

Mengingatnya lagi membuatmu ingin bertanya.

“Apa Oh Sehun tidak ikut?”

Kau melihat alis ibumu berkerut saat mendengar pertanyaanmu. Lalu ibumu terkekeh dan melirikmu sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus dengan jalan di depan.

“Kukira kau tidak suka Pocari. Tapi, sepertinya ibu salah,” ujar ibumu dengan nada bercandanya. Kau tidak menyembunyikan dengusanmu saat ibumu berkata begitu.

Kukira kau tidak suka Oh Sehun. Tapi, sepertinya ibu salah. Bagimu kata-kata ibumu lebih terdengar seperti itu.

“Aku tidak suka Pocari. Seperti dugaanku, mobil itu bertingkah sama seperti umurnya.” Jawabmu cepat.

Nah, ini dia. Perang argumentasi antara ibumu dan kau. Kalian tidak pernah saling membentak. Dan bertengkar, seperti kebanyakan gadis remaja dan ibu lainnya. Kalian mengumbar kalimat sinis lewat keahlian kalian mengumpamakan sesuatu. Bagi orang lain yang melihatnya, mereka akan berpikir kalian sedang membicarakan hal sepele. Seperti sekarang ini, membicarakan sebuah mobil Pocari. Tapi, kalian berdua tahu subyek yang kalian bicarakan lebih dari itu.

Walau aneh untuk mengakuinya, tapi sebenarnya ini menyenangkan bagimu. Kadang kau mengabaikan topik sensitif di balik perumpamaan kalian. Kau lebih menikmati caramu dan ibumu kembali melakukannya lagi. Setelah sekian lama.

Dalam hatimu, kau senang bisa menghabiskan waktu bersama ibumu lagi.

“Sama seperti umurnya, huh?” tanya ibumu. Berbicara lagi setelah melajukan mobil kalian yang baru saja turun ke jalan besar.

“Bagaimana dengan pemiliknya? Apa dia bertingkah sama sesuai umurnya?” tanya ibumu. Kau memberinya tatapan mengadili. Itu curang kalau mengangkat subyek yang sebenarnya ke permukaan. Ibumu kalah dalam permainan perumpamaan kali ini. Tapi, kau lebih merasa kalah karena tidak bisa menjawabnya.

Oh, please. Semua orang tahu kalau Oh Sehun bertindak tidak sesuai umurnya. Dia lebih dewasa. Dan walaupun kau mengakuinya dalam hatimu. Tapi, kau enggan mengatakannya secara oral.

“Kurasa yang sedang kubicarakan adalah mobilnya.” Ujarmu kemudian. Menutup permainan.

“Kau benar.” Jawab ibumu. Sambil terkekeh. Dalam hati kau menyesal membicarakan Oh Sehun. Calon ayahmu itu ternyata sangat merepotkan jika diangkat sebagai topik pembicaraan.

Selama sisa perjalanan. Kau dan ibumu berbicara banyak hal. Bukan Oh Sehun. Karena kau terlanjur tidak mood. Syukurlah ibumu sekarang sedang dalam mode sebagai sahabatmu. Alih-alih bertingkah sebagai sorang ibu yang ingin anaknya membicarakan calon ayah yang mengagumkan, ibumu bertingkah seperti sahabatmu yang mendengar dan membahas apa saja yang sedang ingin kau bicarakan.

Kalian bicara soal Milo yang hilang, soal Kim Myungsoo INFINITE yang semakin tampan, soal WINNER yang akan debut (dan ibumu mengerang karena ini membuatnya mengingat Hanbi dari tim B), soal es krim jelly terbaru (kali ini kau yang mengerang karena belum mencoba yang rasa stoberi, dan ibumu mengaku telah membelinya di minimarket di dekat kantornya), dan terakhir soal Sulli dan pacarnya yang baru saja putus.

“Aku bahkan belum melihat Kang Seungyeon ini. Apa dia baik?” tanya ibumu. Kalian baru saja memulai perjalanan lagi setelah berhenti di sebuah minimarket di pinggir jalan. Mencari es krim jelly stroberi atas permintaanmu. Sayang sekali persedian di minimarket itu habis. Rasanya pasti enak dan terjual laris sampai kau kehabisan begitu.

“Dia baik. Suaranya bagus. Dan menurutku dia tampan. Walau masih tampan Jiyong oppa sih, pacar Sulli yang sebelumnya. Tapi, ibu tahu tidak? Sulli tidak menangis saat putus dengan Seungyeon. Dia bilang dia memang tidak tertarik Kang Seungyeon sejak awal. Dan ibu tahu lagi? Sebenarnya Krystal yang suka Kang Seungyeon.” Kau membisikan kalimat terakhirmu. Dan ibumu memekik seperti gadis remaja seusiamu saat mendengar ini. Dan kau tidak memungkiri kalau ibumu memang masih cocok bertingkah sebagai remaja seusiamu.

“Krystal? Krystal… Jung Krystal? Wow, ibu kira dia suka anak laki-laki lain di kelasmu. Siapa nama anak laki-laki itu… Kim Jongin?”

Dan ekspresimu seketika berubah. Mendadak kau merasa kesal.

“Krystal dulu memang suka Jongin. Mereka pernah berkencan. Tapi, itu dulu sekali.” Ujarmu. Membicarakan Kim Jongin selalu membuatmu ingin memukul wajahnya yang seperti menari-nari dalam pikiranmu.

“Benarkah? Menurut ibu, Krystal dan Jongin sangat serasi.” Celetuk ibumu. Kau merasakan mukamu memanas.

“Kalau ibu mengenal Kang Seungyeon, ibu akan bilang kalau Krystal dan Seungyeon lebih cute. Mereka bahkan pernah bermain sebagai pasangan bersama di teater sekolah tahun lalu,” ujarmu. Tepat setelah itu kau merasa bodoh telah mengatakannya. Terlebih setelah itu, ibumu terdiam beberapa detik sebelum benar-benar berbicara lagi.

“Kau suka seseorang?” adalah kalimat ibumu yang dilontarkannya tiba-tiba. Kau mendelik dan segera menatap kearahnya. Walau tatapan ibumu fokus ke depan. Kau bisa melihat senyuman kecil disana. Dan kau merasa diejek oleh senyuman itu.

“Tidak. Tentu saja.”

“Apa Kim Jongin menyukai seseorang?”

Kau melempar pandanganmu keluar jendela mobil.

“Tentu saja! Dia suka teman sebangkunya. Namanya Byun Baekhyun. Dan kurasa mereka pacaran.” Ujarmu asal.

“Byun Baekhyun tidak terdengar seperti nama seorang gadis bagi ibu.” Kau merasakan tatapan menggoda ibumu mengawasi punggungmu. Jadi, kau menolak untuk berbalik.

“Memang tidak.” Cetusmu cepat. Oke, kaurasa itu sudah jelas bagi ibumu untuk tidak membahasnya lagi. Kau ingin ibumu tidak melanjutkan. Dan secara ajaib, ibumu benar-benar tidak melanjutkannya lagi. Ibumu hanya tertawa dan kalian diam berdua terdiam setelahnya.

Kau mengawasi jalanan di sisimu dalam diam. Ibumu menyalakan radio dan kau berkali-kali mengganti salurannya. Tapi, kalian tidak bicara lagi saat sebuah intro musik mengalun di tengah keasyikanmu mengganti saluran. Sebuah lagu yang membuatmu puas dan segera kembali menyandarkan punggungmu. Ibumu memujimu karena memilih lagu yang tepat setelah akhirnya kalian berdua kembali diam. Mendengarkan lagunya.

Urban Green.

“Hei, kita sudah semakin dekat.” Seru ibumu hangat. Kau mengangkat kepalamu dan menangkap apa yang dimaksud ibumu saat melihat keluar. Padang rumput (atau apapun itu kau menyebutnya) dengan gunung-gunung kecil dan rumput dan beberapa pohon yang jarang. Dan rumput lagi.

Dan kau tidak bisa menahan dirimu untuk tidak menurunkan kaca mobil dan menghirup aroma musim panas. Udaranya segar. Dan masih sama.

Lalu kau mendengar suara lembut bersenandung di sisimu. Ibumu menyanyikannya.

“Ibu… apa ibu rasa Lim Kim mendapatkan ide Urban Green setelah datang kesini?” bisikmu. Setengah bercanda.

“Lim Kim tidak menciptakan lagunya, sayang. Dia mungkin hanya menyanyikannya.”

Kau tertawa. Lalu kau melihat kembali padang rumput yang luas di luar. Dari tempatmu sekarang seakan kau merasa padang rumput itu tidak memiliki akhir. Kau membayangkan berlari disana dan menuruni bukit-bukit kecil. Menelungkup di lembahnya. Mendengarkan rumput kecil bercerita bagaimana dia tumbuh liar ditemani tanah yang basah dan lembut. Kau tidak akan menjerit kalau ada cacing tanah yang akan menyembul keluar dari sela-sela tanah yang gembur. Karena mungkin dia juga akan bercerita bagaimana menyenangkannya hidup di bawah tanah.

“Ibu… menurut ibu apa yang akan ayah lakukan disana?” bisikmu. Kau tidak mengalihkan pandanganmu dari padang rumput untuk menunggu jawaban ibumu. Kau mendengar sebuah helaan nafas. Kau mengira ibumu sudah kalah dengan air matanya sekarang.

“Ayahmu… dia akan berlari.”

.

.

.

.

Kau melangkahkan kakimu ke undakan-undakan batu. Kauangkat agak tinggi lili putih di tanganmu agar tidak mengganggu lututmu saat memanjat naik ke atas. Di depanmu, ibumu membawa serangkai baby’s breath yang selalu dia bawa setiap kali kesini.

“Sama seperti saat ibu dan ayah menikah.” Jawabnya dulu saat kau bertanya kenapa membawa baby’s breath ke pemakaman. Setelah itu kau tidak pernah bertanya lagi.

Kau tidak tahu. Tapi, dalam hatimu kau merasa senang dan lega. Kau sebenarnya tidak banyak berharap kalau ibumu masih akan membawa bunga pernikahan itu saat ini. Maksudmu, yah, ibumu akan segera menikah lagi. Tapi sebagai seorang anak, kau tetap punya perasaan dimana kau tidak ingin ayahmu digantikan oleh pria lain.

“Kita sampai. Bisik ibumu. Dia mungkin memang mengatakannya untuk memberitahumu, tapi kau merasa seperti ibumu mengatakannya pada orang lain diantara kalian berdua.

Ibumu memberitahu ayahmu. Dan kau tersenyum karena memikirkannya. Kau tidak sedang menangis, kau tidak pernah bisa menangis di sini. Sebaliknya, kau merasa sangat hangat. Kau rindu ayahmu. Kau rindu tempat ini.

Makam ayahmu ada di salah satu bukit di pemakaman itu. Disana ada sebuah pohon mahogani. Pohon itu tidak terlalu tinggi. Tapi, batangnya besar. Saat masih kecil dulu kau pernah melingkarkan tanganmu disana. Dan seperti dugaanmu, kau bahkan tidak bisa menggapai ujung-ujung jarimu sendiri.

“Jeonmyeon-ie Oppa”

Kau berdiri mengawasi ibumu menyapa ayahmu di pembaringannya. Kau tidak berjalan mendekat. Kau mengawasi ibumu. Kau mengawasi apakah yang dilakukannya sama seperti dulu. Sama sepertimu, kau tidak pernah melihat air mata di sepasang manik gelap itu. Tapi, kau melihat hal lain.

Kau merasa dihentakan oleh sebuah kekuatan besar. Kau merasa pikiranmu terganggu. Sejak pagi ini kau seperti melihat hal lain setiap kali menatap mata itu.

Penuh cinta. Tapi, bukan itu.

Kau melihat orang lain. Lagi-lagi. Seperti pagi ini.

Bukan ibumu yang duduk disana di samping makam ayahmu. Bukan ibumu yang menatap penuh cinta nisan ayahmu. Bukan ibumu disana. Orang lain.

Sama seperti 13 tahun lalu. Dia bukan ibumu.

Dia orang lain.

Yang dibawa ayahmu ke dalam kamarmu saat umurmu 6 tahun. Seorang wanita muda yang tidak kau kenal. Seorang wanita muda yang cantik dengan matanya yang gelap. Matanya yang berbeda denganmu.

Seorang wanita muda yang terlihat kesepian. Kau memeluknya setiap malam karena kau ingin menemaninya. Dia mengusap rambutmu dengan sayang karena dia juga bisa melindungimu sepenuhnya dengan perhatian seorang ibu. Kalian menjadi dekat dari hari ke hari.

Ayahmu mengenalkan seorang ibu. Sosok yang sejak lahir tidak pernah dihadirkan dalam hidupmu.

Ayahmu mengenalkannya. Lewat sosok Park Jinhee. Walau dia orang lain. Tapi, dia orang lain yang sangat kausayangi.

Kau tidak pernah marah padanya, seperti dia tidak pernah marah padamu. Sebagai seorang anak, kau punya perasaan dimana kau tidak ingin ayahmu digantikan oleh pria lain. Tapi, kau tidak bisa marah. Karena dia orang lain. Dia bukan ibumu jadi kau tidak bisa mengekangnya. Dia bukan ibumu, walau pun kau mengenalnya sebagai sesosok ibu. Tapi, kau merasa kalau kau tidak bisa menahannya.

Ibumu juga bisa mendapatkan kebahagiaannya. Dia boleh.

Jadi, kau tidak marah akan pernikahannya.

Dan kau tidak merasa dikhianati dengan pernikahannya. Karena kau melihatnya sekarang.

Kau masih berdiri dan tidak mendekat sama sekali. Kau melihat ibumu menaruh bunga pernikahan itu di makam ayahmu. Menciumi nisannya dan berbisik pelan-pelan. Kau mendengar bisikannya yang membuktikan padamu sesuatu.

Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak akan memakai bunga ini di pernikahan nanti. Maafkan aku, Oppa. Aku mencintaimu.”

Kalau dia tidak pernah berkhianat pada siapapun, bahkan pada ayahmu. Dan padamu.

“Maafkan aku, Oppa. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

Kau mengawasi orang lain itu berubah menjadi ibumu. Kau mengawasi ibumu mencintai ayahmu. Dan untuk pertama kalinya kau membiarkan dirimu menangis di pemakaman ayahmu.

.

.

.

Takdir setiap orang sangat aneh.

Kadang kau mendengar cerita-cerita seperti seorang anak yatim piatu yang jatuh cinta dengan seorang donatur panti asuhan yang rupawan. Lain waktu ada cerita dimana seseorang menikahi sahabat masa kecilnya. Lalu ada seorang lain yang harus menelan rasa sakit yang mendalam karena belahan jiwanya meninggalkannya sendiri untuk selamanya. Hebatnya terkadang cerita-cerita seperti itu disetujui Tuhan untuk menjadi takdir hidup seseorang. Dan tidak jarang kau mendapati dirimu tidak mengerti.

Park Jinhee seolah seperti takdir yang disetujui Tuhan datang untukmu sebagai seorang ibu.

Park Jinhee yang tinggal di panti asuhan dan jatuh cinta dengan seorang pria donatur panti asuhannya. Kau pernah mendengar cerita seperti dongeng ini sebelumnya. Park Jinhee menjadi sahabat pria ini. Dia memanggilnya Oppa. Tapi, pria ini sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak gadis. Tapi, kau pernah mendengar cerita saat kedua sahabat memutuskan bersama. Mereka menikah. Park Jinhee dan pria itu. Mereka, bersama dengan anak perempuan pria itu. Lalu, kau mendengar cerita dimana seseorang kehilangan belahan jiwanya. Park Jinhee kehilangan belahan jiwanya. Dan anak gadis itu kehilangan ayahnya.

Anak gadis itu adalah dirimu. Park Jinhee adalah ibumu.

Dan Tuhan menyetujui cerita-cerita itu menjadi takdir yang sesungguhnya.

Kau merasa paham sekarang. Tapi, ada sesuatu yang ingin kautanyakan pada ibumu.

“Apa Oh Sehun membuat ibu jatuh sama seperti yang ayah lakukan?” tanyamu. Kalian dalam mobil di perjalanan pulang. Kau memainkan es krim jelly stroberi di tangan. Kau dan ibumu berhasil mendapatkannya di sebuah rest area, tapi kau tidak berniat memakannya sekarang. Kau menunggu ibumu menjawabmu. Dan kau mulai merasa bersalah karena tidak ada respon yang cepat seperti sebelumnya. Apa ini adalah pertanyaan sensitif baginya? Kau mengutuk dirimu sendiri dalam hati.

“Aku rasa ayah memiliki beberapa persamaan dengan Oh Sehun. Eum.. tidak apa-apa kalau ibu suka Oh Sehun. Aku bisa melihat kenapa.” Ujarmu cepat. Kau bermaksud meyakinkan ibumu kalau kau tidak marah dan merasa dikhianati. Tapi, sepertinya dengan berbicara seperti tadi malah membawamu semakin dalam ke jurang rasa bersalah.

“Benarkah?” kata ibumu. Tersenyum sembari melirik kearahmu. Lalu ibumu tertawa. Kau merasakan pipimu memanas karena malu. Ya, ayahmu sama sekali tidak mirip Oh Sehun. Kau hanya mengarang.

“Menurut ibu… Oh Sehun mungkin tidak mirip Kim Jeonmyeon.” Kau menahan dirimu untu tidak mengernyit mendengar nama lengkap ayahmu. Ibumu biasa memanggilnya Ayah saat berbicara denganmu. Atau kadang kau mendengar dia menyebutnya Oppa kalau tidak sadar sedang bicara denganmu.

“Menurut ibu mereka berbeda. Tapi, ada satu hal.”

Kau menatap ibumu. Mencoba menelaah ekspresi wajahnya. Tapi, hari sudah malam dan lampu jalan tidak cukup untuk membantumu.

“Mereka berdua membuat ibu jatuh cinta pada hal yang sama.” Lalu ibumu diam. Kau menunggunya melanjutkan. Tapi, tidak ada lanjutan setelah sekian menit.

“Apa itu?” tanyamu tidak sabar. Ibumu menoleh sekilas dan tersenyum hangat. Kembali menatap ke jalan saat akhirnya melanjutkan.

“Kau akan tahu kalau kau sudah menjadi milik seseorang nanti.”

Kau mengernyit. Mengerang tidak puas. “Ibu~” rengekmu seperti anak kecil. Sudah lama kau tidak seperti ini. Bermanja-manja. Ibumu terkekeh dan menepuk puncak kepalamu.

“Eum.. menurut ibu, Kim Jongin ini pria yang baik.”

“Ibu!”

.

.

.

.

Cont-

A/N :

Nah, Ini dia.

So, another plot-twist? Ehehe. Enggak ah menurutku ini bukan plot-twist kalau ternyata Park Jinhee bukan ibu kandung Sohee.

Jadi disini point nya adalah perasaan Sohee yang melihat ibunya sebagai benar-benar ibu kandungnya. Tapi, saat datangnya Sehun ini, mendorong dia menyadarkan dia kalau Park Jinhee adalah orang lain. Bukan ibu kandungnya, tapi dia sayang ke Jinhee seperti dia sayang sama ibunya. Vice versa.

Dan gimana tadi awalnya kok saya menjelaskan ini lagi, ya? .__.

Dan Lim Kim. Yang tahu lagunya lim kim yang nyempil disana adalah Urban Green.

Yang aku maksud urban green versi inggris. Kalian bisa cari tahu di google, unduh lagunya mungkin?

Karena itu semacem bantuan buat aku pribadi membayangkan padang rumput. Dan pohon besar.

Chap selanjutnya siapkan mental-fluff (atau tidak, karena mungkin gagal .__.)

Yang menebak pair Sohee-Sehun, enggak eh mereka gak eksis disini

Untuk yang mengharap Kai-Sohee, yes, mereka disini ^^

.

Dan maaf soal telat update. Itu lo UKK ahaha -,-

Maaf soal tidak munculnya sehun disini -,-

Dan Jiyong juga Seungyeon disini bukan member KARA yaaa~~ -,-

Iyap aku lagi suka anak YG dipairing sama anak SM

Semacem korea utara pacaran ama korea selatan -,-

Next chap mungkin (mungkin) sudah muncul di wp ku saat ini publish di exofanfic.

Tapi jangan terlalu banyak berharap. Nanti kayak jongin. 😛

Advertisements

3 thoughts on “Silent Problem #2 – That’s Old and Fate

  1. thoor, aku suka ceritanya 🙂 ini feelnya dapet banget, jdi ngerasain juga gimana jadi Sohee 🙂 next chap ditunggu ya thooor ^^

  2. busyeeeet ternyata banyak bgt rahasia hidupnyaaa.. kirain aku perbedaan umur sehun sama ibunya so hee tuh 14 tahun tp ternyata ga sampe 10 tahun kan..
    aaah joonmyeong oppa mati~ ga tega tapi emang cocok jadi bapak yg penuh cinta sih hehehe..
    jadi sohee tuh sukanya sama siapa??? sehun ato jongin??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s