[Drabble] Sad, Coffee Me

Standard

Coffee-cups-with-smiling--006

.

“Bagaimana kabarmu?”

Ceritanya dimulai dengan kopi dan jazz dan manisan dan krepes. Di sebuah kafe. Ceritanya dimulai lagi.

Seorang wanita bertemu kembali dengan kekasih lamanya.

“Aku baik. Apakah aku perlu bertanya hal yang sama padamu?”

“Apa aku terlihat baik?” Aku tertawa. Menyeduh kopiku sembari memilah jawaban. Jantungku seakan berderit memilukan saat jemarinya tak sengaja menyentuh jemariku.

“Kau terlihat sangat baik.” cicitku bodoh. Jelas ini bukan buah pemikiran rasional.

“Aku menghargainya.” Melihatnya tersenyum kearahku membuatku berpikir bahwa orang ini memang berniat membunuhku atau apapun. Apa yang ingin kukatakan adalah hanya jangan senyum itu.

Oh, bolehkah aku hanya meminum tehnya lalu pulang? Aku rindu padanya. Maksudku–baiklah–senyum dan tawanya. Sayangnya senyum itu ada di wajahnya yang rupawan. Dan wajahnya yang rupawan adalah kepunyaannya, Si tokoh utama yang sempurna. Yang bukan milikku lagi.

“Minumlah tehmu.”

Yang mana artinya, harus kuhindari.

Aku mengangguk dan mengangkat cangkirku kaku. Membawanya terlalu miring dan menyenggol kotak gula. Terjatuh, tehnya mengalir di meja, menguarkan aroma chamomile. Dan yang menyebalkan, mengenai cannoli favoritku. Aku kemudian mendengarnya tertawa.

“Ada apa denganmu?” Dia menarik tisu. Kupikir hendak membersihkan meja, tapi yang dia lakukan adalah menangkup tanganku diatas tangannya. Lalu dia mengelap punggung tangan itu dengan lembut. Punggung tangan siapa yang beruntung itu? Oh, itu punyaku.

“Apa yang kaupikirkan sampai kau menumpahkan cangkirmu, hm?”

Apa?

“Kau memikirkan… seseorang?”

Aku memerah, aku tahu.

Tapi, tidakkah dia tahu aku terindimidasi karenanya? Bukankah Ia?

“Lihat cannoli-mu basah. Kau makanlah cupcake-ku saja, oke?”

Ah, Cupcake. Aku tidak bisa menahan untuk mengeluh dalam hati. Ini mulai menyebalkan. Bahkan aku mulai menyadarinya.

“Tidak. Tidak apa.” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya lebih berani.

“Hei, maksudku.. ‘Bagaimana ya rasa cannoli dengan chamomile?’, aku berpikir begitu. Jadi aku sengaja menumpahkannya.”

Dia berkedip beberapa kali ketika aku menertawakan leluconku sendiri. Dia ikut tertawa sesaat kemudian. Tepat ketika aku pikir leluconku barusan sama sekali tidak lucu. Dia mengangkat tangannya dan membentuk pistol yang menunjuk kearahku.

I got it, Yoo. You can dodge me, uh?

Aku berkedip. Sejenak aku lupa cannoli yang bercampur teh.

Lalu aku mulai tertawa bersamanya. Kami berdua. Yoo dan Luhan.

.

.

.

.

Il caffè è triste

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s