[Fanfic] An Along Day With You

Standard

An Along Day with Xi Luhan

Cast :

  • Xi Luhan
  • Shin Bomi (OC)

Support Cast : all EXO M’s Member

Genre : Romance

Rating : PG-13 <–apaini

Author’s Note : Dibawah aja deh -,-m

_____

When I try my best on a day with you

Luhan mengedarkan pandangannya ke penjuru gate. Di tangannya namja itu memegang sebuket bunga lili putih. Sedangkan tangan satunya lagi menggenggam ponselnya yang dalam keadaan mati karena low-batt.

Berusaha tidak dihiraukannya beberapa gadis yang terkikik ketika melihatnya. Luhan maklum, pasti aneh pemandangan seorang pria seperti dirinya memegang sebuket bunga di tengah bandara seperti ini. Jadi dirinya berusaha keras mengabaikan orang-orang di bandara yang terus menerus menoleh kearahnya. Terakhir bahkan seorang ibu-ibu dan seorang anak remajanya terang-terangan melambaikan tangan mereka dan tersenyum genit kearah Luhan.

Luhan sendiri hanya bisa menelan ludahnya, lalu pura-pura batuk dan kembali berusaha fokus memandangi gate. Dimana penerbangan dari Seoul diumumkan baru saja datang.

“Oppa!!”

Tiba-tiba saja terdengar teriakan tidak tahu diuntung milik seorang gadis pendek berambut cokelat panjang yang berlari kecil kearah Luhan. Gadis itu terlihat sangat kesulitan membawa koper mungil miliknya. Mau tidak mau Luhan tertawa melihat gadis yang sudah lama ditungguinya itu.

Gadis pendek seperti itu, hanya membawa koper mungil dan bahkan tidak membawa tas apapun lagi, tapi masih saja terlihat sangat kesulitan hanya untuk sekedar berjalan kearahnya.

“Ya,Oppa! Kau tidak boleh tertawa! Apa kau tidak lihat ada seorang gadis dewasa yang kesulitan membawa barang-barangnya? Tidak sopan tahu jika pria dewasanya justru tertawa seperti itu!” protes gadis itu. Rambut cokelatnya bahkan sedikit basah karena berkeringat, padahal dia baru berjalan dari gate sampai tempat duduk tunggu.

Luhan yang mendengar protes keras gadis itu, sudah tidak bisa menahan tawanya yang jauh lebih keras lagi. Gadis itu bilang apa tadi? Wanita dewasa?

“Oppa! Berhenti tertawa! Aku terlihat seperti gadis kecil manja tahu~” kali ini gadis itu tidak berseru, hanya menggerutuk sebal. Luhan buru-buru mengangkat kedua tangannya. Lalu segera beranjak mendekati gadis pendek itu.

Setelah menyimpan ponsel di saku celananya -dan masih berusaha menahan tawa- Luhan mengambil alih koper dari genggaman tangan mungil gadis itu. Tak lupa Luhan menyentil kening gadis di depannya dengan gemas sebagai ucapan selamat datang di China.

“Ja~ kita ke mobilku.” bisik Luhan santai. Tapi tiba-tiba saja tangan gadis itu menahan langkahnya.

“Oppa itu.. bunga untuk siapa?” gadis itu menunjuk bunga lili putih yang masih ada di genggaman Luhan.

Melihat itu Luhan berdecak keras, baru ingat tentang bunga yang membuatnya malu selama hampir 15 menit menunggu.

“Ini?” Luhan mengangkat bunganya ke hadapan gadis yang menatapnya bingung.

“Ini untuk Shin Bomi. Gadis yang membuatku hampir mati karena merindukannya.” kalimat romantis Luhan tadi bisa saja membuat gadis manapun yang mendengarnya mimisan atau pingsan di tempat. Beruntung Luhan berbicara dengan bahasa Korea di bandara di China. Jadi untuk saat ini yang bisa memahaminya hanya gadis Korea yang ada di depan Luhan. Yang justru menatap Luhan dengan tatapan mencela. Bahkan ketika Luhan menambahkan kedipan mata dan senyuman maut, gadis itu justru tertawa meremehkan.

Hingga puncaknya gadis itu mengucapkan kalimat yang meruntuhkan pesona ketampanan seorang Xi Luhan.

“Siapa pun itu. Shin Bomi adalah gadis malang sedunia.”

_________________

“Shin Booooooommiii!!!!! Kau disini!!”

Teriakan berdesibel tinggi milik Kim Jong Dae cukup untuk membuat seluruh benda mati dan hidup dalam apartemen Luhan menoleh kearah pintu.

Kearah Luhan dan gadis pendek yang masuk lebih dulu. Luhan hanya tertawa melihat betapa riuhnya apartemennya saat gadis yang bersamanya itu memasuki ruangannya dan melambai ke arah 5 pria lainnya.

Kim Jongdae. Kim Minseok. Wu Yi Fan. Zhang Yixing. Dan Hwang Zitao.

Kelimanya menyambut hangat tamu Luhan dari Korea yang baru saja datang itu.

Shin Bomi.

“Aigoo~ uri Bomi semakin tinggi sekarang. Bwabwa! Tinggimu sudah hampir menyamai tinggi Kris!” celetuk Minseok sekenanya. Sedangkan Bomi segera memberinya tatapan membunuh paling kejam yang dia punya.

Tapi sama halnya dengan Luhan, Minseok sama sekali tidak takut dengan gadis pendek Shin Bomi. Minseok justru tertawa senang saat melihat tatapan dingin Bomi.

“Benarkah aku tinggi, Oppa? Bagaimana denganmu? Sebagai yang paling tua disini kau juga terlihat sangat tinggi.” balas Bomi santai. Kali ini Minseok hanya bisa menelan ludahnya dan tertawa canggung. Dia kalah.

Sedangkan yang lain tertawa melihat gadis ‘kecil’ itu belum berubah sejak dulu. Sama sekali tidak mau kalah.

“Bomi boo~ kau terlihat sudah dewasa. Berapa umurmu sekarang?” tanya Kris tiba-tiba.

“20.”

“19 tahun.”

Semuanya terdiam bingung. Kelima namja yang lain menatap Bomi dan Luhan yang menjawab hampir bersamaan.

Hanya saja Luhan menjawab 19 sedangkan yang ditanya mengaku berumur 20.

“Yang mana yang benar?” protes Tao.

Bomi tidak menjawab malah memukul pelan lengan Luhan.

“Ya! Aku ini 20 tahun!”

“Itu kan umur Korea-mu, Boom~ yang Kris maksud umur internasionalmu” jelas Luhan sambil iseng mengacak rambut cokelat Bomi.

“Oppa!” Bomi segera menyingkirkan tangan Luhan dari rambutnya. Sebelum pria itu benar-benar membuat rambutnya berantakan. Untuk menata rambutnya, Bomi menghabiskan begitu banyak waktu. Rambut cokelat gelap lurus dengan poni menutupi keningnya. Bomi berharap Luhan menyukai tatanan rambutnya. Gadis itu memang terlihat manis di mata Luhan, tapi bukan itu yang diharapkan Bomi. Dia ingin terlihat cantik. Cantik yang dewasa.

“Oppa! Kau membuat moodku buruk!”

Luhan hanya tertawa lalu menurunkan tangannya.

“Geurae~ bagaimana jika sebagai gantinya kau boleh jalan-jalan keliling kota seharian besok?” usul Luhan. Bomi segera menganga lebar dan bertepuk tangan heboh.

“Jinjayo oppa? Seharian bersamamu? Sungguh? Yeay!”

Luhan hanya tertawa lalu menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Tidak. Aku tidak bisa pergi bersamamu besok. Bagaimana dengan Chen? Dia sudah bilang dirinya bersedia, ya kan Chen?”

Jongdae mengangguk sembari mengacungkan jempolnya semangat. Tapi, Bomi justru merasa bahunya lemas seketika. Dia tidak mau pergi dengan Chen.

“Aku tidak mau pergi dengan Chen. Dia bukan orang China, aku ingin guide tour-ku adalah orang China yang benar-benar mengerti China.” seloroh Bomi cepat. Berharap Luhan mengerti maksudnya yang hanya ingin pergi berdua bersama namja itu.

Luhan menyentuh dagunya. Terlihat sedang berpikir.

“Masuk akal. Ehm.. Kalau dengan..”

“Denganku saja. Aku orang China. Dan aku tidak ada jadwal apapun seharian besok.” usul Kris tiba-tiba. Kali ini bahu Bomi benar-benar turun saking lemasnya. Yang benar saja? Pergi bersama Kris? Dan membuatnya terlihat seperti gadis kerdil abad ini? Jelas tidak bisa!

“Shireo~ Oppa dulu pernah tinggal di Kanada, kan? Siapa yang bisa menjamin kalau Oppa bisa menjelaskan semua yang kutanya soal China nanti, uh?” sela Bomi cepat-cepat. Setelah mendengar itu Luhan hanya tertawa renyah dan menepuk bahu Bomi. Menarik gadis itu agar sedikit mendekat kearahnya.

“Arasso. Kau hanya ingin pergi denganku, kan? Tenang saja aku hanya bercanda. Aku yang akan menemanimu. Aku janji akan menjadi benar-benar milikmu seharian besok, Shin Bomi” ujar Luhan santai. Walau semua orang tahu, berbicara seperti itu di depan teman-temannya? Itu sama sekali tidak seperti Xi Luhan.

Sedangkan Bomi tersenyum bersemangat. Dibayangannya sekarang adalah apa-apa saja yang ingin dia lakukan bersama Luhan besok. Berkeliling. Mengobrol sepuasnya. Membeli es krim. Menyewa sepeda pasangan..

“Apa kalian tersedak Shakespeare dan Anne Hathaway? Kalian membuatku ingin segera memiliki kekasih” gurau Lay sambil tertawa sangtae.

.. Menonton film, mengunjungi museum, dan terakhir membunuh Zhang Yixing yang menyamai Luhan dengan tokoh berkepala botak. ^^

_____________

Luhan menatap arloji di tangannya. Jam 9 tepat. Seharusnya Bomi sudah selesai bersiap-siap. Tapi, dengan sabar, Luhan berusaha menunggu lebih lama lagi di tempat duduk di lobi hotel tempat Bomi menginap.

Ya. Bomi memang tidak menginap di apartemen. Gadis 19 tahun itu bersikeras untuk menginap di hotel alih-alih apartemen Luhan. Padahal Luhan sendiri sudah menawarkan sebuah kamar yang nyaman. Tapi, Bomi mendadak mengeluarkan sifat keras kepalanya. Mengatakan bahwa dia benar-benar ingin tinggal di hotel saja.

Saat Luhan tanya kenapa. Gadis itu hanya bilang kalau dia belum pernah menginap di hotel selama berlibur di China. Juga bilang kalau dirinya bosan dengan apartemen Luhan.

Tentu saja Luhan merasa tidak mengerti. Bomi selalu senang menginap di apartemennya. Karena apartemen Luhan memang bisa dibilang sangat nyaman. Terlebih Luhan selalu menyediakan kamar terbaik dari 2 kamar yang tersedia. Luhan bahkan rela tidak pernah tidur di kamar utama itu agar jika Bomi datang ke China, gadis itu tidak perlu merasa risih untuk tidur di kamar apartemen Luhan.

Tapi apa sekarang? Gadis itu secara aneh menolak layanan spesial Luhan untuk mencoba tidur di hotel. Luhan bahkan tahu persis bahwa gadis itu tidak suka tidur di hotel manapun.

Luhan hanya berusaha maklum dan melupakannya. Diliriknya lagi arloji miliknya, 9.15. Kening Luhan mengernyit. Gadis itu telat 15 menit? Shin Bomi? Yang bahkan sangat menghargai waktu. Yang selalu datang paling tidak sepuluh menit sebelum janji bertemu. Yang selalu memasang alarm dan bahkan pengingat waktu untuk menandai waktu makannya. Gadis itu. Shin Bomi. Terlambat?

“Oppa.. Maaf menunggu~”

Luhan mengangkat kepalanya. Adalah Shin Bomi, tersenyum kearahnya. Gadis itu mengenakan dress satin ringan berwarna soft pink dengan sabuk pita berwarna pink gelap di bagian pinggang. Dan high heels 10 cm berwarna senada yang membuatnya terlihat lebih tinggi dari biasanya.

Tapi yang mengejutkan adalah rambutnya. Yang sekarang bergelombang. Juga tidak ada poni. Bomi sengaja menyibak poninya kesamping. Walau terkadang poni itu masih suka menutupi keningnya, sehingga Bomi harus sering-sering membenarkannya.

Luhan tidak percaya ini. Apa Bomi mengubah gaya rambutnya dalam satu malam?

“Bomi-a” Luhan berdiri dari duduknya untuk menatap Bomi lebih jelas.

“Ne, Oppa?” tanya Bomi hati-hati. Mengawasi Luham yang menatapnya.

“Apa.. Kau pergi ke salon?”

“Uhuk. Ne, Oppa? Ke salon?” Bomi membenarkan letak poninya. Sedangkan Luhan menatapnya khawatir, karena Bomi tiba-tiba terbatuk saat mendengar kata salon.

“Aku.. Ya! Tentu saja. Aku ke salon tadi malam. Untuk menata rambutku. Beruntung tidak rusak saat aku tidur. Hehehe~” Bomi berbicara sambil mengusap leher belakangnya. Luhan hanya mengangguk-nganggukan kepalanya mengerti.

“Nah! Kalau begitu kita mulai sekarang?” usul Luhan berinisiatif. Bomi menatap Luhan sejenak lalu tersenyum senang.

“Ne! Kita ayo mulai!”

__________________

Bomi mengawasi jalanan kota Beijing di depannya dengan seksama. Pelan-pelan dia mencoba membaca papan nama toko-toko dan beberapa papan penunjuk jalan yang dilihatnya dari kaca mobil Luhan.

Luhan yang cukup tahu kalau gadis itu tengah mencoba mengasah kemampuan membaca pinyin-nya, mencoba mendukung dengan mengemudi mobilnya santai. Agar Bomi lebih leluasa membaca tentunya.

Bahkan Luhan mematikan radio mobilnya agar tidak ada suara yang mengganggu keasyikan membaca seorang Shin Bomi. Sesekali Luhan melirik kearah Bomi yang seakan mengacuhkannya. Gadis itu hanya sesekali bergumam memandangi keadaan di luar dan menunjuk-nunjuk apa saja yang menarik perhatiannya.

Hingga Luhan berbelok ke sebuah tempat parkir dan menghentikan mobilnya disana, Bomi segera sadar dan menoleh cepat kearah Luhan. Dalam hati Luhan mulai menebak-nebak apakah Bomi tahu dimana mereka sekarang.

“Oppa.. kita tidak pergi keluar Haidian?”

Bingo!

Luhan tersenyum dan mengelus  rambut Bomi pelan. Luhan tahu gadis di sampingnya ini adalah gadis cerdas. Mengikuti program akselerasi dan menjadi mahasiswi di usianya yang belum genap 18 tahun sudah cukup untuk menjadi bukti nyata. Walau Luhan tidak pernah melihat Bomi berusaha keras belajar bahasa China dan pinyin, tapi gadis itu selalu tahu tentang China. Bahkan tahun lalu Bomi mengajak bicara seorang pedagang di Ya Show dan berakhir dengan membawa pulang hampir 2 koper besar oleh-oleh. Saat Lay tanya berapa uang yang dihabiskan gadis itu, Bomi dengan santai menjawab bahwa dia mengeluarkan tidak lebih dari 100 yuan. Esoknya Lay dan Chen beramai-ramai meminta belanja bersama di Ya Show dengan gadis mengagumkan ini.

Mengingatnya lagi selalu membuat Luhan merasa bangga dengan Bomi.

“Ini Yihe Yuan!” suara pekikan tertahan dari Bomi segera menyadarkan Luhan. Gadis itu segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil sendiri. Luhan hanya tertawa melihat tingkah spontan gadis manis itu.

Segera Luhan turun dari mobil dan berjalan menyusul Bomi yang sudah lebih dulu menatap kagum taman Yihe yang bercorak arsitektur kuil-kuil zaman dulu. Taman indah yang terdiri dari Danau Kunming dan Bukit Wanshou yang baru pertama kali ini dilihat langsung oleh Bomi.

Untuk beberapa saat Luhan dan Bomi hanya berdiri diam. Luhan menunggu Bomi meluapkan rasa senangnya dulu. Hingga Bomi sendirilah yang memecahkan keheningan diantara keduanya.

“Oppa.. tapi sekarang, kan bukan musim panas? kenapa Oppa mengajakku kesini?” pertanyaan polos Bomi itu membuat Luhan tak bisa menahan senyumannya.

Gadis ini benar-benar tahu China.

Ya. Taman Yihe memang sering disebut taman musim panas. Karena taman ini memang sangat indah jika dikunjungi di musim panas. Bahkan keluarga kerajaan zaman dulu pun selalu mengunjungi taman ini di tengah-tengah terik matahari musim panas di China.

“Aku mengajakmu kesini bukan untuk melihat keindahan Taman Yihe. Karena taman ini memang jauh lebih cocok untuk musim panas. Tapi, aku kesini untuk mengajakmu mengisi perut. Kita belum sarapan, kan?” ujar Luhan santai. Luhan bahkan mengerlingkan matanya pada Bomi.

Bomi tertawa setuju dan segera memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sangat lapar.

“Nah.. aku punya kenalan pemilik restoran di sini. Jadi kupikir kau pasti akan suka dengan makanannya. Sarapan disana akan sangat enak sekali.” tambah Luhan. Detik berikutnya Luhan menggamit tangan Bomi dan menuntunnya untuk berjalan mengikuti langkah namja itu. Sedangkan Bomi hanya menurut karena dia benar-benar lapar.

Beberapa menit mereka berjalan, melewati keindahan taman Yihe yang benar-benar memanjakan mata Bomi. Gadis itu tak henti-hentinya berdecak kagum. Dia rasa dirinya sanggup jika harus menghabiskan waktu hanya di taman indah ini seharian. Walau saat ini bukan musim panas sekalipun.

“Kita sampai!” seru Luhan bersemangat. Bomi yang baru sadar segera menengok kearah yang dimaksud Luhan. Dan gadis itu membelalakan matanya tak percaya.

Kedai kaki lima?

“Oppa! tadi Oppa bilang restoran!” protes Bomi. Gadis itu tidak kesal. Hanya saja tidak mengerti dengan cara berpikir Luhan yang menyebut kedai kaki lima kecil itu sebagai restoran.

“Oh ya? Rasa makanan disini memang seperti restoran.” jawab Luhan. Lalu namja itu kembali menarik tangan gadis itu pelan-pelan.

Saat keduanya memasuki gerai kedai kecil itu, wangi daun bawang dan daging yang dimasak segera menyapa hangat keduanya. Luhan terus-menerus tidak bisa menahan senyumnya.

Luhan segera menyuruh Bomi duduk. Tempat duduk kedai itu langsung menghadap sang koki yang terlihat ramah. Juga berbagai macam masakan China yang masih panas mengepul. Kedai itu terlihat ramai jika sudah masuk, padahal dari luar tadi kedai itu terlihat kecil dan cukup sepi. Ternyata pemandangan di luar 100% menipu. Kedai itu lumayan besar dan ramai. Padahal masih terhitung pagi.

Luhan memesan kepada seorang pria yang tiba-tiba muncul. Pelayan itu mengangguk ramah dan segera menyampaikan pesanan pada koki yang sebenarnya hanya ada di sebelahnya.

Bomi sedari tadi hanya diam. Berusaha menahan diri untuk tidak mengambil cemilan yang tersedia di depannya. Benar-benar terlihat menggiurkan.

Saat makanannya sudah siap dan kokinya sendirilah yang mengantarkan kehadapan keduanya. Mata Bomi lagi-lagi terbelalak tidak percaya.

“Giao Za?” seru gadis itu tanpa sadar. Luhan menoleh heran saat Bomi berseru seperti itu.

“Bagaimana kau tahu ini Giao Za?” tanya Luhan. Dalam hati Luhan benar-benar merasa takjub akan pengetahuan Bomi tentang China. Padahal sebelumnya Luhan berharap dia yang akan menjelaskan perihal makanan ini pada Bomi.

“Geurom! Ini adalah makanan asal Gyouza. Aku pernah melihat dan mencicipi Gyouza di Jepang. Rasanya enak. Lalu aku tahu kalau Gyouza Jepang berasal dari China. Aku sudah lama ingin memakan Gyouza versi aslinya. Oppa.. Gomawo!” ujar Bomi  senang. Luhan hanya terkekeh. Ikut senang sarapan pilihannya ini adalah keputusan yang tepat.

Tanpa banyak bicara lagi Bomi dan Luhan segera melahap sarapan pagi mereka. Lumpia China basah untuk Luhan, sedangkan Bomi langsung meminta pesan lagi yang digoreng. Rasa isi Gyouza yang terbuat dari daging sapi, lobak, dan berbagi sayuran yang bisa dipilih langsung pelanggan benar-benar memuaskan lidah.

Setelah selesai makan, Luhan segera menyeret Bomi -yang kekenyanga- untuk kembali ke mobil. Walau gadis itu bersikeras ingin berkeliling Yihe dulu.

“Kita akan kehabisan satu hari kita jika terus disini.”

Begitu kilah Luhan saat Bomi berusaha menolak diajak kembali mobil. Akhirnya keras kepala gadis itu terpatahkan juga. Bomi bersedia beranjak dari Yihe Yuan. Walau di mobil mood gadis itu berubah drastis.

Bomi sepenuhnya diam. Hanya menatap lurus ke depan. Padahal tadi dia merasa sangat senang bisa memakan lumpia China bersama Luhan.

“Jangan cemberut seperti itu. Kau jadi terlihat lebih manis tahu” goda Luhan sambil mengendarai mobilnya, meluncur ke jalan raya.

“Memangnya kenapa kalau aku lebih manis? bukankah itu bagus?” jawab Bomi asal.

Luhan hanya tertawa dan melirik sebentar kearah Bomi.

“Tidak. Tentu saja itu bagus. Hanya saja..”

Bomi menoleh kearah Luhan penasaran. Pasalnya namja itu malah tersenyum lebar bukannya melanjutkan perkataannya.

“Hanya saja aku khawatir kalau aku tiba-tiba tidak bisa mengemudi hanya karena melihatmu menjadi lebih manis dari ini”

Dan Bomi tidak bisa menahan semburat merah di pipinya.

_____________

“Bomi~ berjanjilah padaku.”

Bomi menolehkan kepalanya kearah Luhan. Tadinya dia sedang asyik memperhatikan jalanan Beijing. Barusan Bomi juga berseru riang saat tahu mereka sudah keluar dari distrik Haidian. Setelah kemudian diam lagi, sekarang Luhanlah yang memecah keheningan.

“Berjanji? berjanji apa?” tanya Bomi cepat. merasa sangat penasaran, terlebih melihat wajah Luhan yang serius.

“Berjanjilah.. untuk tidak membeli oleh-oleh sebanyak 2 koper lagi.”

“NE?” Bomi menegakan tubuhnya yang tadi menyandar kursi. Merasa pedengarannya terganggu.

“Maksud oppa..”

“Kita akan ke pusat perbelanjaan.” Kali ini Luhan tersenyum jenaka. Sedangkan Bomi mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Ya.. Ya Show?” tanya Bomi hati-hati.

Luhan menggeleng.

“Wang Fu Jing.”

“WANG FU JING??” Bomi tidak bisa menahan rasa terkejutnya lagi.

Luhan bilang apa tadi? Wang Fu.. Jing??

“Neee~~ my princess.. kita ke Wang Fu Jing.”

GREAT!

Bomi sekarang berseru heboh di kursinya. Membuat Luhan tertawa.

Luhan tahu sebenarnya Bomi bukan tipe yeoja yang suka menghabiskan uang untuk berbelanja. Insiden dua koper oleh-oleh tahun lalu itu sebenarnya adalah jawaban dari tantangan Luhan yang mengejeknya tidak bisa berkomunikasi dengan pedagang-pedagang Ya Show. Padahal pedagang Ya Show terkenal ‘licik’ memberi harga. Gantungan kunci 1o yuan saja di pasang harga 200 Yuan.

Bomi tahu itu, itulah sebabnya dia sama sekali tidak takut ditantang berbelanja dan menawar habis-habisan semua yang dijual di Ya Show. Akhirnya ketika dua koper penuh oleh-oleh terbeli, yang ada Bomi tidak tahu mau diapakan. Belakang Luhan mendapat kabar oleh-oleh Bomi dijual lagi di Hongdae dengan harga tinggi. Membuat gadis itu kaya selama 3 bulan.

Dan sekarang.. Wang Fu Jing?

Kalau Luhan berani menantang gadis itu lagi. Maka semua barang dagangan Wang Fu Jing bisa habis di tangan gadis seperti Bomi. Yang hanya berambisi menjawab tantang Luhan.

“Bagaimana kau berjanji?” ujar Luhan ketika Bomi sudah mulai mengusasai dirinya.

“Tentu saja! Tapi Oppa harus mentraktirku makan di stan makanan yang kumau! Ottae?”

Luhan mengangguk setuju. Gadis itu bukan gadis setipe shoppaholic. Gadis itu berjingkrak senang ke Wang Fu Jing karena makanan disana yang murah.

Gadis itu adalah Bomi. Bominya.

__________

“Oa!! Es Krim ini enak!!”

“Oppa lihat!! orang itu memutar kepalanya seperti burung hantu!”

“Ommo!! Pria itu seperti Vannes Wu!!”

“Ah ayo!! Menyewa sepeda dan berkeliling!!”

Seruan bersemangat Bomi tak henti-hentinya membuat Luhan tersenyum. Wang Fu Jing memang bukan sekadar tempat berbelanja. Disana sudah seperti pasar malam. Atraksi akrobat jalanan. Pedagang makanan ramah yang menjual makanan murah nan enak. Dan pria-pria China yang tampan. Yang terakhir itu Bomi yang menambahkan.

Setelah berkeliling Wang Fu Jing dengan bersepeda. Luhan dan Bomi duduk lemas di sebuah bangku di tengah taman. Mereka sudah berada diluar Wang Fu Jing. Karena taman itu tepat di samping batas area pedagang.

Mobil Luhan terparkir tidak jauh.

Tapi, mereka belum ingin beranjak. Padahal Luhan masih menyiapkan satu tempat lagi untuk dikunjungi.

“Oppa.. ini menyenangkan.” kata Bomi lirih. Matanya sengaja dipejamkan dan tubuhnya disandarkan ke sandaran kursi taman. Luhan mencoba melakukan hal yang sama.

“Tentu saja.” balas Luhan. Namja itu ikut memejamkan matanya damai. Taman tidak terlalu ramai. Yang ramai adalah Wang Fu Jing yang tepat di sebelah mereka.

Lucu sekali karena seakan dunia menyisakan mereka berdua di taman.

Perlahan, Bomi membuka matanya. Gadis itu melirik kearah Luhan yang masih memejamkan mata. Tanpa sadar Bomi tersenyum melihat wajah Luhan seperti itu. Terlihat damai.

Apakah wajah malaikat seperti ini?

Pikir Bomi. Dia tahu itu terlalu berlebihan. Tapi, siapapun yang melihat wajah Luhan sekarang pasti akan berpendapat sama.

Namja itu terlihat.. sempurna?

Bomi menikmati waktunya memandangi wajah Luhan sepuasnya. Hingga namja itu menegakan tubuhnya tiba-tiba dan berseru kencang seperti anak kecil.

“AH!!! Ayo! Ke LOTUS!!”

Bomi segera menegakan tubuhnya terkejut. Dibuang tatapannya lurus ke depan. Takut Luhan tahu bahwa sedari tadi dirinya memandangi wajah Luhan.

“Lo.. Lotus?” Bomi berusaha agar nada bicaranya terdengar biasa saja. Walau matanya masih takut menatap kearah Luhan.

“Iya, LOTUS. Aku yakin kau akan suka disana. Kata Tao, tempat itu adalah tempat para remaja berkumpul. Malam hari disana sangaaaat indah!” terang Luhan. Bomi hanya mengangguk seadanya.

“Jadi.. kita kesana?”

_______________

Suasana malam LOTUS memang terlihat benar-benar menakjubkan. Kafe-kafe elit dan pedagang asongan seakan berbaur disana. Di LOTUS ada danau yang terlihat indah dengan pantulan cahaya lampu di permukaannya. Berjajar tempat duduk disediakan di pinggir-pinggir danau.

LOTUS adalah tempat yang kau bayangkan saat mendengar kalimat ‘Tempat Romantis Para Remaja’.

Di Beijing diatas jam sepuluh malam sudah sepi. Tapi, di Lotus justru sedang ‘hidup’. Ingar bingar orang disana. Tapi tetap berkesan romantis. Pasangan manapun akan merasa dunia milik mereka walau di sekitar mereka ada banyak pasangan lain yang datang.

Di Lotus semua itu terjadi.

Bomi tak henti-hentinya melirik kearah Luhan yang berjalan di sampingnya. Mereka sudah sampai di Lotus sejak sepuluh menit lalu. Tapi, entah Luhan sengaja atau tidak, namja itu tidak kunjung mengajaknya bicara.

Atau ini hanya pikiran seorang Shin Bomi?

Bomi melirik arloji di tangan Luhan -yang mana tangan Luhan menggenggam erat tangannya.

Sudah jam sepuluh.

Pelan-pelan Bomi menghela nafasnya. Apakah setelah hari ini berakhir.. semuanya akan baik-baik saja?

“Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Luhan tiba-tiba. Bomi mendongakan kepalanya dan buru-buru menggeleng.

Dia sudah makan banyak sekali makanan enak seharian ini.

Bersama Xi Luhan.

“Baiklah.” ujar Luhan singkat. Lalu mereka berjalan lagi. Menyususri paving dalam diam.

Mendadak Bomi merasa canggung berjalan berdua bersama Luhan. Entah mengapa di ingin mereka berhenti berjalan. Atau Bomi ingin memanggil Chen. Agar namja cerewet itu bisa mengajak bicara Luhan dan dirinya. Agar dia tidak perlu secanggung ini dengan Luhan. Ah.. jangankan Chen. Kehadiran Kris yang tidak bicara sepatah katapun pasti sudah bisa membantunya menangani suasana canggung ini.

Atau hanya dia yang merasa canggung? tidak dengan Luhan?

Bomi melirik kearah Luhan sekali lagi untuk memastikan. Tapi, namja itu justru tiba-tiba menoleh kearahnya dan tersenyum. Buru-buru Bomi menundukan kepalanya.

“Bagaimana kalau kita duduk?” tawar Luhan. Bomi lagi-lagi hanya mengangguk seadanya. Kalau dipikir-pikir selama tiba di LOTUS, dirinya hanya mengangguk dan menggeleng.

Tapi mau bagaimana lagi? Bomi takut dia salah bicara.

Luhan menarik tangan Bomi. Membawa gadis itu ke sebuah tempat duduk kosong di pinggir danau.

Saat mereka meraih tempat duduk, suasananya sama sekali tidak berubah. Bomi merasa menjadi gadis bodoh sedunia saat duduk di samping Luhan seperti ini.

Rasanya gadis itu ingin terjun ke danau saja kalau begini.

“Oppa…” Bomi membuka mulutnya. Ini adalh suara pertamanya di Lotus. Suaranya memecah udara dingin malam itu. Dan mendadak Bomi enggan mengeluarkan suara lagi saat Luhan menoleh kearahnya.

“Ne?”

Tidak. Kau harus mengatakannya Shin Bomi. Kau datang ke China untuk ini.

Katakan Shin Bomi! Katakan! Katakan apa yang inginkau katakan selama 6 tahun terakhir ini mengenal Xi Luhan!

Katakan!

“Oppa.. terima kasih untuk hari ini.”

Luhan tersenyum. Bomi merasakan tubuhnya lemas seketika.

Hanya seperti itu? tentu saja tidak. Perasaan Bomi lebih dari sekadar.. itu.

“Sama-sama. Aku juga merasa sangat senang hari ini. Bisa menghabiskan seharian bersamamu membuatku merasa ini mimpi. Ini bukan mimpi, kan? hehe.” Luhan tertawa sendiri. Bomi hanya mendengarkan.

Hingga Luhan menghentikan tawanya dan menatap Bomi sekali lagi.

“Kau gadis luar biasa. Aku senang bisa mengenalmu. Jujur saja aku tidak tahu bagaimana mengatasi hari ini sebelumnya. Tapi segalanya terasa sangat ringan bersamamu. Aku sungguh berterima kasih. Ini adalah hari yang-“

“Aku mencintaimu, Oppa.”

Bomi memegang erat ujung dressnya. Pipinya sudah basah. Entah sejak kapan dirinya menangis. Mungkin saat Luhan mengatakan kalau dirinya adalah gadis yang luar biasa. Bomi juga tidak tahu.

Bomi hanya mengatakanya. Perasaannya. Sambil menangis.

“Bomi..”

“Hari ini.. terima kasih. Aku rasa kita sama-sama menikmatinya. Setelah ini..”

Bomi mengusap pipinya kasar.

“Setelah ini.. aku tidak akan mengganggu, Oppa lagi. Oppa hanya menganggapku sebagai adik Oppa aku tahu. Aku menghargai itu. Jadi aku harap.. Oppa juga menghargai perasaanku. Kuharap Oppa tidak merasa risih dengan aku mengatakannya. Tapi aku.. aku mencintaimu. Aku mencintai Oppa. Bahkan saat umurku masih 14 tahun. Saat aku pertama kali melihat Oppa di sini.. di China.”

Luhan diam. Hanya diam.

Luhan benci ini. Tapi, apa yang dikatakan Bomi memang benar.

Luhan hanyalah menganggap Bomi sebagai adiknya. Tidak lebih.

“Semoga Oppa bahagia dengan wanita yang Oppa sayangi. Aku sudah berusaha semampuku seharian ini. Aku mencoba menjadi wanita dewasa seharian ini. Tapi.. tapi aku tetaplah gadis kecil Oppa, ya kan?”

Iya, kan?

Luhan menatap Bomi. Gadis itu tidak lagi menangis. Luhan tahu harusnya dia tidak boleh merasa bersalah. Harusnya dia tidak oleh mengecewakan Bomi dengan merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah membuat Bomi seperti ini.

Bomi menyukainya?

Luhan tahu itu. Sejak dulu. Tapi dirinya tidak bisa menghalangi Bomi untuk berhenti menyukainya.

Luhan merasa bersalah sekarang. Karena tidak bisa membalas apa yang dirasakan gadis itu. Dengan semestinya.

Luhan adalah Oppa yang jahat.

“Aku akan pulang besok pagi. Jadi bagaimana kalau kita pulang sekarang?” Bomi berujar pelan. Suaranya masih terdengar bergetar. Tapi, gadis itu berusaha tersenyum pada Luhan.

Untuk beberapa saat Luhan hanya diam. Hingga perlahan tangannya terangkat. Menarik kepala Bomi dalam pelukannya.

Bomi hanya menurut. Sama sekali tidak memberontak. Walau pikirannya menolak keras.

“Menangislah. Kau wanita dewasa pertama yang sakit karena diriku. Mana mugkin aku membiarkanmu pergi? Menangislah Bomi..” suara lembut Luhan membuat Bomi tidak bisa menahan semua emosinya. Tangisnya tumpah saat itu juga.

Danau Lotus memerhatikan mereka. Di LOTUS dunia seakan milikmu. Walau begitu banyak orang di sana. Tak peduli seramai apapun. Dunia terasa milikmu.

Dunia seakan milik Shin Bomi ketika gadis itu memutuskan menumpahkan seluruh emosinya malam itu. Menangis keras tanpa merasa malu.

Karena Bomi merasa semua miliknya.

Kecuali namja itu.

Kau juga pria dewasa pertama yang menyakitiku, Oppa ^^

_________________

Bomi tidak menyukai bunga

Terutama bunga lili putih

Bomi tidak menyukai kata-kata romantis

Bomi tidak menyukai tubuhnya yang pendek

Tapi Bomi juga tidak menyukai high heels

Bomi tidak menyukai dress

Terutama yang berwarna pink

Bomi tidak menyukai rambutnya ditata

Bomi tidak menyukai harus berdandan

Bomi tidak suka dirinya harus berbohong pergi ke salon

Bomi tidak suka harus belajar menata rambutnya secara sembunyi-sembunyi

Bomi tidak suka dirinya diremehkan tentang pengetahuan China-nya

Bomi tidak suka diminta untuk tidak mencoba menawar barang di Wung Ji Fang

Dan terakhir..

Bomi tidak suka dianggap sebagai seorang gadis kecil

tapi Bomi juga tidak suka bertingkah sebagai wanita dewasa

Tapi semua itu tidak masalah bagi Shin Bomi

Karena Shin Bomi menyukai Xi Luhan

END


________

Muahahahahahahahahahah!!! *ketawanista* *gelinding*

Tahu gak? Saya nulis FF ini pake bertapa 7 hari 7 malem lo~

Percaya gak? Jangan percaya. Saya boong -,- /udahtahu

Ini bermula dari liat fancam nya Luhan yang unyu setengah serigala itoh

terus kesurupan malah bikin oneshot gak tau diri jeleknya ini *pelukxiaolu*

Udah ah~ kalau udah baca. gak mau tahu komen!

Dan jangan plagiat ya~~ diminta respeknya.. saya tahu ini abal” tapi buatnya pake keringat dan darah baekhyun tahu! /eh?

salam xoxo,

anopin

Advertisements

One thought on “[Fanfic] An Along Day With You

  1. Yaampun demi apa ! ini daebak sekali ^^. Tapi kok sad ending 😦 kasian Bomi nya padahal kirain Luhan juga suka sama Bomi tapi ternyata dia anggep Bomi adiknya. Keep writing ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s