[Fanfiction] WOLF Part 1 Prolog

Standard

Cast :

  • EXO Member
  • Kim Kiki (Original Character)
  • Shin Ri Ah (Original Character)
  • Another OC next part

Genre : School-life, Friendship

Warning : Typo, AU, OOC

Disclaimer : plot and Riah belong to me. EXO belongs to fans (means belong to me too ^^)

WOLF

Ketika kau melihat sesuatu begitu saja

Hanya berharaplah itu adalah yang apa adanya

____________

Kabut tebal itu seperti berarak menutupi tatapan memandang. Semuanya hanya terlihat kelabu dan yang bisa dilihat bukanlah sesuatu yang berarti.

Rasanya dingin saat menatap apa yang dipijak. Sebuah lantai pualam yang tak kalah kelabu dengan kabut yang bergerak-gerak samar diatasnya. Dari kejauhan perlahan kabut itu menyibak. Selama terus berjalan kedepan, mulai telihat sejenis batu runcing yang menjorok kebawah. Batu itu tergantung diatas, bagian runcing seakan mengancam siapa saja yang berani mendongak ke atas untuk melihat. Mulai menyadari bahwa batu runcing itu tidak hanya ada satu. Ada dua. Atau mungkin lebih.

Saat sesuatu tertangkap pendengaran. Suara kilat yang menyambar secara tiba-tiba. Menggema dari dinding –yang lagi– mulai disadari ada di beberapa sisi di depan. Tapi, bahkan sebelum semuanya telah berhasil disadari. Suara auman binatang mulai terdengar dari jauh. Entah darimana, tapi suaranya seakan mencoba mendekat.

Lantai pualam yang licin dibawah seakan bertambah dingin. Perlahan kabut tebal itu seakan menyingkir perlahan. Mulai menipis. Hingga akhirnya sesosok itu terlihat. Di tengah-tengah kabut yang mulai menipis. Di tengah suara petir yang lagi-lagi menyambar.

Entah apa itu. Tapi, sosok itu mulai bermunculan. Semakin banyak. Tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas. Sosok-sosok itu mengeluarkan suara geraman sekali lagi. Lebih lirih tapi terdengar menyakitkan.
Suara getar diatas. Batuan runcing itu bergetar pelan. Saat kau mulai berusaha memahami apa yang sebenarnya kaulihat. Saat batuan itu mulai menyerupai sesuatu.

Suara erangan sosok itu terdengar. Lebih keras. Jauh lebih keras. Ketika kau menurunkan kepalamu untuk melihat. Sosok itu tiba-tiba bergerak maju dengan cepat.

Kau bahkan belum menyadari sepenuhnya. Tapi, semua itu telah terlambat.

Sosok itu menerkammu.

______

“Ah!!”

“Riah-ya? Riah-ya ireona!!”

Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Aku merasakan sekujur tubuhku terasa dingin mendadak berkeringat hebat. Nafasku memburu cepat. Bahkan disaat aku mulai sadar, aku masih merasa deru nafasku sendiri tengah mengejarku.

Perlahan aku bisa merasakan seseorang mengguncang badanku kencang-kencang. Aku tahu aku sudah dalam posisi terduduk, aku memberanikan diri untuk membuka mataku perlahan.

Rasanya aneh saat aku justru mendapati dinding bercat hijau terang di depanku. Berikut sinar matahari yang menembus masuk melalu jendela yang sudah terbuka.

Kamarku? Ini kamarku. Kamarku yang terang. Entah mengapa aku justru merasa sangat ganjil saat melihatnya. Aku menengok kesampingku dan mendapati koporku yang tertutup rapi dan terlihat penuh. Juga lemariku yang dalam kondisi terbuka. Lemariku kosong. Juga meja belajarku yang terlihat sama ganjilnya dengan absennya semua buku diatasnya. Sekilas kamarku terlihat sangat bersih. Bahkan kelewat bersih. Seperti aku tidak akan tinggal di kamar ini lagi. Kamar ini..

“Kukira kau belum siap pergi..”

Aku menoleh cepat. Nafasku masih belum teratur, tapi bisa kupastikan ini jauh lebih baik dari pada saat aku terbangun tadi.

Jin Ah Eonni sekilas tersenyum menyambutku. Seketika itu juga aku teringat semuanya. Ada denganku? Bahkan aku melupakan dunia nyataku.

Benar, Shin Riah. Kau pergi hari ini.

Tangan Jin Ah eonni mengusap puncak kepalaku lembut. Aku hanya terdiam menatapnya. Aku tidak tahu harus menatapnya seperti apa. Aku hanya ingin mencari tahu apakah aku sendiri sudah benar-benar sadar atau belum. Saat aku melihat Jin Ah eonni dan kamarku yang bersih, aku merasa terbanting ke dunia nyata.

Ya. Dunia nyata. Bukan alam bawah sadarku.

Tempat itu. Batu runcing. Lantai pualam.

Sosok yang menerkam.

Aku menunduk. Rasanya kepalaku sangat berat. Aku masih berkeringat walau tubuhku tidak lagi terasa dingin. Mungkin sinar matahari pagi yang mulai membuatku kembali ke suhu tubuh normal. Perlahan aku menarik selimut yang menutupiku.

“Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan singkat Jin Ah eonni membuat tanganku berhenti menyibak selimut. Aku menoleh sekali lagi untuk menunjukan senyumku kepadanya. Bisa kulihat wajahnya sangat khawatir.

“Apa aku lagi-lagi mengigau saat aku tidur?” tanyaku akhirnya. Jin Ah eonni menggeleng lalu tersenyum kecil.

“Tidak. Kau hanya.. mengerutkan keningmu seperti berpikir keras saat kau tertidur. Saat aku memegang tanganmu rasanya sangat dingin. Aku khawatir kau sakit.”

“Tidak. Tentu saja aku tidak sakit.” Ujarku buru-buru. Eonni hanya terlalu khawatir.

Aku menyibak selimutku. Lalu beringsut turun dari tempat tidur. Saat aku menapakan kakiku sesuatu yang ganjil menelusup. Aku terdiam sebentar sambil memandangi kedua kakiku yang sudah menapak lantai. Hangat. Kenapa lantainya hangat?

Lantai pualam. Dingin

“Ada apa?” tanya Jin ah eonni cepat. Melihatku terdiam lagi pasti membuatnya menjadi khawatir.

“Ani. Hanya saja..” aku menggaruk bagian belakang leherku yang tidak gatal. Jin Ah eonni mengernyitkan keningnya cemas. Bisa kurasakan tangannya menggenggam jariku erat.

“Eonni, jangan ceritakan pada Eomma dan Appa. Aku baik-baik saja, kok. Hari ini saat aku pergi aku ingin mereka tidak telalu khawatir..” aku berbisik lirih. Mataku masih menatap kakiku. Hangatnya lantai kamarku masih terasa ganjil.

Ketika aku mendongak menatap Jin Ah eonni, dia hanya tersenyum kecil lagl mengangguk sekali. Baiklah.. dengan begini aku bisa mengabaikan mimpi itu.

“Dasar~ kau tidak ingin mengkhawatirkan Eomma dan Appa, tapi kau sudah membuatku khawatir tahu! Kau tidak sayang Eonni-mu ini, ya?”

Jin Ah eonni melipat kedua tangannya di depan dadanya. Pura-pura menatapku kesal. Sedangkan aku melemparkan tatapan datarku kearahnya.

“Memang tidak. Eonni jangan terlalu berharap~”

“Mwo? Ya!! Aku ini kakak kandungmu!!”

Jin Ah eonni segera mengambil bantal di kasur dan melemparnya kearahku. Tapi, aku sudah lebih dulu beranjak dan berlari ke kamar mandi, sehingga bantal itu sama sekali tidak mengenaiku. Alih-alih mengenaiku bantal itu justru melayang ke pojok kamar.

“YA!! SHIN RIAH!! Kemari kau!!”
__________________

Author’s POV

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat pucat. Ingin rasanya dia berlari sekuat yang dia bisa, hanya saja gerombolan murid-murid berseragam lain yang berseliweran seakan menghalangi langkah cepatnya.

Kenapa mereka berangkat di hari libur?

Gadis itu mengumpat dalam hatinya. Merasa murid di sekolahnya ini terlalu rajin. Sekarang hari libur. Masih seminggu lagi sebelum hari pertama masuk untuk memulai tahun ajaran baru. Tapi, ternyata yang berpikir untuk masuk hari ini bukan hanya dirinya saja.

“Siswa baru. Ada beberapa yang akan direkrut.”

Direkrut? Gadis itu menyeringai sinis. Dasar namja bodoh. Untuk apa merekrut murid baru? Apa dia kekurangan stok member? Apa dia berubah pikiran tentang syarat-syarat perekrutan?

“Aku akan menyumpahinya jika aku tidak mendapatkan sesuatu yang berarti hari ini.” bisik gadis itu. Lebih kepada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, masa liburnya sangat, sangatlah penting bagi dirinya. Dan satu-satunya alasan dirinya sudi berangkat sekolah hari ini? Tentu saja ucapan namja bodoh itu.

Hari buruk. Ya. Alih-alih memberinya pekerjaan mendadak di akhir-akhir hari liburnya. Lagi-lagi. Ya, lagi-lagi Kiki merasa sangat menyesal dengan keputusannya untuk bergabung di klub majalah sekolah. Bahkan sejak awal, dia sama sekali tidak berminat masuk klub miskin itu. Dia hanya terpaksa bergabung karena sistem sekolahnya yang mengharuskan seluruh murid kelas 1 dan 2 untuk harus mengikuti satu klub di sekolah. Hanya satu. Ya ampun, mengingat betapa bodohnya dia mau saja disuruh masuk ke dalam klub majalah konyol ini membuatnya semakin kesal.

Terlebih. Alasannya pergi ke sekolah hari ini. Mencari tahu murid baru yang akan direkrut klub paling terkenal satu sekolah–yang pasti bukan klub majalahnya–? Yang benar saja! itu bukan urusannya! Dirinya bahkan sama sekali tidak merasa peduli.

Klub itu. Heh~ apa sebegitu pentingnya hingga klub-klub kecil harus sengsara hanya karena mereka mengumumkan akan memilih langsung murid baru untuk dijadikan anggota?

Baiklah. Salahkan main-set klub-klub di sekolahnya. Lagi. Bagi klub kecil, bisa merebut calon anggota klub besar bagaikan sebuah prestasi yang sangat mengutungkan. Secara otomatis, klub kecil itu bisa menjadi lebih terkenal dan secara tidak langung, mendapatkan kesempatan lebih untuk memenangkan dana OSIS lebih besar dari klub-klub lain. Licik. Begitu pikir gadis itu saat pertama kali mengetahui trik konyol itu.

Lucunya lagi, justru hal seperti itu selalu terjadi setiap tahunnya. Perebutan murid baru. Terutama murid baru yang sebelumnya sudah diincar klub-klub besar, bahkan sebelum tahun ajaran baru dimulai seperti sekarang. Mingu-minggu akhir di masa liburan menjadi masa tugas awal anggota klub lama untuk mencari tahu siapa saja murid baru di sekolah mereka. Menyaringnya. Mencari yang paling berpotensi. Lebih-lebih yang sudah jelas-jelas di-klaim oleh klub besar.

Maka dari itu tidak heran melihat banyaknya murid lama yang rela berangkat di hari lubur seperti ini. Sungguh membuat gadis itu risih, karena bagaimanapun juga dia adalah salah satu dari murid-murid kurang kerjaan yang mau-maunya disuruh klub mereka yang haus popularitas.

kenapa mereka tidak bermain dengan mainan mereka sendiri saja? Apa mereka tidak punya kerjaan lain selain membuat orang-orang seperti dirinya sengsara?

Gadis itu menghela nafasnya keras-keras. Langkah kakinya semakin cepat saat dia akhirnya berhasil berbelok ke salah satu koridor lain yang semakin ramai saja. Koridor yang membawanya ke bagian paling ujung bangunan sayap kanan sekolahnya.

Bruk!

Tiba-tiba seorang murid dari arah berlawanan menabraknya kalau saja dia tidak dengan sigap menjaga keseimbangannya, bukan tidak mungkin pagi-pagi seperti ini dirinya sudah tersungkur mencium lantai koridor.

Baiklah. Hari ini rasanya semakin berat saja baginya.

“Mianhamnida, aku tida– Eo? Kim Kiki?”

Gadis itu mendongak kearah orang menabraknya tadi. Merasa heran ketika mendapati sesosok namja pendek berambut pirang yang tengah tersenyum sumringah kearahnya. Namja ini.. mengenalnya?

“Namamu Kim Kiki, kan?”

Gadis itu mau tidak mau mengangguk kecil. Namanya memang Kim Kiki. Namja ini mengenalnya, tapi kenapa dia justru tidak merasa familiar sama sekali dengan wajah namja yang masih terus tersenyum ini?

“Apa kau menabraku untuk menanyakan siapa namaku?” ujar Kiki dingin. Namja itu terdiam sebentar, lalu tersenyum ramah lagi. Mendadak Kiki merasa ngeri melihat senyuman terlampau ramah milik namja itu. Senyumnya.. aneh.

“Tentu saja tidak. Aku minta maaf karena menabrakmu.” Namja itu berujar santai sekali. Masih dengan senyumnya.

Kiki menatap namja itu dari kaki sampai wajahnya lagi. Dia bisa menangkap tag pengenal di lengan atas seragam sekolah namja itu. 3 garis berwarna hitam. Dia anak kelas tiga, tingkat akhir. Jelas bukan seangkatannya di kelas 2. Jadi kenapa perlu dia berdiam disini untuk berusaha mengingat apa dirinya mengenal namja ini atau tidak?

Kiki melengos pelan lalu segera berbalik untuk kembali melangkah meninggalkan namja itu. Tapi belum sempat dia berjalan, tangan namja itu tiba-tiba menahannya kuat-kuat. Merasa risih, Kiki menatap tajam kearah tangan namja –yang notabene adalah kakak kelasnya– itu.

“Apa kau terburu-buru? Bisakah kita bicara sebentar? Aku juga sedang terburu-buru. Jadi kupastikan tidak akan lama.” Namja itu melepaskan tangannya. Kiki terdiam sebentar. Apakah dia harus mengikuti apa kata namja ini? Seharusnya sih tidak. Tapi. Entah mengapa Kiki membalik badannya untuk kembali menghadap namja itu.

Namja itu tersenyum senang saat berhasil membuat Kiki menyerah dan berbalik kearahnya.

“Nah bisakah kita mencari tempat mengobrol yang lebih nyaman?”

Kiki mengernyit lalu buru-buru menggelengkan kepalanya. Gadis itu bahkan mengangkat kedua tangannya sebagai penolakan.

“Disini saja. Seperti yang kau bilang. Kita sama-sama terburu-buru.” Ujar Kiki cepat. Namja itu hanya menanggapi dengan anggukan singkat.

“Ehm.. namaku Byun Baekhyun. Seperti yang sudah kau sadari aku anak kelas tiga.”

Namja bernama Byun Baekhyun itu mengulurkan tangannya. Sedangkan Kiki justru menatapnya heran. Baekhyun ini seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Kiki tadi.

“Kau tidak ingin menjabat tanganku? Aku ini sunbae, lho.” Ujar Baekhyun sembari tersenyum lebar. Sedikit terpaksa Kiki mengangkat tangannya dan menyambut uluran tangan Baekhyun.

“Kau.. sudah tahu namaku” ujar Kiki. Sebisa mungkin berusaha santai walaupun entah karena alasan apa dirinya mulai merasa takut dan enggan terus berlama-lama dengan Byun Baekhyun ini.

“Nah, karena sepertinya kau sedang sangat terburu-buru. Aku akan langsung mengatakannya. Kudengar kau bekerja untuk majalah sekolah, geurechi?”

Kiki menatap Baekhyun heran. Apa saja yang namja ini tahu tentang dirinya?

“De.”

“Jadi yang membuat berangkat sekolah hari ini adalah majalah sekolah juga, kan?”

“De. Kurang lebih begitu.”

Dia bilang dia akan langsung mengatakannya. Apa sekarang?

“Mian. Aku terlalu berbelit-belit, ya?”

Kali ini Kiki yang melemparkan senyuman kearah Baekhyun. Senyuman masam.

Itu dia tahu.

“Kiki-ssi.. asalkan kau tahu saja seharusnya kau berterimakasih padaku. Igeo. Ini untukmu.” Baekhyun sekali lagi mengulurkan tangannya. Tiba-tiba saja di tangannya kini ada secarik amplop abu-abu. Merasa amplop itu ditujukan untuknya, Kiki segera meraihnya dengan hati-hati.

“Ige.. mwol?”

“Hadiah.”

Kim Kiki mengernyitkan keningnya bingung. Baekhyun bilang apa tadi? Hadiah? Bahkan namja ini memberinya hadiah di saat pertama kali mereka bertemu?

“Untuk.. ku?” hati-hati Kiki menatap amplop abu-abu yang sudah beralih di genggaman tangannya.

Tiba-tiba saja Baekhyun terkekeh pelan. Sontak Kiki mendongakan kepalanya. Merasa terganggu dengan kekehan kakak kelasnya itu. Apa-apaan? Baekhyun menertawakannya?

“Yah~ bisa dibilang ini untukmu. Sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu. Tapi, kau sedang terburu-buru, kan? Kuharap kau paham sendiri setelah membuka isinya. Dan juga..” Baekhyun menundukan kepalanya sedikit untuk menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kiki. Walau namja itu pendek untuk ukuran anak laki-laki tingkat akhir, tapi Kiki masih sedikit pendek darinya.

“Dan juga kau harap kau bisa segera pulang setelah membaca isinya. Kau lelah disuruh berangkat di hari libur, kan?” Bisik Baekhyun. Mau tidak mau Kiki merasa pipinya memanas. Tapi, buru-buru gadis itu berdeham kecil dan beralih menatap amplop yang diberikan Baekhyun padanya tadi.

Kiki tidak tahu dia harus merasa senang atau kesal. Entah kenapa dia merasa percaya pada kata-kata Baekhyun yang mengatakan dengan surat ini dia bisa cepat pulang. Tapi, betapa gampangnya Baekhyun melakukan ini –memberinya surat dan mengatakan tugasnya bisa segera selesai– justru membuatnya merasa diremehkan.

“Nah! Kita sudah selesai. Senang bisa bertemu denganmu. Aku pergi dulu.” Baekhyun tiba-tiba saja menegakan tubuhnya lagi dan berbalik pergi. Sedangkan Kiki malah menatapnya dengan mulut sedikit terbuka saking terkejutnya.

Dia.. pergi begitu saja?

Untuk sepersekian detik Kiki hanya menatapi punggung Baekhyun yang menjauh. Hingga dirinya sendiri tersadar dan buru-buru menggelengka kepalanya kuat-kuat. Entah kenapa sekilas tadi dia ingin sekali berteriak mengucapkan terimakasih pada namja itu.

Beruntung dia tidak jadi melakukannya. Bukankah dia bahkan belum membuka isi amplop yang tengah dipegangnya saat ini?

Kiki menunduk menatap amplop abu-abunya. Pelan-pelan tanganya membuka penutup amplop itu. Saat ditariknya kertas surat di dalamnya, Kiki bisa melihat barisan kalimat yang menyambutnya. Tanpa sadar gadis itu memicingkan matanya setengah tidak percaya.

Apakah ini sungguhan?

Apa surat ini tidak sedang menipunya?

Kalimat itu..

Daftar murid baru utama klub XOXO
_____________
Busan

Riah’s POV

Aku mendongakan kepalaku menatap kaca-kaca bus yang seakan menatapku tajam. Ini aneh. Sekarang aku merasa aku jauh lebih takut daripada saat aku di dalam mimpiku tadi malam. Rasanya.. ini benar-benar nyata dan baru bagiku.

“Riah-ya.. sesampainya kau disana kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” suara berat Appa membuat segra tersadar. Aku mendongak dan buru-buru mengangguk mengerti.

“Tenang saja Appa.. anakmu ini sudah 8 kali ke Busan-Seoul sendiri. Aku juga sudah hafal rumah Kim Ahjumma. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.” Ujarku cepat. Appa hanya tersenyum. Disampingnya Eomma ikut tersenyum walau samar. Pasti beliau masih sedih karena aku ikut-ikut jejak Eonni untuk sekolah di Seoul. Maaf eomma~ anakmu ini memang benar-benar..

“Riah-ya~ jaga dirimu..”

Aku menoleh ke arah Eonni. Dia tidak tersenyum atau apa. Dia hanya menatapku sambil mengelus kepalaku. Lagi.

“Eonni.. aku minta maaf soal yang tadi pagi. Kau tidak marah, kan?” ujarku tiba-tiba. Jin Ah eonni hanya membalasku dengan kekehan. Terakhir dia menepuk kepalaku pelan. Hei, aku tidak sedang bercanda tahu.

“Tidak usah sok melankolis. Dia Seoul sana kau harus kuat. Maka dari itu kau harus meninggalkan kami dengan kuat juga.”

Aku mencibir pelan. Aku kan hanya di Seoul. Menurutku itu tidak terlalu jauh. Coba aku sekolah di Jepang atau luar negeri lain seperti eonni. Eonni baru bisa berkata seperti itu.

“Riah-ya.. pesanku kalau bermimpi buruk lagi. Jangan susahkan Kim Ahjumma, pasang alarm keras-keran di dekat bantalmu. Ara?” ujar Jin Ah eonni santai. Sedangkan aku pura-pura sibuk membenarkan letak koporku. Tapi tunggu dulu. Mimpi?

“Eonni! Kau tahu tidak?”

“Hemm?”

“Aku… aku…”

Jin Ah eonni mengerutkan keningnya.

“Hanya saja.. aku.. aku lupa aku tadi mimpi apa.”

PLETAK.

“Aik! Aw! Eonni appeo!!” aku menoleh cepat. Melempar tatapan protes karena dia memukul kepalaku dengan keras secara tiba-tiba. Tindakan brutal macam apa ini? Ini kan masih pagi!

“Dasar bodoh!! Kau membuatku khawatir! Kau tahu ini hari keberangkatanmu? Kau tidak boleh sakit di hari pertamamu keluar dari rumah!!” seru Jin Ah eonni kesal. Sedangkan aku sibuk mengelus kepalaku yang memanas setelah dipukul begitu saja oleh Jin Ah eonni.

“Apanya? Setiap hari aku keluar dari rumah! Ini bukan hari pertama, eonni!”

“Heish~ maksudnya ini adalah hari pertama kau meninggalkan rumah. Kau akan tinggal di tempat yang baru mulai nanti siang. Tempat itu jauh dan kau tidak bisa pulang ke rumah seenaknya. Kau tidak boleh manja. Tidak bisa merepotkan orang lain. Tidak boleh malas! Maka dari itu kau juga tidak boleh sakit! Aduh~ kenapa yang seperti ini saja aku harus menjelaskannya padamu, huh?”

Aku sontak mengerucutkan bibirku kesal. Iya Iya iya. Aku juga sudah tahu. Dasar cerewet.

Dari ekor mataku aku bisa melihat Jin Ah eonni menatapku dalam. Aigoo~ apa dia masih merasa sedih jika aku akan pergi?

Yang benar saja. Dia juga tidak tinggal di rumah saat SMA dulu. Saat lulus SMP dia sekolah di Jepang dan membuat ‘rumah’-nya sendiri disana. Kuliah disana. Menghabiskan waktunya disana. Hingga dia bertemu dengan Jun Ki oppa dan menikah dan akhirnya benar-benar tidak tinggal di rumah keluarga lagi.

Mengingat cara hidupnya yang jauh dari rumah membuatku sedikit iri. Aku juga ingin punya duniaku sendiri. Walau di rumah dengan kedua orang tuaku –sungguh– benar-benar menyenangkan. Tapi, pasti hebat jika aku punya cerita yang terpisah. Pasti seru.

Dan akhirnya setelah menamatkan masa SMP-ku yang menyenangkan, aku bisa benar-benar diijinkan tinggal di luar rumah. Aku akan sekolah! Tidak di luar negeri sih. Masih di Korea. Di Seoul. Rumahku di Busan. Pantainya korea -_____- Baiklah ayahku bukan nelayan. Ibuku juga tidak berjualan di pasar ikan. Hanya tinggal di Busan bukan berarti semua penduduk disini bermata pencaharian sebagai pencari ikan di laut, kan?
Walau tidak bisa dipungkiri disini memang banyak sekali ikan murah. Baiklah ini tidak penting. Yang penting siang ini adalah Seoul!

Bodohnya aku bisa sempat melupakan keberangkatanku tadi. Karena mimpi bodoh yang lagi-lagi muncul itu. Nah, aku masih mengingat mimpi bodoh itu, kan?

“Riah-ya~”

“Ah itu busnya, kan? Aku ingin lihat busnya ah.. Eonni mau ikut?”

Aku buru-buru beranjak kearah bus sebelum eonni sempat mengatakan sesuatu.

Pagi ini memang aku terbangun dengan mimpi buruk itu lagi. Tapi, aku adalah Shin Ri Ah bukan Sigmeunt Freud. Masa bodoh dengan alam bawah sadarku yang konyol itu. Yang kuhadapi sekarang adalah kenyataan, dimana aku akan memulai tinggal di Seoul siang ini. Apapun yang akan terjadi disana saat aku tiba nanti. Aku akan menghadapinya tanpa takut. Karena ini adalah dunia nyataku yang kulihat telah benar-benar di depan mataku.

Ri Ah’s POV end
______________

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s