[FANFICTION] Time Machine

Standard

 

Cast                       :

  • Pess(x)

Genre                   : Pure friendship

Length                  : Ficlet

Jika Time Machine benar adanya

Bolehkah aku meminjamnya sebentar?

Mungkin ini memalukan

Atau pula menyedihkan

Tapi aku hanya ingin memperbaikinya

Memperbaiki semuanya

May, 6th 2012

Main room. Pess(x)’s Dormitory

Neul Hyo’s POV

Aku membuka mataku perlahan. Mendapati diriku masih berada di kasur lantai kamar tengah dorm kami. Disebelahku Hyun Hyo dan Kiki masih tertidur. Begitu pula dengan yang lain.

Tiba-tiba saja pandanganku tepat terfokus pada wajah Taeri yang tidur di sebelah Ria di dekat pintu. Matanya sembab, terpikir olehku pastilah dia tertidur dalam keadaan menangis tadi malam. Sedangkan di sebelahnya Ria tertidur menunduk. Membenamkan wajahnya di bantal pearlescent blue.

Aku menghela nafas. Bantal itu milik-nya. Bantal SHINee yang beberapa minggu lalu diklaim Ria sebagai miliknya juga.

Aku tersenyum nanar. Mengingat kejadian-kejadian yang lalu, akhirnya sampai juga pada kejadian tepat kemarin sore. Sebenarnya aku tidak cukup tahu apa yang terjadi saat itu. Hany sedikit yang kutahu, tapi tetap saja rasanya ada yang aneh saat mendapati aku terbangun tanpa kelengkapan 7 member.

Walau terasa aneh dan aku, bisa dibilang tidak tahu apa-apa. Tapi tetap saja aku merasa aku turut punya andil dalam masalah ini.

Rasanya aku ingin kembali ke kejadian sore terakhir kemarin. Berada disana saat semua itu terjadi. Mungkin aku akan berusaha memperbaikinya. Atau yang paling sial, mungkin aku setidaknya tahu apa yang terjadi.

Bagaimanapun juga, kami adalah teman, kan?

Aku tersenyum. Mantap.

Perlahan aku menatap member-member lain. Beranjak bangun saat sadar aku sendiri tidak akan tega membangunkan mereka saat ini. Mereka semua tampak sangat kelelahan.

Jadi aku keluar dalam diam. Memutuskan untuk mencuci mukaku sebentar.

 

 

Memperbaiki masalah

Terdengar sangat sederhana

Ketika kau bahkan tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya

Tapi siapapun tahu

Siapapun yang pernah melakukannya

Bahwa semuanya tidak se-simple itu

 

 

Hyun Hyo’s POV

Aku menghela nafasku sepelan mungkin. Sedikit bunyi Neul Hyo menutup pintu terdengar di telingaku.

Tidak. Bukan maksudku menghindar darinya. Aku hanya benar-benar tidak ingin atmosfir yang sama semenjak kejadian kemarin, terulang lagi.

Walau aku yakin tahu bahwa Neul Hyo sedang bertanya-tanya akan kejadian kemarin. Tapi, pada khirnya aku tetap tidak ingin mengungkit masalah itu lagi.

Bukan karena aku ingin menghindari yang ini juga. Tapi, sudah kubilang, kan?

Aku tak ingin suasana kaku itu terulang lagi. Aku hanya ingin semuannya berjalan seperti biasanya. Sungguh aku tidak suka dengan suasana yang sekarang. Mana Pess(X) yang sebelumnya?

Tidak. Mungkin ini terdengar konyol bagimu karena kau mendengar pernyataan ini dari member yang bahkan jarang ikut bergabung.

Aku tahu aku salah. Aku berusaha untuk bergabung akhir-akhir ini. Semuanya berjalan lancer. Sangat lancar sebelumnya, hingga kejadian itu terjadi.

Itulah sebabnya aku ingin semuanya cepat berakhir. Menjadi sehangat ‘kami’ yang dulu.

Sungguh aku merindukannya..

Aku menghela nafasku lagi. Bangkit berdiri. Sepertinya aku harus membangunkan member lain. Apapun suasana yang terjadi hari ini.

 

 

Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir

MAsalah ini berakhir indah

Dan hanya itu saja

Apakah itu sulit?

Apapun itu… sepertinya sesulit saat ini

 

 

Shin Ah’s POV

Aku terduduk. Baru saja Hyun Hyo membangunkanku. Tidak cukup sulit untuk beranjak karena pada awalnya tidurku memang tidak sepenuhnya nyenyak.

Aku melirik Hyu Hyo yang juga baru saja membangunkan Kiki dan Ria. Mendengus pelan sebelum akhirnya membangun Taeri.

Rasanya semuanya berjalan cepat sejak kemarin sore. Sejak kejadian itu terjadi. Kami pulang tanpa-nya dan kami berdiam diri semalaman. Tidak berbicara satu sama lain. Hingga tertidur bersama dikamar tengah dan bangun keesokan harinya.

Terasa cepat. Hingga aku merasa semua ini masih dalam mimpi. Dia diantara kami pagi ini.

Aku tahu semua ini seharusnya tidak terjadi. Tidak perlu terjadi.

Semuanya terasa sepele hingga aku merasa semua ini seharusnya tidak pernah terjadi saja. Bahwa,

kami tetap bertujuh keesokan paginya, tanpa masalah.

Aku menghela nafasku kuat-kuat. Pergi ke dapur dan mendapati Neul Hyo disana.

Dia tersenyum padaku. Pasti sebenarnya dia masih ingin tahu pa yang sesungguhnya terjadi. Tapi, kurasa dia hanya menahannya. Aku yakin Kiki mau menceritakannya dengan jelas pada Neul Hyo nanti.

Sebenarnya aku juga merasa bersalah padanya. Sudah kubilang aku pikir tidak seghrusnya ini terjadi. Dan berdampak pada pagi kaku untuk kami. Dan pagi aneh untuk Neul Hyo.

Aku.. ingin menghindarinya. Karena semua ini tidak seharusnya terjadi.

 

 

Ini sulit

Sungguh semua ini seharusnya tidak terjadi

Ini bisa saja berakhir lebih indah

Tapi pahit ketika tahu ini berakhir buruk

Membuatku benar-benar ingin menghindarinya

Dari masa lalu

 

 

Kiki’s POV

Aku mengusap ujung mataku. Melirik kearah Ria yang melakukan hal sama. Ria masih terlihat mengantuk dan kelelahan saat dia menoleh kearahku. Lalu Ria memberanikan diri menoleh kearah Taeri yang terlihat sama lelahnya.

Kami baru saja bangun dari tidur dan terlihat kelelahan. Aneh memang kedengarannya. Tapi tidak aneh jika mengingat kejadian kemarin sore.

Samar aku mendengar Taeri berkata sesuatu pada Ria. Suaranya sangat pelan, membuatku semakin sadar kami lebih dari sekedar kelelahan.

Aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku yakin aku mendengar ‘salah’ dan ‘maaf’. Dua kata yang sebenarnya juga sering mampir ke otaku sejak tadi malam. Setelah kejadina itu.

Kami salah dan kami minta maaf.

Aku tidak tahu apa yang bisa kukatakan selain itu.

Ah, tidak kami masih bisa menghindari masa lalu.

Sayangnya mustahil karena time machine tidak benar-benar ada.

Aku bangkit. Menghampiri Ria dan Taeri di dekat pintu. Menepuk bahu mereka berdua sembari ikut nergabung duduk.

Time machine tidak benar-benar ada. Itu faktanya.

 

 

Alat penuh fantasi itu memang salah

Tak pernah ada

Apa terdengar menyedihkan?

Sepenuhnya tidak.

Karena dengan kenyataan itu

Sebuah kesadarn datang

Bahwa tidak ada cara lain selain minta maaf

 

Ri Ah’s POV

Pernah dengar ‘salah hingga langit’?

Mungkin itu yang terjadi pada kami. Kami salah. Dan merasa sangat bersalah. Tapi yang jauh aku takutkan adalah yang terjadi setelahnya. Selanjutnya.

Aku merasakan bahuku ditepuk. Kiki eonni tersenyum kearah kami – aku dan taeri. Seakan menyuruk kami berdua untuk tidak takut.

Aku takut kami tidak terlihat seperti yang dulu lagi setelah ini.

Aku takut itu terjadi. Semua inilah yang membuatku pada awalnya menginginkan sebuah keajaiban. Keajaiban agar semua ini berakhir.

“Kita harus minta maaf”

Aku menoleh. Kiki eonni menatapku. Dia benar.

Tidak seharusnya aku mengharapkan keajaiban.

“Kau benar. Kita harus minta maaf.”

Aku menoleh lagi. ShinA eonni, Hyun Hyo eonni masuk. Didepannya Neul Hyo eonni menganggukan kepalanya mantap.

Aku tersenyum. Menoleh kearah Taeri. Dan mendapati senyum yang sama dibibirnya.

Klak.

Aku mendengar suara pintu yang dibuka. Cukup sadar akulah yang berada paling dekat di pintu. Aku beranjak untuk melihat pintunya. Sedikit kahawatir jika tadi malam kami lupa mengunci pintu utama. Dan mebuat siapa saja bisa masuk ke dalam.

Aku beranjak. Membuka pintu dan mendongak.

Dan keajaiban itu ada ketika kita sadar dia tidak akan datang tanpa usaha.

 

takut akhir yang buruk

mengharapkan keajaiban yang datang

mendambakan time machine yang muncul tiba-tiba

Tidakah itu tindakan pengecut?

Sampai kau sadar dengan ‘maaf’ maka keajaiban itu datang

Taeri’s POV

“Aku salah. Aku ingin minta maaf..”

Bisikku pelan pada Ria dan Kiki. Walau sebenarnya tidak yakin Kiki mendengar bisikanku.

Aku menunduk. Rasanya aku ingin menangis. Susah payah aku berusaha menahannya. Hingga aku merasakan tepukan di bahuku. Dari Kiki.

“Kita harus minta maaf”

Aku mendongak. Menatap wajah serius Kiki

Ya. Aku juga berpikir begitu. Aku salah. Kami salah. Dan berarti kita harus minta maaf.

“Kau benar. Kita harus minta maaf.”

Kali ini Neul Hyo eonni yang bilang. Perlahan aku bisa melihat eonnidul mulai tersenyum.

Ria menoleh kearahku. Sambil tersenyum. Membuatku sadar, akulah satu-satunya yang belum tersenyum.

Jadi aku tersenyum. Merasakan kehangatan yang mulai menjalari hatiku. Kehangatan yang menghilang dari kami sejak semalaman.

Klak.

Aku mendengar suara pintu dibuka. Pintu utama. Detik berikutnya, Ria eonni beranjak.

Aku mengawasinya membuka pintu.

Dan sesuatu terjadi.

“E..eonni?”

Aku membeku. Ria bilang apa? Eonni?

Tidakah dia kembali?

Taegi Eonni?

 

 

Mungkin ini memalukan

Atau pula menyedihkan

Jika kami mengharapkan semuanya berakhir indah tanpa usaha apa pun

Ya, kan?

Jadi..

Kami minta maaf

__________________________

Advertisements

5 thoughts on “[FANFICTION] Time Machine

  1. Sist, ini… semacam songfict kah??
    Dalem banget kalimat2 yang center itu.. 🙂
    ini critanya idol group ya? bagus deh, cara u menyampaikan tiap scene dengan kalimat yang sederhana itu enak dan ngena banget.
    Kasian Taeri ya.. kyaknya paling tertekan disini.
    Tapi yg jelas qta emang harus selalu tersenyum kan saat mencoba menyelesaikan apa pun..
    Dan walaupun ‘kuno’, tapi ga bsa dipungkiri kalo semua masalah akan tunduk dengan kata ‘maaf’

    • mm.. sebenernya bukan songfict juga sih.. gak menyangkut lagu manapun soalnya

      iyaah.. itu idol grup ^^ abal-abal tapi.. bukan fanfict juga ya berarti.. soalnya isinya OC semua, salah label nih sayanya
      makasi buat komennya ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s