[Oneshot] The Story Only I Didn’t Know

Standard

The Story Only I Didn’t Know

Author          : @nae_in a.k.a Fina
Type            : Oneshoot
Genre           : Romance, complicated, friendship
Length          : Oneshot

Disclaimer      : Ide author, plot author, fanfic author yang dikasih Allah SWT ke otak author dan disalurkan disini. Inspirasi… datang melalui proses merenung (?) yang cukup panjang, kalo filosof jendela itu dapet dari lyric-nya TRAX yang judulnya Blind, kalo gak salah sih #dihajartraxian. Wooyoung milik Hottest ma Ika eonni. Dpessx milik… milik siapa ya?. Kalo Minhyuk milik Author #tidakterimacomplainuntukdisclaimer ;P
Warning         : Mungkin reader, except risqa eon, saya dan pessx member, agak bingung. Tapi karena author orangnya males beri penjelasan lengkap-lengkap, jadi kalo bingung tanya aja ma main cast-nya (Risqa eon). Oh ya, tidak diperuntukan bagi reader bingung, jangan terlalu dipikirin dah! Ini FF buat Risqa eon tadinya… jadi kalu ika eon gak protes bingung, ya author biarkan apa adanya. Toh tujuannya kelar :P
Ah… DON’T FORGET TO RCL! JUGA JANGAN COPY SEENAK JIDAT MINHYUK!! PERMISI DULU MA AUTHOR YA~ walau ini ff abal lebae gak mutu tur gaje tapi tetap karya saya originally.. jadi dimohon etika reader yang baiknya ^^
Note            : seperti yang sudah saya bilang sebelum-sebelum-sebelum-sebelumnya. Ini FF untuk bayar utang janji FF ke Ika eon. Mulai sekarang dah kelar ya, eon?... tapi inget FF feedback darimu untukku ditunggu.. hhohohohoho
At last… enjoy!
Main Casts     :
  • Risqa Puspita Nur Hidayati
  • Sam Neul Hyo
  • Jang Wooyoung
  • Shin Min Kwang
  • A boy [still secret]
Supports Casts           :
  • Pessx’s member
  • Kang Min Hyuk
Song background : HIGHLY RECOMMENDED!!!
  • IU – The Story Only I Didn’t Know (all along story)
  • IU – Last Fantasy (when lyric appear)
  • IU – Hold My Hand (ending story)

 ________

Aku menatap lurus keluar jendela kereta bawah tanah yang melaju dengan kecepatan sedang. Sama sekali datar. Memandangi pemandangan hitam di luar jendela.

Perlahan aku mendengus. Untuk apa kereta bawah tanah seperti ini memiliki jendela? Jika pada akhirnya penumpang tak kunjung melihat pemandangan apapun selain gelap yang gulita.

Terkekeh pelan. Aku berusaha membuang pikiranku yang tidak penting ini. Omong kosong jendela ini. Merasa tak ada pemandangan lain yang tak bisa dilihat penumpang selain dirinya. Selain jendela itu.

Ya… tahukah dia? Tahukah dia bukan dialah yang benar-benar dilihat para penumpang ini.

Tahukah dia? Bahwa yang mereka lihat sebenarnya adalah pemandangan diluar sana. Diluarnya?

Jangan bodoh! Seburuk apa pun pemandangan diluar. Mereka tetap melihat keluar. Bukan pada jendela itu.

Seperti saat ini..

___________

Gadis menatap lurus kearah lembar cover majalah yang tengah dipegangnya saat ini. Matanya berbinar-binar senang, seakan  apa yang tengah dilihatnya saat ini adalah suatu hal berharga baginya.

“nuhl saranghae~ jeongmal… Wooyoungie” bisik gadis itu pelan. Masih terus menatap cover dengan seksama. Tangannya meraba perlahan permukaan halus cover itu. Terlampau pelan seakan-akan jika dia menekan terlalu kuat sesuatu yang amat buruk akan terjadi dengan cover majalah itu, yang artinya juga buruk bagi dirinya.

‘2PM TOUR CONCERT ASIA  : THE HOTTEST – INDONESIAN’S TURN!’ tercetak tebal dan terpampang jelas di halaman cover itu. Merupakan satu kalimat menggemparkan bagi seorang siswi SMP seperti dirinya. Diri gadis itu.

Berkali-kali sudah mulut gadis itu membaca kalimat itu bak mantra yang selalu berhasil membuatnya berjengit semangat setelahnya. Suatu hal sepele mungkin bagian orang lain. Bagi orang yang sama sekali tak tertarik atau bahkan awam dengan nama 2PM. Bagi teman-teman sekelas gadis itu.

Baru beberapa waktu lalu ketika gadis itu memegang majalah itu dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Tapi kini bagai berita lalu. Teman-temannya beranjak satu-persatu, memilih segera membeli camilan 1000 rupiah di kantin sekolah ketimbang harus terus meracau atau, lebih tepatnya mendengar racauan gadis itu dengan cover ditangannya. Cover kebanggaannya. Agaknya mereka merasa konser musik selalu dilaksanakan di ibukota, seakan tak pernah pantas kota kecil mereka mendapat lirikan untuk ikut serta disinggahi sang artis, jadi sia-sia saja meracau dan bermimpi sekarang ini, toh mereka juga tetap tak akan melihat sang artis, bahkan sekelebat sosoknya sekalipun, tentu saja kecuali di layar ajaib, TV.

“Hanya euphoria sesaat, tak akan berimbas dan berguna padamu mbak~”

Gadis itu tersentak kaget. Lamunannya akan tata lampu konser dan intro lagu yang baru saja akan memasuki lirik pertama, tiba-tiba menghilang sekejap. Seakan terbang bersamaan dengan bisikan santai tak tahu diri itu.

Gadis itu menoleh cepat. Detik berikutnya, lagi-lagi, gadis itu merasa terkejut. Bagaimana tidak? Di sampingnya kini seorang siswa laki-laki dari kelas 7 tengah ikut menatap cover ditangannya. Berdiri dekat disebelahnya, mendebarkan. Seseorang nomor dua yang akhir-akhir ini menyelubungi pikirannya. Siswa itu.. ada disini?

“Hah?” gadis itu mengernyitkan keningnya. Betapa dirinya merasa heran dengan kedatangan tiba-tiba seseorang itu di kelasnya.

Seakan tak menghiraukan wajah heran kakak kelasnya. Siswa itu menyandarkan dirinya ke bangku di sebelah gadis itu. Sukses membuat gadis itu tak kuasa menahan detak jantungnya yang menggebu.

Beribu pertanyaan keluar dari mulutnya. Apakah kedatangan adik kelas itu semata memang untuk menemuinya? Menanyakan apa kabarnya? Bagaimana dengan perasaannya ketika melihat gadis itu tengah memegang erat cover ini? Cemburukah?

“Sudah membuat pembukaan? Kata pengantar? Buat dulu yang awal-awal. Aku masih sibuk di OSIS.” Ujar siswa itu santai. Matanya hanya menatap lurus papan tulis di depannya. Sama sekali tak melirik lawan bicaranya.

Seperti daun yang jatuh satu persatu di musum gugur. Harapan gadis itu juga gugur. Satu persatu.

Menyedihkan. Kedatangan-‘nya’ hanya menanyakan tugas akhir mereka. Diam-diam gadis itu mengumpat dalam hati. Bagaimana dia bisa lupa perihal last project anak kelas 7 dan 8 yang saling dipasangkan untuk mengakhiri tugas social mereka di sekolah?. Bagaimana ia bisa melupakan kalau doanya untuk menjadi satu partner dengan siswa disebelahnya ini telah dikabulkan?

“Aku akan cari bahan. Nanti di bahas bersama di pendopo jika sempat.” Ujar-‘nya’ cepat. Masih menatap papan tulis.

Tiba-tiba saja gadis itu tersenyum senang. Bersama? ‘bersama’ dia bilang?. Oh.. sungguh menakjubkan. Gadis itu mulai berfikir mungkin kedatangan-‘nya’ kesini memang untuk bertemu dengannya. Menjadikan tugas ini sebagai alasan satu-satunya? How classic..

“O! tugasku selesai mas bro! ditumpuk bareng yo!” teriak-‘nya’ tiba-tiba. Lagi-lagi membuyarkan lamunan gadis di sebelahnya.

Tunggu! Mas.. Bro?

“Punyaku baru diprint. Tumpuk hipotesa-nya dulu, piye?”

Gadis itu menoleh keasal suara. Seorang teman kelasnya. Tengah berbicara dengan seseorang yang sedari tadi sedang menjadi pemeran utama dalam bayangannya.

“Saiki?”

“Saiki ae, gelak mlebu!”

Hati gadis itu mencelos, terlebih ketika sosok itu beranjak pergi. Tanpa basa-basi. Hanya pergi.

Matanya menatap punggung sosok itu. Tiba-tiba saja dilihatnya sebuah kliping cukup tebal digenggaman tangan sosok itu. Tugas lain. Alasan lain.

Jadi semua ini hanya harapannya? Siswa di sebelahnya ini datang ke kelasnya hanya untuk ini? Bukan, bukan menemuinya. Sama sekali bukan. Karena itu hanya sekedar harapan kosong.

Alasan utama. Bukan gadis itu. Hanya kliping tugas.

Menyedihkan.

_________

Intro dengan dentingan kuat tuts-tuts piano itu mulai terdengar. Disambut gesekan lembut biola yang mengubah emosinya. Mengoyaknya. Memaksanya masuk dalam lagu itu.

Jeongmal neon da ijotdora  You really forgot everything

Bangapge nal boneun noui olgul boni When I see you welcoming face

Guyeja eoryeompushi apaodora Then I started vaguely hurt

Sae sal chaoreuji mothan sangchoga A wound that can’t heal itself

Membawa emosinya. Mungkinkah ini.. hanya harapannya?

_________

“Yoboseyo?”

“Eonniiii!!!! How selfish you are! Kenapa kau tidak mengajaku ikut? Aku juga ingin ke Olympic Stadium!” teriak seorang yeoja 16 tahun itu, sukses membuat lawan bicaranya harus menutup telinganya rapat-rapat. Detik berikutnya gadis itu terkekeh pelan, merasa puas karena telah meninggalkan roommate-nya di apartemen, seorang yeoja yang telah dianggapnya sebagai adik sendiri. Dengan cepat, sebuah ide jahil terlintas di benaknya.

“Ehm… bukankah kau sedang pergi dengan lovely namja-mu di Ilsan?. Apa yang sedang kalian lakukan sekarang?, berpegangan tangan?… ah sudah menemui calon ‘eomma’ dan ‘appa’-mu? Bagaimana mereka menyetuju “

“Ya! Ya! Ya!…. berhenti mengatakan hal omong kosong dan konyol seperti itu! Untuk apa aku ke Ilsan? Aku hanya mengantarkan Kiki eonni ke stasiun. Dia bilang dia ingin ke Mokpo. Jadi, seharusnya kau mengatakan omong kosong itu padanya!. Argh~ eonnideul menyebalkan!.. Shin Ah eonni ke Incheon… Kiki eonni ke Mokpo… saat aku pulang kau pergi ke Olympic Stadium! Kalian pikir aku apa, huh? ditinggal sendirian di apartemen!”

Gadis itu terkekeh lagi. Seakan senang mendengar penderitaan dongsaengnya itu. Bagaimanapun juga dongsaengnya itulah yang biasanya mem-‘bully’-nya selama ini. Jadi biarkan saja dia menderita, toh dia hanya pergi barang sehari.

“Aku akan segera pulang, Ri Ah… calm down~ lagipula kau bisa menjalankan ideku. Berdandanlah yang manis, Pergi keluar, ajak Kang Minhyuk berlibur ke Ilsan. Ke rumahnya. Karena kupikir, lama-kelamaan namja satu itu jauh lebih tertarik dengan drum-nya daripada dirimu.” Ujarnya santai. Tangannya menggenggam erat pegangan bangkunya. Bukan apa-apa. Hanya untuk menahan rasa gelinya untuk meledakan tawa. Dalam pikirannya, dicobanya membayangkan dongsaengnya yang kaku dan awkward mengajak Minhyuk untuk berlibur. Menggelikan.

“Ouh… don’t joke like this to me, eonniga! Itu sama sekali tidak lucu. Lebih baik aku membiarkan dia menjamur dengan drumnya daripada mengajaknya berlibur. Aku masih waras!” seru Ri Ah sebal.

Kali ini dirinya tak bisa menahan tawanya lagi. Sukses, pikirnya.

“Eiii Ah-ya geundaenikka.. jika kau bilang kau menyukainya, apakah itu artinya kau tidak waras juga?”

“EONNII!! GEUMANHAE! Atau aku akan membuatmu terkejut setengah mati dengan keadaan kamarmu saat kau pulang nanti!” pekik Ri Ah. Bisa dibayangkan wajah dongsaeng-nya itu yang memerah kesal sekaligus malu.

“Naega ara… Tapi bagaimana? Sepertinya nikmat sekali menggodamu. Tak kusangka seorang Kang Minhyuk bisa membuat dampak besar padamu. Ah… baguslah… kau sudah dewasa rupanya..”

“Eonni! Aku sudah dewasa dari dulu. Berhenti membicarakan namja bodoh itu lagi. Bagaimana dengan namja kekanakan-mu yang satu itu? Harusnya kau bilang padanya, dia terlalu tua untuk masih berfikir bahwa dirinya adalah namja idol yang digemari para yeoja seperti dulu! Urus dia!”

Kali ini dirinyalah yang harus benar-benar berhenti tertawa. ‘Urus dia’?, ‘namja kekanakan-mu’?…. Anhi Shin Ri Ah… dia bukan namja kekanakan eonnimu ini. Sama sekali bukan.

“Hei eonni… Dia baru saja menulis di akun oricon blog-nya. Dia bilang dia baru akan menemui seorang yeoja. Yeoja!. Hari ini…”

Bibirnya mengatup rapat setelah mendengar perkataan Ri Ah via telepon. Samar-samar otaknya mengingat pesan dari namja itu.

“Kita bertemu di Olympic Stadium. Siang ini.”

“Tunggu aku siang ini. Aku tahu aku telat. Aku dalam perjalanan”

“Ada suatu hal yang penting. Kau harus datang dan menunggu”

Dihela nafasnya pelan. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini. Sesuatu yang penting, kata namja itu. Geurae wae? Kenapa begitu banyak harapan. Harapan kosong. Hei… lihat kini dirinya mengingat perihal harapan kosong itu lagi.

Kepalanya mendongak. Matanya mengitari sudut-sudut ruangan luas dengan kursi-kursi merah yang tertata di Olympic stadium. Dia tidak ingin berharap lagi. Dia tidak ingin terjatuh untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin mendapati perpisahan pahit dikemudian hari seperti saat pertama kali dulu. Tidak lagi.

“Tapi.. dasar ayam bodoh, dia bilang fans-nya tidak perlu marah. Dia bilang yeoja itu hanya sekedar temannya. Dasar… siapa yang peduli? What a narciss” sambung Ri Ah.

Narsis?. Geurae… mungkin itulah yang cocok untuknya saat terlalu banyak berharap. Heh… dirinya pikir dia siapa?

“Eonni! Apa yang sedang kaupikirkan? kenapa kau diam saja? aku harus menutup telpon-nya. Drum jelek itu datang!. Bye~”

Hubungan telepon diputus begitu saja.

Ditahannya air mata yang mendesak maju. Bodoh. Apa dia berharap lagi? Kedua kalinya?

Dilangkahkan kakinya. Pelan. Tangan kanannya masih menggenggam erat ponsel-nya yang berkelap-kelip riang. Menandakan sebuah pesan masuk. Tapi sungguh, dirinya tidak mau melihatnya saat ini.

Kini dirinya telah sampai di pintu keluar stadium. Seakan menyambutnya untuk kembali dan membuang harap itu lagi.

Suatu hal penting? Dirinya sama sekali tak peduli.

“Mianhae~” bisiknya lirih. Berjalan keluar dari stadium.

“Datanglah, Hyo..”

____________

Nunmurun hurujil antora My tears wouldn’t flow

Ibyorira haneun ge daedanchido mothaeseo Breaking up wasn’t even a big deal

Irohke bojalgo sobsoso Because it’s worthless

_____________

“Rizka eonni, Siap?”

Aku menganggukan kepalaku sekali kearah Fina, teman sekelasku. Dia sudah menganggapku sebagai kakaknya, begitu pula sebaliknya. Aku mengedarkan pandanganku. Sebenarnya tidak hanya Fina saja. Banyak. Ada 5 orang lain. Teman sekelas, tapi juga adiku.

Masing-masing saat ini tengah memegang intrumen-instrumen musik diatas pendopo sekolah. Sibuk sendiri. Yah~ walaupun ini belum benar-benar real perform tapi ini latihan terakhir kami untuk acara besok pagi. Acara perpisahan kakak kelas Sembilan. Apalagi, beberapa anak OSIS berdiri di sekitar pendopo mengawasi kami. Ya… termasuk dia..

“Ehm~ tess. Hana dul set..”

“Woi! Jangan pakai bahasa antah berantah! Bahasa Indonesia ae, ngopo sih?”

Aku melirik siswa itu. Tumben sekali dia berani membentak kakak kelas lain selain aku. Dari sini bisa kulihat Fina mendengus sembunyi-sembunyi. Diliriknya diriku dengan ekor matanya. Seakan mencoba mengatakan ‘lihat-kelakuan-adik-kelas-kesayanganmu!’.

Sedangkan aku hanya bisa terkekeh kecil. Tapi tak bertahan lama karena tiba-tiba saja siswa itu berdiri disamping kiriku.

“Last Fantasy? apa iki?”

Aku menahan nafasku alih-alih mencoba mengontrol detak jantungku yang karuan.

“Lagu” jawabku seadanya.

Baru saja dirinya mau memprotes jawabanku ketika teriakan seorang anak Osis lain yang menyuruh kami untuk memulai latihan.

Dia beranjak pergi. Anak OSIS lain memang sekedar menonton dipinggir daripada disebut membina. Tapi, walau begitu aku bisa melihat dia sedikit mendengus kesal.

“Satu.. dua.. tiga..”

Musik intro mulai mengalun. Intro lagu ini memang cukup lama. Saat piano mulai membuat tempo untuk bernyanyi. Menandakan aku harus segera membuka mulutku.

__

Joheun kkumeul kkwotjyeo

Aneu kkotboda areumdaun

Chan baramgyore ibul danggimyo

Nuneul tteuni oneuriotjyo

Oneuse gyejoldo bakkwiotjyo

Hayan haneulgwa paran gureumjogakdeul

Ne mamdero geuryojidon got

Dasi mennal su isseulkka

Tto nege olkka?

Adeukhan go onjena neul areumdapge boijyo

Gakkai dagason sesangeun nege mwol boyojulkkayo

Ajik gobi meneun iron na

Geuderamyon nega geidedo dwelkkayo?

Dojogeumman mameul yoro julleyo

Geudaen nugun ga piryohaji annayo

Na chorom?

__________

 I had a good dream

More beautiful than any flowers

At the cold wind, I pull up the blankets

And I open my eyes and it is today

At some point the seasons have changed

The blue sky and the pieces of clouds

I drew them however I wanted at that place

I wonder if we will meet again

Will you come to me again

Faraway things always look beautiful

I wonder what the closely approached world will show me

I still have many fears and am still young

If it’s you. Can I lean on you?

Will you open your heart a bit more?

Don’t you need someone?

Like me?

Aku membuka mataku perlahan. Tanganku menarik sulur-sulur kabel earphone-ku. Samar-samar alunan musik itu merendah, hingga benar-benar jatuh dipangkuanku. Telingaku tak lagi mendengarnya.

Kulemparkan pandanganku keluar jendela kereta yang melaju sedang. Lagi-lagi aku berusaha menahan tangisanku yang mendesak maju.

Cukup, Sam Neul Hyo! Berhenti berharap dan terjatuh seperti ini!

Berhenti!

“Lihatlah keluar! Pemandangan diluar jendela kereta selalu menenangkanmu. Segelap apapun itu!”

Aku menatap lurus keluar jendela kereta bawah tanah yang melaju dengan kecepatan sedang. Sama sekali datar. Memandangi pemandangan hitam di luar jendela.

Perlahan aku mendengus. Untuk apa kereta bawah tanah seperti ini memiliki jendela? Jika pada akhirnya penumpang tak kunjung melihat pemandangan apapun selain gelap yang gulita.

Terkekeh pelan. Aku berusaha membuang pikiranku yang tidak penting ini. Omong kosong jendela ini. Merasa tak ada pemandangan lain yang tak bisa dilihat penumpang selain dirinya. Selain jendela itu.

Ya… tahukah dia? Tahukah dia bukan dialah yang benar-benar dilihat para penumpang ini.

Tahukah dia? Bahwa yang mereka lihat sebenarnya adalah pemandangan diluar sana. Diluarnya?

Jangan bodoh! Seburuk apa pun pemandangan diluar. Mereka tetap melihat keluar. Bukan pada jendela itu.

Seperti saat ini….

Hanya seperti diriku

__________

Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan dan kakinya gemetar hebat. Rasanya sekujur tubuhnya tidak dapat menahan lebih lama lagi. Tapi, lebih dari itu semua. Hatinya lebih terasa sakit. Sangat sakit.

Walaupun begitu gadis itu masih berdiri disana. Dibalik tembok kokoh kelasnya. Dari sinilah, dari sinilah dia bisa melihat semuanya. Semua adegan yang berhasil membuatnya benar-benar terjatuh.

Dari sinilah gadis itu dapat melihat. Seorang gadis lain yang tengah mengangguk pelan sembari tersenyum malu. Satu gerakan itu sukses membuat anak-anak lain yang berdiri di ruangan sama bertepuk tangan riuh, bersiul menggoda.

Dari sini jugalah gadis itu melihat sosok yang diharapkannya selama ini tengah ikut tertawa bahagia. Jauh  bahagia.

Gadis itu tahu bibirnya bersikeras mengatup rapat. Sama sekali tidak ingin terbuka. Tapi, lebih dari itu, gadis itu sadar dirinya bukanlah seseorang yang pantas untuk terjatuh atau mengelak dari kejadian di depannya.

Perlahan ditariknya ujung bibirnya sedikit, menampakan senyum kecil sarat kesedihan. Kesedihan?.. tentu saja… walaupun dia berusaha keras mengelak sekalipun, berusaha keras menahan semua yang dirasakannya saat ini. Kejatuhannya. Pada kenyataannya, dirinya tetap terjatuh, kan? Bahkan jatuh yang paling keras dari jatuh dirinya yang sebelum-sebelumnya.

Dan ini… terasa amat sangat sakit.

Gadis itu berbalik meraih tas sekolahnya. Perlahan kakinya mengayun keluar ruang kelas.

Sejak awal ini sudah terasa samar. Perasaannya. Perhatian kosongnya. Bahkan rasa sakit walaupun terasa menyakitkan, tetap saja terasa samar untuk diartikan.

“Mbak!”

Suara itu lagi. Memanggilnya?

Gadis itu tak berniat berhenti. Tapi lagi-lagi dirinya tidak bisa menolak teriakan panggilan itu. Sebuah tangan menariknya berhenti.

Gadis itu berbalik perlahan.

“Mbak saiki hari terakhir, tho?”

Gadis itu mengernyit. Terakhir?

“Sesok kelas 9 bener-bener wis dadi alumni…”

Gadis itu menghela nafasnya. Teringat sesuatu. Ini hari terakhir dia bertemu sosok di depannya. Pertemuan terakhir yang menyedihkan.
“Ra bakal ketemu, dadi ojo langsung lungo. Aku arep ngomong…. Penting?”

“Ada suatu hal yang penting. Kau harus datang dan menunggu”

Sosok itu menghela nafasnya. Sedangkan gadis itu bahkan segan hanya untuk sekedar mendongak.

“Mbak Risqa…. Seneng iso kenal karo mbak. Eo~ apa kui bahasa koreane… oh yo~ Fighting!”

Kepala gadis situ terangkat cepat. Sama sekali tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

“iki perpisahan… dadi ja gumun.. hhe”

Sosok itu tersenyum lebar. Sukses membuat diri gadis itu membeku sesaat. Matanya menghilang dibalik senyumnya yang begitu lebar. Senyum pertama sosok itu untuk gadis yang tengah menatapnya tak percaya saat ini.

“Per… pisahan?”

_________

Johun ibyoriran go, gyolguk sesangeun omnun iriranun gol

There’s no such thing as a good breakup in the world

Aratdamyon guttae charari da urodul gol

If I knew I would have cried it all out the

Guttae imi naranun gon negen kkuchiot danun gon

By then you were done with me

Naman mollassotdon iyagi

A story only I didn’t know

__________

“Hwandong-gu stasiun.”

Gadis itu menoleh. Diusap matanya yang terpejam sedari tadi. Membukanya perlahan karena suara mesin konduktor bus yang secara otomatis meneriakan tempat dimana kereta berhenti saat ini. Sudah sampai, pikirnya. Entah berapa lama ia tertidur di perjalanan.

Pelan-pelan gadis itu menarik tas selempangnya. Sedikit merapikan rambutnya. Kereta belum benar-benar berhenti, jadi gadis itu masih duduk menunggu sebelum pintu kereta di sebelahnya sudah benar-benar terbuka.

Gadis itu mendesah berat. Matanya tidak langsung menatap jendela kereta yang kini menampakan suasana stasiun kereta yang ramai. Tidak gelap lagi, huh?

Pemandangan-pemandangan itu bergerak pelan. Seperti potongan-potongan scene film yang bergerak dan.. terhubung.

“Lihat noona! Pemandangannya bergerak!”

“Jangan bodoh Shin Min Kwang! Keretanya yang bergerak kau tidak lihat?”

“Aish~ Kau sama sekali tidak tahu seni, ya?… aku tahu keretanya yang bergerak. Tapi coba lihat! Pemandang di luar jendela indah sekali! Ah! Gamshahamnida miss jendela! Karena kau aku bisa melihat pemandangan diluar!”

“kekanakan!”

“Ya! Lihat! Ini seperti film! Eiii kau benar mempesona miss jendela!”

“Berhenti bicara kau! Tidak lihat penumpang lain memperhatikan kita?”

“Wae? Bukankah bagus? Berarti mereka menyadari kita adalah couple! Buktinya mereka tidak hanya melihat kearahku tapi juga kau!”

“Anhi! Mereka melihat kearahmu!”

“Terima saja… jika mereka melihat kearahku yang tampan ini… otomatis mereka melihat dirimu yang jelek itu juga, dasar miss jendela!”

“YA! kau bilang apa?”

Gadis itu tersenyum. Nanar.

“Aku hanya jendela yang tidak menarik. Kau tentu saja bukan melihat kearahku, kau hanya melihat ke luar jendela. Tidak benar-benar kearahku ”

“Omong kosong” ujar sebuah suara yang terengah tiba-tiba. Sontak gadis itu mendongak. Detik selanjutnya, mata gadis itu melebar tidak percaya.

Didepannya. Seorang laki-laki berambut hitam pekat dengan mata sipit dan kulit putih. Menatapnya dengan nafas terengah, seakan baru saja berlari dengan kencang. Laki-laki itu..

“Omong kosong…. Apa kau tidak bisa mendengar perkataannya? Kau tidak membaca suratnya yang terakhir? Kau tidak bisa?…. Lihat!” laki-laki itu beranjak ke depan mendekati gadis itu. Dari saku mantelnya, ditariknya secarik kertas surat. Kertas yang diberikan gadis itu padanya beberapa hari lalu. Kertas yang berhasil membuat gadis itu jengah akan perasaan rindunya pada sang penulis surat setiap dia membaca kembali isi surat itu. Kertas itu… mengingatkannya pada Shin Min Kwang.

Laki-laki itu membeberkan surat itu tepat di depannya. Didepan gadis itu, yang menatap nanar kearah barisan tulisan tangan Shin Min kwang.

“Dia menulis… jelas-jelas menulis… dia adalah pemandangannya. Kau adalah jendela… Sam Neul Hyo adalah miss jendela.  Berpasangan dengan Min kwang, bukankah dia pemandang yang bagus?”

“Terima saja… jika mereka melihat kearahku yang tampan ini… otomatis mereka melihat dirimu yang jelek itu juga, dasar miss jendela!”

“Dia tidak pernah melihat keluar jendela. Dia tidak pernah melihat orang lain selain dirimu… Itulah pesan terakhir Shin Min Kwang yang sesungguhnya”

Kata-kata laki-laki itu tercekat sesaat. Entah mengapa rasanya berat mengatakan hal itu. Mengatakan perasaan laki-laki lain untuk seorang gadis.

“Kau.. mengerti sekarang?” ucap laki-laki itu lirih. Mengakhiri penjelasannya.

Gadis itru terdiam. Butiran air mata yang mendesak maju kini tak dapat lagi dibendungnya lebih lama lagi. Gadis itu menangis. Untuk pertama kalinya di hadapan laki-laki itu. Ia ingin mengatakan sesuatu. Pada laki-laki itu.

Entah yang mana yang harus ia katakan sekarang ini. Perasaan leganya akan pesan terakhir itu.. perasaan bahagianya akan kenyataan sesungguhnya perihal Shin Min Kwang. Tidak. Dia tidak mengatakan itu…

“ya~ Jang Woouyong-ssi… inikah? Inikah yang ingin kau katakan di Stadium? inikah hal penting itu? Pesan terakhir Shin Min Kwang… benarkah itu yang ini yang akan kau katakan padaku siang ini? Inikah yang membuatmu menjemputku ke hingga ke stasiun?”

Gadis itu berhenti sejenak. Dapat didengarnya, laki-laki itu menahan nafasnya.

“Benarkah ini… Wooyoung-ssi?”

“Tidak. Ada satu lagi..”

Gadis itu mendongak. Matanya kini tak lagi mengeluarkan air mata lagi. Kini yang ada hanyalah sebuah tatapan meminta. Meminta satu hal lagi yang harus ia dengar saat ini. Tatapan penuh harap.

“nan….

nuhl saranghae~ jeongmal… Neul Hyo-ya.”

Gadis itu tersenyum. Hei… lihat~ harapannya terkabul.

__________

Last

“Per… pisahan?” ujar gadis itu pelan. Matanya menatap wajah sosok itu.

Begitu mudahkah rasanya perpisahan bagi sosok itu?… hingga dengan mudah juga dia mengatakannya pada gadis rapuh di depannya ini.

Sosok itu mengangguk. Senyumnya belum memudar. Senyum untuk gadis itu..

“Dan satu lagi…” ujarnya. Dirogohnya saku seragam sekolahnya. Perlahan mata gadis itu dapat melihat secarik kertas dari tangan kanannya.

Sosok itu mengangsurkan kertasnya dengan hati-hati kepada gadis itu. Gadis itu menatapnya bingung, tapi sosok itu menyuruhnya segera menerima kertasnya.

“Ini… surat untukmu ambilah…”

Tangan gadis itu terulur, diambilnya kertas itu. Sama hati-hatinya.

“Sebenarnya..” sosok itu menggaruk leher bagian belakangnya sambil meringis.

“Lebih dari itu… ini.. adalah pesan perpisahanku untukmu”

______________

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s