[TEASER] APHASIA LEE

Standard

TEASER

APHASIA LEE

_________

Gwangnam-do, 2008

Aiden Lee’s pov

Aku melangkah dengan cepat melewati sebuah padang rumput dengan ilalang tajam yang tinggi selututku. Dengan disinari cahaya bulan dan bunyi suara nyaring beberapa jangkrik yang bersembunyi di sela-sela rerumputan. Di kedua sisiku lebih dari 5 orang berjalan tegap dan gagah. Belum lagi sekitar 7 orang pria dengan jas hitam formal yang berjalan mengawasiku tajam. Seakan aku adalah seorang berandalan kecil licik yang sewaktu-waktu dapat berlari kabur dan menghilang dari pandangan mereka. Aku tersenyum kecil, yah.. mungkin hal itu tidak sepenuhnya salah. Aku memang dapat kabur kapan saja, sayang sekali aku bukan seorang berandalan kecil. Aku  jauh  lebih terhormat dan terlatih daripada berandalan.

“Percuma saja” ujar salah seorang pria paruh baya dengan jas dan topi hitam formal disampingku. Wajahnya yang tegas dan kaku terus menatap ke depan. Walau begitu aku cukup tahu bahwa matanya yang lurus itu sesungguhnya sedang sepenuhnya mengawasi gerak-geriku.

“Percuma apa Pria Tua?” sahutku berani sembari terus berjalan dan menatap ke depan. Pria tua di sampingku itu melirikku sekilas, Nampak sekali bahwa dia sangat merasa tersinggung atas panggilanku untuknya barusan.

“Percuma saja jika kau sekarang kau sedang menyusun rencana untuk kabur. Kau sudah menandatangi semua perjanjian, tuan muda. Kau sepenuhnya dikendalikan” jawab pria tua bangka meyebalkan di sampingku. Perlahan ujung-ujung bibirku terangkat menampakan seyum paling sinis yang kupunya.

“Jaga kata-katamu, pria tua” ujarku santai. Sama sekali tanpa menengok ataupun melirik ke arah lawan bicaraku ini.

“Begitu pula denganmu tuan muda..” ujar pria tua itu sinis. Seketika aku bisa merasakan suasana menjadi agak gerah bagiku. “Kau sedang dikendalikan, tuan mu“

“Hanya sampai Presdir Tua Lee meninggal. Dan itu berarti malam ini juga aku akan berhenti dikendalikan” seruku tak kalah sinis. Dan sepertinya kata-kataku kali ini telah membuat pria temperamental di sampingku telah mencapai puncak emosinya. Pria itu berhenti dan menatapku dengan tatapan penuh amarah. Tepat ketika pria tua itu berhenti, semua pasukan di sampingku mengeluarkan senjata mereka dan menodongkannya kearahku.

“Presdir Lee adalah ayahmu, Tuan. Kuperingatkan. Tidak sepantasnya kau berbicara seperti itu” seru pria itu sembari menatapku dalam. Aku tertawa kecil. Lalu mncibir dan menatap tajam ke arah pria tua bodoh itu.

“Tahu apa kau tentang ayah? Dia hanya ayah yang bahkan tidak pernah menganggapku sebagai anaknya.”

“Sejak kapan kau mulai peduli akan sikap Presdir padamu?. Jangan berbohong!, bahkan anak kecil pun tahu bahwa kau melakukan ini hanya untuk dua orang wanita tidak penting”

Aku menatapnya tajam. “Dua orang wanita tidak penting?…. yang bisa disebut juga Ibu dan adik perempuanku.” Seruku nyaring. Entah mengapa aku tidak dapat menahan semuanya lagi. Pria tua bodoh itu telah menghina ibu dan adikku. Apa yang sedang diinginkannya sekarang? Kematian? Atau kesengsaraan?

Dia pikir dia siapa?

“Adik perempuan? Seorang pengkhianat kecil seperti nona Hwa? Dia bukan adikmu!!!”

BUGH!

Pria itu meninjuku pelipisku keras. Membuatku terjungkal ke belakang. Di rerumputan yang gelap. Aku mengerang kesakitan sembari memegangi pelipisku yang mulai mengeluarkan darah.

DUAGH!!

Tiba-tiba saja pria tu itu menendangku sekali lagi. Kali ini lebih keras. Pria itu tersenyum puas ketika aku mengerang semakin keras di rerumputan.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak ingat apa yang diperingatkan Presdir, huh? kau tidak boleh menyakitinya!” seru seorang pria jangkung kepada Pria tua yang baru saja memukulku itu. Mendengar perkataan pria itu aku segera berpura-pura tak sadarkan diri di sela-sela rerumputan yang lembab. Memaksa keras mulutku untuk tidak mengerang kesakitan akibat pukulan pria tadi. Tidak sia-sia. Wajahnya pria jangkung itu terlihat panik.

“Lihat! Lihat akibat perbuatanmu!. Sekarang apa yang harus kita lakukan?” cicit pria jangkung itu sembari mengacungkan tangannya yang genetar hebat. Pria bodoh. Sepertinya dia yakin sekali akan aktingku.

Sedangkan pria tua yang menendangku hanya diam menatapku. Aku menebak-nebak apa yang sedang di perhitungkannya untuk dilakukan padaku.

“Biarkan saja!… Palli!. Kita pergi dari sini. Kita katakan pada Presdir bahwa berandalan kecilnya telah kabur. Kajja! Kita harus cepat” seru Pria tua itu tegas. Walau aku tidak melihat wajahnya saat ini. Tapi, dapat dipastikan wajahnya terlihat sama paniknya dengan pria jangkung, saat ini.

Samar-samar aku mendengar gumaman setuju pengawal bersenjata yang lain. Tidak lama kemudian terdengar beberapa derap langkah kaki yang berangsur menjauh.

Kalau saja mereka tahu. Apa yang mereka lakukan saat ini adalah keputusan yang salah.

3 tahun kemudian..

Seoul, 2011

Yeonna Park’s pov

Aku berlari kecil tanpa suara. Sesekali melirik rekan-ku yang member kode rahasia dengan gerakan tangannya. Aku mengangguk kecil setelah berhasil memahami maksud dari kode-nya.

“Lee~” sebuah suara pelan membuatku segera menoleh. Seorang yeoja dengan pakaian layaknya sekretaris eksekutif memanggilku dan memberi sebuah aba-aba.

Aku mengangguk paham. Lalu segera berjalan pelan memasuki sebuah lift yang terbuka. Aku menekan tombol bertulis angka 3 dengan cepat. Tepat setelah pintu tertutup, aku segera memasukan topi baseball hitam yang kukenakan ke dalam saku celanaku. Selanjutnya memakai anting-anting dan sebuah kalung permata. Terakhir, aku menarik rompi anti peluru sehingga kini aku memakai sebuah gaun hitam. Kini satu-satunya yang tidak berubah hanya high heels yang sudah kupakai sedari tadi.

Ping

Tiba-tiba pintu lift itu terbuka. Sebuah suara wanita yang melaporkan bahwa aku telah sampai lantai 2. Aku menghela nafasku pelan ketika seorang pria tua berkumis tebal memasuki lift dengan langkah timpang.

Sesuai. Ini targetku.

Blam

Pintu Lift kembali terbuka dan aku melirik jam tanganku. Aku tersenyum pada pria timang disampingku. Dia membalas senyumku dengan kaku.

“Chukae~” ujarku pelan. Pria itu menatapku heran.

Bugh!

Dengan cepat aku menendang kakiku ke belakang. Menghantam keras tulang kering pria tua itu, sukses membuatnya tebanting ke depan dan mengenai dinding lift.

Aku menarik keluar pistol-ku dari sebuah saku di punggungku dan menodongkannya ke arah pria tua malang itu.

Pria itu merintih ketika aku menodongkan pistolku. Seakan meminta sebuah belas kasihan. Cish~ menggelikan.

“Si..siapa kau?” rintihnya lemas. Aku menatapnya datar sebelum mendengus kesal.

“Aphasia-Lee. Kau ingat?”

Advertisements

4 thoughts on “[TEASER] APHASIA LEE

  1. Uwaa.. Yeonna, *nunjuk dirisendiri*
    Tpi ni yg dimaksud bkn Yoona SNSD kn??
    ceritanya bagus fin, jadi kebayang mv yg cry out with my heart and soul yg waktu itu ditonton bareng di kelas… Sukses sekeren ff mu ini 🙂

    • hehehe…
      iya iya iya… ini bukn yeonna kok….

      sebenernya ini mau ngepost FF-nya uri leader dulu… tapi tiba-tiba jadi suka ma yang berbau agen agen begono..
      dampak cover album a-cha paling ya~
      jadi buat ff yeonna dulu deh..

      disini ceritanya yeonna bukan penembak jitu kok kayak di mv-nya kok eon..
      lebih keren malah
      kekeke

      • Hii….!!! Lebih keren !!!*teriak histeris*
        kok selalu uri leader kita yg uzur T.T

        Eh,eh, nae-ya
        aku juga buat ff castnya ri ah, kyu, minyuk lho,,, ceritanya melow tpi. Tpi bngung dlm rangka apa aku buat ff castnya dirimu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s