[Fanfiction] Tomorrow’s Way

Standard

ini FF sebenernya untuk contest salah satu netter atau author ff yang suka sama Eunhyuk.

Aku ikut Contest-nya (hitung-hintung ngramein)

Enjoy~

Tomorrow’s Way

Author             : Sefina R Fadila [acc twitter : @nae_in]

Genre              : Romance, Scie-fi

Main casts      : RiHyuk exactly!! ^^

Warning                      : Typo, AU (AU disini maksudnya gak sama persis sama RiHyuk yang sebenarnya), PG-13 dan Typo lagi

Casts               :  –       Joo

–        Kim Heechul

Aku mendongak menatap awan yang tampak asing di mataku. Awan-awan putih yang tampak aneh melewatiku dengan angkuh. Aku terdiam, berusaha berpikir dimanakah aku berada ketika seseorang tiba-tiba merangkul bahuku dengan lembut. Aku menengok dan berusaha menatap wajahnya. Tapi, rasanya pandanganku dihalangi sesuatu.

Aku mendengar suara nafas seseorang yang tengah merangkulku saat ini. Walau aku tak bisa melihatnya. Tapi, aku merasakan keberadaannya yang hangat.

“Kau tahu aku selalu berusaha untuk tahu apa yang akan terjadi besok… Aku selalu ingin tahu apa yang terjadi ketika aku terbangun dari tidurku besok pagi.. Aku selalu berusaha untuk tahu. Aku percaya aku akan tahu apa yang akan terjadi. Kau percaya padaku, kan?” aku ‘menatap’ sosok itu dengan heran. Mengetahui sesuatu yang terjadi esok hari.

Aku membuka mulutku untuk bertanya. Tapi, semuanya telah berakhir.

21 October,  2011

Yoonri’s POV

Aku mengerjapkan mataku. Secercah sinar matahari pagi menyapaku dengan lembut di sela-sela jendela kamarku yang terbuka. Aku melenguh pelan. Mimpi itu terulang lagi. Mimpi yang selalu ada setiap malam ketika aku terlelap. Mimpi tersebut sebenarnya tak lebih dari percakapan sepihak. Karena hanya suara itulah yang mendominasi. Suara seorang laki-laki yang menatapku dengan penuh keyakinan dan impian. Aku selalu berusaha untuk menjawab kata-katanya. Aku ingin sekali bertanya pada laki-laki itu tentang apa yang sebenarnya maksud atas perkataannya. Tapi kesempatan untuk menjawabnya tak pernah menghampiriku. Mimpi itu berakhir bersamaan dengan hilangnya kesempatanku bertanya malam itu.

Mimpi aneh itu muncul sejak dua tahun yang lalu. Pertemuan singkatku  dalam mimpi itu selalu membuatku merasa malam ini –dan malam-malam sebelumnya-, sangatlah singkat. Begitu singkat sehingga aku merasa harus kembali tertidur sekali lagi untuk bisa ‘bertemu’ laki-laki aneh itu.

Tapi, tentu saja usahaku sia-sia. Walau aku kembali tertidur setelahnya, aku tak pernah bertemu laki-laki itu. Aneh. Seakan semua pertemuanku denganya sudah terjadwal untuk terjadi sekali dalam sehari. Atau lebih tepatnya pada malam ketika aku terlelap.

Kreek

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dang disusul dengan munculnya Joo di balik pintu.

“Kau sudah bangun? Apa kakimu masih terasa nyeri, Yoon?”

Aku tersenyum menatap sahabatku yang satu ini. Lalu menunduk untuk menatap kakiku yang terkilir akibat latihan kemarin. “Kurasa sudah tidak apa-apa. Aku bisa langsung berlatih siang ini.” Ujarku pelan.

“Andwae! Apa kau sudah gila? Aku bertanya unuk memastikan keadaanmu bukan untuk membuatmu buru-buru latihan. Lebih baik kau istirahat sampai besok. Aku akan berbicara pada pelatih.”

Aku terkekeh melihat Joo berbicara seperti itu. Sekilas ia terlihat seperti Oppa. Memarahiku ketika aku mulai memaksakan keinginanku untuk berlatih dance ketika aku sakit.

Oppa… Tiba-tiba saja aku mengingat sosok bodoh itu lagi. Sosok yang telah berbihing padaku. Sekaligus sosok yang menghilang dua tahun lalu. Ya. Sosok yang menghilang bersamaan dengan dimulainya mimpi anehku.

Aku masih ingat saat itu. Saat Oppa terakhir kali mengatakan padaku untuk berlatih dengan sungguh-sungguh dan menunggunya pulang kembali. Saat dua tahun lalu, Oppa memutuskan untuk melanjutkan studi-nya di sebuah sekolah di luar negeri. Aku masih sangat ingat saat terakhir aku berbicara dengan. Semenjak dua tahu lalu aku tidak pernah melihat Oppa lagi. Oppa dikabarkan menghilang di kecelakaan dalam perjalanan keberangkatan. Sebuah berita mendadak yang membuatku membenci Oppa hingga saat ini. Oppa telah berjanji untuk pulang. Dan aku sudah bosan menunggunya. Mungkin bagi kebanyakan orang beranggapan aku adalah dongsaeng yang menjengkelkan. Dongsaeng yang tak mau menunggu Oppanya kembali. Mungkin aku memang Dongsaeng yang buruk. Tapi inilah aku. Aku tdongsaeng lemah yang tak mau kehilangan Oppa-nya. Inilah aku.

“Apa kau membutuhkan sesuatu? Aku bisa membawakannya untukmu kalau kau mau” ujar Joo yang saat ini tengah merapikan tumpukan pakaian yang baru saja di laundry.

“chamomile tea..” aku berseru pelan sambil mengawasinya merapikan pakaian. Joo mendongak dengan cepat dan menatapku dengan tatapan protes.

“Eii… kau pikir aku bisa membuat membuat teh macam itu?” ujarnya. Wajahnya menampakan mimik yang lucu, sukses membuatku terkekeh pelan, sejenak aku mulai melupakan tentang Oppa.

“Kau kan bisa mencari caranya di Internet. Susah sekali~” sindirku sembari memainkan jari-jariku berlagak ala seorang majikan yang memerintah pelayannya. Joo mendengus melihat sifat childish-ku yang kambuh. Walaupun begitu, pada akhirnya Joo memilih mengalah dan berjalan keluar. “Segera sampai Nona Muda” umpatnya sembari menutup pintu kamar kami.

Aku terkekeh puas atas ulahku.

Aku menatap keluar jendela dan segera menyadari diluar tengah hujan saat ini. Aku menatap lama rintik-rintik air hujan yang terjatuh saling mendahului untuk sampai ke tanah.

“Aku percaya aku akan tahu apa yang akan terjadi. Kau percaya padaku, kan?”

Kreek

Aku mendongak mendengar suara pintu yang terbuka pelan. Kenapa Joo bisa menyelesaikan tehnya secepat itu?.

“Yak! Kau bilang kau tidak bisa membuat te-“

Tiba-tiba saja suaraku terasa tercekat. Yang keluar dari pintu bukanlah Joo, tapi sesosok pria dengan jubah hitam besar. Pria itu berjalan mendekat ke arahku. Aku baru akan berteriak memanggil Joo, ketika pria itu mendekap mulutku dengan cepat. Aku berusaha memberontak dan menendang-nendangkan kaki ke arah pria itu. Tiba-tiba saja aku mencium sesuatu yang membuatku merasa tenang. Aku mulai terdiam. Kaki-kakiku terasa lemas. Mataku mulai terasa berat. Detik berikutnya harum menenangkan itu membuat semuanya menjadi gelap. Satu-satunya hal terakhir yang kusadari adalah.. harum itu adalah harum chamomile.

__________

Weird place and time

Seorang wanita dengan rambut panjang diikat tinggi tengah menatap pria berjas rapi di depannya dengan tatapan hormat. Pria itu berbalik dengan gaya elegan dan penuh wibawa menatap gadis itu dengan tatapan serius.

“Apa kau sudah yakin bahwa pria seperti Tuan Lee bisa menyelesaikan tugas  ini?”

Wanita itu tersenyum kecil. “De. Tuan tak perlu cemas. Tuan Lee hanya bertugas mengantarkan. Selebihnya nona Kim dapat dengan mudah menyelesaikan pekerjakan tersebut, tuan.”

Pria itu menggangguk . Raut wajahnya terlihat cukup lega. Dengan langkah pelan, pria tua itu berbalik menatap layar kaca raksasa dengan huruf aneh yang berpendar-pendar apik.

“Kapan dua orang itu akan dikirim?”

Wanita itu menunduk menatap sebuah kertas yang memancarkan sinar 4D yang dibawa di tangan kanannya. Sinar-sinar itu seperti  menari-nari di udara. Perlahan disentuh sebuah bulatan kecil berwarna biru Safir dengan pelan. Dan sebuah angka-angka rumit keluar dari sana. Wanita itu mengerutkan dahinya berusaha mengartikan sesuatu. Beberapa lama kemudian dia berdeham pelan dan mendongak.

“30 menit lagi tuan. Hari ini, waktu lampau.”

____________

Yoonri’s pov

Aku membuka mataku perlahan. Sinar terang putih langsung menyambutku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali hingga akhirnya dapat menyesuaikan diri dari sinar itu.

Butuh waktu beberapa lama hingga aku menyadari telah berada di sebuah ruangan putih yang cukup luas. Aku mengedarkan padanganku. Ruangan ini benar-benar kosong. Sama sekali tak ada satu benda pun disini. Dan kurasa hanya ada aku disini. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan baju rumahku. Aku memegang kakiku cepat, tiba-tiba saja rasa sakitnya muncul lagi. Aigoo~ apa yang sebenarnya terjadi padaku?. Dimana aku sekarang?. Kenapa hal buruk selalu terjadi padaku?

“Kau sudah sadar rupanya”

Aku mendongak dan mendapati seorang namja kurus tengah menatap ke arahku. Namja itu duduk di sebuah kursi putih di sisi lain ruangan. Hei.. sejak kapan dia ada di sana?, Kukira aku hanya sendirian disini.

“Nuguya?” ujarku pelan. Entahlah aku merasa namja itu hanya halusinasiku saja.

“Kenalkan. Aku Lee Hyukjae. partner-mu dalam misi yang akan kau laksanakan saat ini.”

Aku menatapnya aneh. Partner misi? Apa yang dia bicarakan?

“Apa maksudmu? Misi?”

Namja itu tersenyum. Senyum familiar. Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba saja terasa sakit. Siapa sebenarnya dirinya? Kenapa aku merasa mengenalnya.

“Perjalanannya masih lama.. mungkin aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Dengarkan aku baik-baik. Dan jangan menyela”

Aku menatapnya lalu mengangguk setuju.

“Ada yang salah dengan masa lalumu..”

Aku membelalakan mataku. Mwo? Aku memandangnya tak mengerti. Tapi, aku tahu aku harus diam sampai ia selesai menjelaskan.

“Masa lalumu. 2 tahun lalu. Tahun 2009. Kau adalah Kim Yoonri dengan jalan hidupmu yang benar. Hingga seorang time-traveler dari masa depan datang di masa dua tahun lalu.

Sebelumnya, Time-traveler memiliki sebuah peraturan untuk tidak melakukan kontak dengan manusia di masa yang didatanginya. Sayang sekali Time traveler yang kuceritakan ini, melanggar peraturan itu. Dampaknya terjadi pada hidupmu. Kau kehilangan 2 ingatan yang merubah hidupmu hingga saat ini.”

Hyukjae menghela nafasnya, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk boomerang kecil dengan 2 pisau. Benda itu terbuat dari kaca yang mengkilat dan transparan.

“Misi kita adalah mengembalikan kedua ingatanmu yang hilang. Ketika satu ingatanmu kembali. Maka satu pisau benda ini akan menyala. Kita hanya memiliki waktu 3 hari saja. Tapi, Ketika kau berhasil mengingat semua ingatanmu yang hilang. Maka kau akan kembali ke tahun 2011. Sama seperti awal. Dengan ingatanmu.”

Aku menatapnya sejenak. Bodoh. Cerita bodoh macam apa ini?

“Apa kau sudah selesai, huh? Selesai menceritakan cerita konyol seperti itu, huh? Apa kau pikir aku adalah seorang gadis kecil bodoh yang dengan mudah kau bodohi!” Aku berteriak frustasi. Hyukjae bodoh itu hanya terdiam menatapku. Aku memegang kepalaku yang terus terasa sakit.

“Aku tidak butuh kau percaya atau tidak 5 menit lagi kita akan sampai. Dan aku akan tunjukan padamu bahwa apa yang kukatakan ini benar.”

Aku menatapnya tajam. Dua tahun lalu. Tidak ada yang salah dengan dua tahun lalu.

“Aku akan kembali sekarang…” ujarku pelan.

“Tidak bisa. Sudah kubilang, kita ada dalam perjalanan menuju dua tahun lalu. Ini bukan perjalanan biasa. Kau tak bisa menghentikannya sesukamu dan tidak bisa meninggalkannya sebelum semuanya selesai.” Namja itu memandang ke pojok ruangan dengan hampa. Entah kenapa, aku merasa namja ini tengah membuang pandangannya dariku.

“Geurae.. Geuramnika. Ini bukanlah perjalanan biasa. Aku akan menganggap ini semua mimpi. Aku melakukan apa yang akan kita lakukan. Karena aku menganggap ini sebagai mimpi konyol. Ketika aku terbangun ini semua akan hilang. Bahta! Ini hanya mimpiku. Mimpi menjadi seorang time-traveler.” Aku berujar dengan cepat. Aku tahu ini sebuah keputusan konyol. Dan ini adalah kata-kata paling bodoh yang pernah kulontarkan. Tapi, ini hanya mimpi. Tidak akan ada yang tahu.

“Terserah kau saja. Asalkan kau akan menyelesaikan semua ini.” Aku menatap Hyukjae dengan tatapan sinis. Tentu saja aku akan menjalani mimpiku, dasar babo!. Hyukjae menatapku dengan tatapan sinis lalu kembali menatap ke sudut ruangan. Aku menatap benda aneh dengan 2 pisau yang sedang digenggamnya.

“Kita sampai..” suara berat Hyukjae membuatku kembali tersadar

Sepertinya dia benar. Kami sudah sampai, Dan yang terakhir kali yang kurasakan adalah sensasi dingin luar biasa dan suara gemuruh air yang terjatuh.

SLASH!!

Dan lagi-lagi semuanya kembali gelap.

__________

21 October, 2009

Aku mengaduh kesakitan. Rasanya tubuhku telah remuk seperti terjatuh dari gedung bertingkat. Aku menatap kesekelilingku dan mendapati telah berada di suatu tempat yang tak asing lagi bagiku.

“Gedung trainee JYP?” aku menatap tak percaya apa yang tengah berdiri gagah di depanku. Hei! Ini adalah ‘dua tahun’ lalu, kan?. Di tahun asalku juga ada gedung trainee JYP, untuk apa ‘jauh-jauh’ hanya untuk berkunjung kesini?. Ini bukan perjalanan mimpi luar biasa.

Aku segera menengok ke arah Hyukjae yang tengah berdiri di sampingku untuk protes. Tapi, ketika aku menatapnya. Namja aneh itu malah memejamkan matanya sembari tersenyum. Dia menghirup nafas panjang lalu mengeluarkannya hati-hati. Sedang apa dia?

Aku menatapnya lama, sampai namja bodoh ini membuka matanya dan menatap kikuk ke arahku.

“I.. in.. ini berbeda dengan dua tahun kedepan, tahun asalmu, Babo~” ujarnya pelan seakan tahu pertanyaan apa yang sedang kutuntut padanya saat ini.

“Geuraeyo?” ujarku sembari menyipitkan mataku menatapnya yang masih terlihat awkward.

“Geurae! Rasakanlah!~”

Aku mendengus dan mencibir lalu beranjak berdiri tepat di depannya.

“Maksudmu dengan menghirup nafas pelan-pelan dan bertingkah aneh seperti apa yang kau lakukan tadi? begitu? SHIREO!!” sepertinya aku berseru cukup keras karena Hyukjae segera menutup telinganya cepat.

“Araseo Araseo…” ujarnya kesal lalu mulai menarik keluar sesuatu dari saku pinggangnya. Menarik keluar sebuah benda aneh lain yang sekilas terlihat seperti Ipad. Hyukjae menekan beberapa tombol lalu berseru pelan.

“Ruang latihan trainer kelas dasar. Kita harus kesana. Dan aku akan menunjukan sesuatu padamu.. Ka-“

“Kaja!!! Aku tahu tempatnya! Go Go Go!!” Aku segera berlari kecil ke arah pintu masuk gedung sembari menarik jubah hitam Hyukjae.

Perjalanan Luar Biasa dimulai!!!.

______

Day 1 : Where The Time Hidden It?

Still Yoonri’s POV

“Taraa!!! Ruang Trainee JYP tingkat dasar!” seruku kencang sembari mengangkat tinjuku ke udara.

“Ya!! apa kau tidak sadar bahwa kau terlihat sangat frustasi di Kapal Waktu? Lihat kau sekarang… seperti seorang anak kecil berumur 5 tahun yang sangat bersemangat pergi ke sekolah karena diberi permen cokelat. Dasar yeoja~” ujar Hyukjae pelan, tapi tentu saja kau bisa mendengar apa yang sedang dia bicarakan.

“Yup!! Itulah kelebihanku!”

“Mwo? Merubah mood dan emosi dengan cepat?”

Aku menengok ke arahnya lalu tersenyum jahil. “Aniyeyo… berangkat sekolah dengan semangat.” Seruku sok polos lalu berjalan ke ruangan trainee tingkat dasar sembari terkikik pelan. Aku bisa mendengar Hyukjae tertawa pelan di belakangku.

Aku memasuki ruangan itu pertama kali. Berharap mungkin aku bisa bertemu beberapa teman trainee-ku yang lain. Teman-temanku dua tahun lalu. Tapi, yang kutemukan tak lebih dari sekedar sebuah ruangan latihan yang kosong.

“Tidak ada orang disini?…” tanyaku pelan, lebih ke diriku sendiri. Aku tak terlalu berharap seorang Hyukjae bisa menjawab pertanyaanku.

“Kau akan melihat mereka jika kau setuju untuk berjanji” aku menengok ke arah  Hyukjae dengan tatapan heran. Janji?

“Kita tidak benar-benar ada di masa lalu. Ini hanyalah media. Seperti duplikat. Tapi, ini nyata. Aku tak bisa menjelaskan tentang segala hal yang berhubungan dengan ‘kembali-ke-masa-lalu’. Tapi aku akan mengatakan padamu hal yang terpenting..”

Kini aku benar-benar menyimak perkataannya. Kurasa aku salah. Dia tahu sesuatu.

“Kau masih ingat dengan kesalahan seorang time-traveler yang membuatmu kehilangan ingatan-ingatanmu?” Hyukjae menatap ke arahku dan aku membalas pertanyaannya dengan anggukan singkat.

“Kesalahan time-traveler itu adalah melaggar peraturan time-travelers dengan melakukan kontak apa saja dengan manusia di masa tujuan. Walau seperti yang kubilang tadi, ini hanyalah media. Tapi, apapun yang kau lakukan di media masa lalu ini.. akan tetap berdampak di masa depan.” Hyukjae menghentikan sejenak kata-katanya. Dirogohnya saku pinggangnya, perlahan dia mengeluarkan sebuah benda aneh lain berbentuk papan tipis dengan tombol-tombol hitam bertuliskan huruf-huruf yang sama sekali tak ku mengerti.

“Berjanjilah padaku.. untuk tidak melakukan pelanggaran seperti yang dilakukan time-traveler itu. Arachi?” Hyukjae menatapku dengan tatapan menuntut. Kurasa tidak berat untuk mengatakan Ya. Tapi, entah kenapa rasanya berat ketika Hyukjae terus menatapku. Menuntut janjiku.

“De. Arata!” seruku pelan. Entah mengapa aku merasa bahwa aku akan merasa menyesal.

“Bagus!. Aku akan menekan tombol ini.. Tombol ini di gunakan untuk mengaktifkan eksistensi orang-orang yang ada di masa sekarang ini. Tapi, sebelum itu, kita harus memakan ini.. agar orang-orang itu tak melihat kita. Igo~” seru Hyukjae sembari mengangsurkan padaku  sebuah pil kecil berwarna terang menyenangkan.

“Sekedar informasi.. rasanya tak seenak yang kau pikirkan..” Hyukjae berkata pelan sebelum akhirnya benar-benar menelan pil itu.

Aku menatanya lama. Lalu memutuskan untuk segera memakan pil itu. Seketika aku merasa seperti seseorang tengah memukul perutku dengan suatu benda keras. Sensasi yang menyakitkan.

“Gwenchanaseyo?” ujar Hyukjae yang terlihat masih menahan efek mengerikan pil yang dimakannya. Aku hanya menunjukan tangan kananku dengan jari telunjuk dan ibu jari yang menyatu. Membentuk kata OK.

Hyukjae mengangguk pelan dan menekan satu tombol paling besar di papan tipisnya.

Aku mengerjapkan mataku karena detik selanjutnya beberapa bayangan tipis mulai muncul. Samar-samar aku mulai bisa melihat beberapa trainer yang sedang berlatih. Aku menganga tak percaya ketika melihat pemandangan-dua-tahun-lalu ini.

Lama-kelamaan ruangan trainee mulai terlihat penuh. Aku bisa melihat seorang namja dan dua orang yeoja yang tengah berlatih gerakan dance bersama. Lima orang yeoja yang tegah berkerumun ribut di sudut ruangan. Dan 2-3 namja yang tengah beristirahat di lantai pinggir.

“Kim Yoonri.. Lihat sebelah sana!” tiba-tiba saja Hyukjae menyenggol lenganku dan menunjuk ke arah pintu masuk. Aku segera menegok dan segera terkejut dengan apa yang sedang kulihat.

Dua orang yeoja. Aku dan Joo!. Ommo! Ini sungguh ‘masa lalu’.

“tapi, aku bukanlah trainee kelas dasar dua tahun lalu..” celetukku pelan.

“Mungkin memang tidak. Lihat!” Hyukjae menunjuk sekali lagi. Beberapa trainee mulai berkumpul menuju ‘aku’ dan Joo dan segera mengucapkan salam formal.

Hei.. Hyukjae benar!. Tapi, untuk apa aku ke ruang trainee tingkat dasar?

“Dimana kau menyimpannya?.. kita hanya punya waktu 15 menit sampai pelatih datang. Ppaliwa Ri-ya!” samar-samar aku mendengar suara bisikan Joo yang sedang berbicara dengan’ku’. Apa aku sedang mencari sesuatu. Apa yang kusimpan di ruang trainee JYP?.

“Bisakah kau diam? Aku akn mengambilnya secepat yang kubisa.”

“Katakan saja padaku.. dimana kau menyimpan benda rahasiamu, huh?”

Benda rahasia? Aku mempunyai benda rahasia dan menyimpanny di ruang trainee? Apa aku sudah gila?

“Apa kau mengingat sesuatu? Atau baru saja sadar kalau kau melupakan sesuatu?” bisikan pelan Hyukjae di sampingku benar-benar membuatku segera sadar. Benda rahasia itu.. satu dari ingatanku yang hilang.

“Tenanglah,, Aku merasa menyimpannya di..” aku berjalan mendekat kearah joo dan aku masa lalu.

“Di?” aku membeo tak jelas. “Di.. Ah! Di-“

ZLAPP!!

Tiba-tiba saja semuanya menghilang. Para Trainer, Joo dan juga ‘aku’.

“Eh?” aku segera menatap ke arah Hyukjae yang balik menatapku.

“Hal yang terjadi selanjutnya menghilang. Karena kau kehilangan-‘nya’.” Ujar Hyukjae santai. Ah.. Geurae.

“Bagaimana aku bisa menginga-“

_

“Aku akan meyimpannya disini..”

“Tidak akan pernah ada yang tahu..”

“Ini adalah hal rahasia.. aku akan melindunginya”

“Hanya aku dan kau yang tahu”

_

“Hanya aku dan kau yang tahu” ujarku pelan. Kilasan balik ingatanku yang hilang. Apa aku baru saja melihat kilasan balik ingatanku yang hilang? Tadi itu..

“Ada apa dengan ‘Hanya aku dan kau yang tahu’?” suara penuh rasa menuntut milik Hyukjae benar-benar membuatku frustasi.

_

“Kita akan menyimpannya bersama-sama”

“Here~!”

“Ruang trainee JYP..”

_

“Loker 27” ujarku cepat. “Loker 27?” hyukjae menatapku heran. “tapi disini tidak ada loker..”

“Bukan disini, di ruangan sebelah..” Aku segera bergerak cepat. Aku masih ingat betul dimana loker-loker rahasia para trainee diletakan. Dibalik dinding kaca. Aku berlari kecil ke arah dinding kaca dan mendorong kaca itu di salah satu sisinya

“Bantu aku menariknya, sir~” ujarku kesal karena Hyukjae hanya menatapku dengan tatapan heran. Hyukjae mengangguk cepat dan segera melipat lengan bajunya. Lalu mulai membantuku menggeser dinding kaca itu.

Greep

Aku tersenyum senang. Dengan bantuan namja lamban itu, kaca-kacanya mulai bergerak cepat hingga beberapa saat kemudian benar-benar terbuka.

“Yeay!” seruku senang dan melangkah memasuki ruangan sebelah yang kumaksud.

“Ini dia! Loker 27” aku memekik pelan dan menarik pintu loker trainee yan memang tidak berkunci, karena loker-loker ini sesungguhnya adalah loker umum bersama. Tapi. Sudah tak digunakan lagi sejak akhir tahun 2009. Aku sendiri bngung mengapa aku tak pernah ingat tentang loker rahasia ini selama dua tahun terakhir.

Hyukjae segera mendekat ke arahku, bersamaan dengan terbukanya pintu loker itu. Aku bisa merasakan Hyukjae dan juga nafasku yang sama-sama tertahan. Itu dia. Aku bisa melihat sebuah kotak kecil berwarna cokelat kemerahan disudut loker.

Dengan tangan bergetar aku menarik keluar kotak itu.

“Buka!” seru Hyukjae yang terlihat sangat penasaran. Aku mengangguk. Tapi, sesuatu yang mengecewakan terjadi. Kota itu tak bisa dibuka.

“Wae? Ada apa dengan kotaknya?” aku menjawab pertanyaan Hyukjae dengan gelengan frustasi. Masih berusaha membuka otak kecil itu. “Biar aku..” Hyukjae segera merebut kotaknya dan mencoba membukanya. Tapi, hasilnya tetap nihil. Kotak itu sama sekali tidak bisa dibuka.

Aku baru akan berteriak kesal ketika mataku menangkap sesuatu yang menyala dari saku Hyukjae.

“Lihat Hyuk!” aku berseru keras sembari menunjuk saku itu. Hyukjae menunduk ke arah sakunya. Lalu, buru-buru mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Pemandangan setelahnya benar-benar membuatku terkejut. Benda dengan 3 pisau ingatanku.. salah satu pisaunya menyala dengan terang. Sangat terang. Bukankah ini artinya?

“Satu ingatanmu kembali..” ujar Hyukjae pelan. Aku menggumam heran. “Where the time hidden it.., itu misinya. Kau sudah mengingat dimana kotak ini disembunyikan artinya..”

“Artinya satu misi terpecahkan.” Aku melanjutkan kata-kata Hyukjae dengan pelan sambil terus menatap pendar-pendar cantik pisau itu.

________

Day 2 : What You Wanna Forget?

22 October, 2009_

Aku terbangun keesokan harinya. Di ruang Trainee JYP. Aku mengusap mataku yang masih mengantuk, ketika aku kembali teringat aku masih di ‘dua tahun lalu’.

Aku menghela nafasku berat. Teringat kejadian kemarin. Mengecewakan. Aku hanya perlu mengingat dimana aku meletakan kotak itu. Bukan apa yang ada dalam kotak itu. Rasa ingin tahuku yang besar terus menghantuiku hingga malam hari. Sampai Hyukjae memutuskan untuk memecahkan misi kedua esok hari dan menyuruhku tidur di tempat duduk dalam ruangan Trainee JYP tingkat dasar. Sedangkan, aku sama sekali tidak peduli dimana dia beristirahat. Aku tidak peduli dengannya, selama dia tertidur di ruangan lain.

“Kau sudah bangun rupanya. Kita harus buru-buru. Misi kedua harus segera di pecahkan.”

Aku mendongak ke arah pintu masuk dan mendapati Hyukjae tengah berdiri disana. Dengan baju yang berbeda. Baju manusia normal. Jaket Putih dengan t-shirt hitam dan celana jeans selutut.

Aku menatapnya sebentar. “Hei~ kenapa kau harus mengganti bajumu?, kukira jubah hitam itu semacam seragam time-traveler yang tidak akan pernah diganti..”

“Tentu saja tidak bodoh. Baju ini ada kegunaannya untuk misi kedua. Kaja! Kau akan tahu nanti!”

Aku baru akan membuka mulutku lagi ketika Hyukjae bodoh itu menarikku paksa dan berjalan keluar gedung JYP.

“Apa kau me-nonaktifkan eksistensi ‘mereka’?” ujarku ditengah-tengah perjalanan keluar Gedung.

“Euhm?.. de. Hanya sementara sampai kita melanjutkan misinya. Tapi mungkin kali ini agak berbeda.” Jawabnya cepat.

“Berbeda?” aku menatap Hyukjae heran. Apa maksudnya dengan berbeda?

“Kali ini tak ada pil memuakan itu lagi. Kita hanya boleh menggunakannya sekali. Jika tidak akibatnya akan sangat fatal.”

Aku tertegun. Selanjutnya, Entah mengapa aku terkekeh setuju. Sekali memakannya saja sudah membuat dampak mengerikan bagi pencernaanku. Aku tak akan berani membayangkan jika harus memakan pil itu untuk kedua kalinya.

“Jangan tertawa. Kau harus ingat janjimu tanpa pil itu kau harus menghindari kontak dengan manusia masa ini.” Sontak aku terdiam. Ah janji itu~

“Kenapa aku tidak merasa lapar?” ujarku cepat. Berusaha mengalihkan topic pembicaraan.

“Karena sesunguhnya ini bukan masa untuk lapar. Lihat! Di taman itu dan kita akan segera memecahkan misi kedua.”

Aku menatap taman dari kaca dalam gedung JYP. Taman itu sungguh luas. Aku tak habis pikir JYP menempatkan taman seluas itu hanya untuk Gedung Trainee.

“Kita keluar lewat pintu itu. Memotong lebih cepat.” Tukas Hyukjae. Aku mengangguk.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada di taman yang sepi itu. Aku menatap sekeliling. Hyukjae berseru akan segera mengaktifkan tombol eksisten. Dia memperingatiku sekali lagi tentang janji itu sebelum akhirnya benar-benar menekan tombolnya.

“Tempat ini masih tampak sepi.” Ujarku pelan. Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku. Kalau-kalau kesalahannya terleuak pada mataku.

“Sekarang pukul 5 pagi. Tentu tidak ada orang da-“

“Ige Mwoya?? 5 pagi? Kenapa kau tidak bilang, huh? Aku masih mengantuk Babo!” aku memekik lalu memukul keras pundak namja takberperikemanusiaan di sampingku itu. Bagaimanapun juga kakiku masih terasa sakit hingga saat ini. Aku tahu kalau namja bodoh ini tahu kakiku sakit. Tidakah ia merasa kasihan padaku?

“Yak! Appo! Appo! Yoonri! Yak Yak!” aku tak memperdulikannya untuk beberapa saat. Sampai akhirnya aku beranjak pergi menjauh darinya. Yah hanya untuk beberapa meter. Entah mengapa aku baru saja ingat bahwa alasanku marah padanya begitu banyak. Dari masuk ke kamarku tanpa izin, mendekap mulutku secara tiba-tiba, memanggilku dengan sebutan Yoonri, tanpa berkenalan secara normal paling tidak. Dan sekarang? Merusak jadwal tidurku dan menarikku keluar hingga kakiku kembali terasa sakit? Great!

“Ya! Eodiga? Jangan jauh-jauh dariku! Kau bisa tersesat! Ya! kembali!”

Aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku terus berjalan sampai berhenti di bawah sebuah pohon maple.

“Ya! Kim Yoonri! Dorawa! Kau pikir aku main-main, huh?”

Aku membuang mukaku. Menatap jalan raya di sisi taman. Hei~ ada seseorang!. Seorang  namja. Reflek aku melangkah mundur. Tina-tiba saja aku mengingat perjanjianku dengan Hyukjae.

Tapi, entah kekuatan apa yang mendorongku. Aku merasa tidak boleh lari. Aku tahu ini bodoh. Tapi, aku tetap berdiri disitu sampai aku menyadari sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut.

Namja itu…

“Ya! apa kau tuli, huh?” seru hyukjae yang berjalan mendekat ke arahku, lalu berhenti dan menatapku heran.

“Kenapa kau melamun? Apa ada yang sa-“

“Oppa..” ujarku pelan. Aku bisa merasakan sesuatu mengalir pelan di pipiku.

“Mwo?” Hyukjae mencari ke arah pandangku. “Hee Oppa..” nafasku tersengal hebat. Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku ke jalan raya. Berusaha untuk menemui sesosok namja yang tengah berjalan santai dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Sosok yang selalu terlihat santai dan tidak peduli. Sosok yang telah hilang selama 2 tahun terakhir. “Oppa~”

Aku mulai mempercepat langkahku. Hyukjae berseru memanggil di belakangku. Aku harus bertemu dengan oppa.

Aku berlari kencang sembari memanggil-manggil nama Oppa. Tiba-tiba saja seseorang mendorongku dari belakang. Membuat aku terjatuh terjerembab ke rerumputan tanah, tepat ketika Hee Oppa menoleh ke arahku.

Braak!

Aku berseru pelan. Tapi, lagi-lagi tangan Hyukjae mendekap mulutku. “Diam! Apa kau sudah lupa dengan perjanjiannya, huh?”. Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku benar-benar menangis terisak. Aku rindu Oppa. Aku ingin bertemu dengannya.

Beberapa saat kemudian. Dekapan hyukjae mulai mengendur. Tubuhnya mulai bangkit dan menarikku untuk berdiri.  Aku beranjak duduk dengan air mata yang masih  terus mengalir.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Gwenchanayo?”

Aku mengusap pipiku yang basah. Lalu menarik nafas panjang. Hyukjae hanya terdiam, menarik keluar tombol eksisten dan menon-aktifkannya.

“Anhiyo… kau tidak perlu minta maaf… Aku..” aku baik-baik saja. Kenapa aku tidak bisa berkata seperti itu. Bukankah aku baik-baik saja?. Lagi-lagi aku tak bisa menahan tangisanku.

“How pity~” ujarku lemah. “Aku menangis dan berusaha melanggar janjiku sendiri di depan seorang namja yang baru kukenal. Aku sungguh bodoh.” Berkali-kali aku mengusap mataku. Mencoba untuk menahan tangisanku.

“Hajima” tiba-tiba saja Hyuk menarikku kedalam pelukannya. Aku mendongak, Hyuk menatapku sembari tersenyum. Senyum hangat.

“Hajima, yoonri-ya. Kalau kau ingin menangis. Menangislah. Aku bukan seorang yang asing bagimu… Kau tahu?, menangislah dan tumpahkan semua yang kau rasakan saat ini. Kumohon… jangan pernah menganggapku sebagai orang asing.”

Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang hangat dalam pelukannya. Seakan ini adalah pelukan seorang namja yang kukenal sejak lama. Bukan namja yang baru kukenal kurang dari 24 jam yang lalu.

“Aku percaya aku akan tahu apa yang akan terjadi. Kau percaya padaku, kan?”

______

Aku mengerjapkan mataku. Cahaya matahari menyambutku dengan lembut. Mengingatkan kukembali bahwa perjalanan luar biasa ini belum berakhir.

“Kau sudah bangun?. Kau tahu kau berat sekali..”

Aku tersentak dan buru-buru bangkit. Hei.. jangan bilang aku tertidur di pelukan seorang time-traveler sejak tadi.

“Kau benar. Rupanya kau masih mengantuk. Dasar~” aku membulatkan mataku. Apa yang dia bilang tadi?. Dasar namja menyebalkan.

“Ikut aku.. Kita akan bertemu seseorang” Hyuk segera bangkit dan membantuku bangun.

“Bertemu seseorang?. Nugu?”

“Kim Heechul. Kau merindukan Oppa-mu, kan?” ujar Hyuk santai. Aku memandangnya tidak percaya.

“De? Per.. perjanjiannya?’

“Jangan dipikirkan. Kita bisa mengatasinya nanti. Othae?”

Aku menatapnya tak percaya. Eh? Ini bukan mimpi, kan?

“Kaja! Waktu mengejar kita…” ujarnya sembari tersenyum jenaka. “Tapi, Bagaimana caranya?” tanyaku pelan. Aku masih belum percaya dengan semua ini. Hyuk tersenyum.

“Kau tak perlu memikirkannya. Aku bisa sedikit ikut campur” ujar Hyuk santai. Matanya menatap ke langit. Aku tahu dia sedang bersikap untuk terlihat tidak peduli.

“Apa kau gi-“

“Kau mau bertemu atau tidak?. Asal kau tahu saja.. ini bagian misi dari misi kedua..”

Aku menatap punggung namja bodoh yang tengah berdiri santai di depanku saat ini. Tanpa sadar mataku kembali memanas, membuat bulir-bulir air mata kembali keluar mengalir di pipiku.

Hei… bukankah aku ini yeoja lemah. Aku seorang yeoja lemah yang egois. Aku seorang dongsaeng yang sangat tergantung dengan Oppa-ku. Seorang yeoja yang sedang dalam perjalanan untuk melanggar janjiku. Seorang yeoja yang sedang dilindungi seorang namja yang baru saja kukenal.

Aku yeoja yang lemah.

“Kenapa kau menangis lagi.. sudah kubilang ini untuk misi kedua. Kukira kau sudah paham.” Suara namja bodoh itu membuatku buru-buru mengusap air mataku. Aku mendongak dan segera menggeleng cepat.

“Aku sedang tidak menangis, bodoh…”

“Tsk.. apa kau pikir aku ini buta, huh? Aku melihat kau menangis” ujar Hyukjae. Perlahan dia melangkah mendekat ke arahku lalu kembali mengusap air mataku.

“Bisakah kita menghentikan ini, Hyuk? Aku akan memecahkan misi kedua tanpa melakukan kontak dengan Hee Oppa. Aku janji..” kata-kata itu akhirnya meluncur keluar. Rasanya sebuah rasa lega menyeruak keluar. Aku bisa merasakan wajah Hyuk yang berubah melunak. Perlahan ditarik tangannya dari wajahku. Aku menghela nafasku pelan. Aku tidak akan bertemu Oppa. Aku tahu.

“Tapi..”

“Aku yakin. Aku bisa-“ aku memandang Hyuk dengan tatapan meyakinkan. Sudah dua tahun aku melewati semuanya tanpa Oppa. Kurasa aku bisa melewatinya untuk tahun-tahun ke depan.

“Aku adalah namja bodoh”

Aku mendongak. Apa? Hyuk mengatakan apa?

“Maafkan aku,Yoonri-ya. tapi kau telah menyelesaikan misi yang kedua. Perjalanan ini berakhir.” Ujar Hyukjae pelan, sukses membuatku menatapnya tidak percaya. Perlahan Hyukjae merogoh sesuatu dalam saku celananya. Boomerang dengan 3 pisau itu. Tapi, kali ini berbeda. Aku bisa melihat pisau keduanya menyala terang. Menunjukan aku telah meyelesaikan misi kedua.

“Apa ini tipuan?” ujarku lemah. Ya… ini pasti tipuan.

“Ani. Yang kau lihat ini nyata. Pisau ketiga menyala tepat ketika kau berusaha mengejar namja bernama Kim Heechul tadi…” terang Hyuk. Aku menggeleng. Aku masih belum mengerti.

“Kau tahu.., misinya berbunyi ‘apa yang kau ingat untuk melupakan’. Kau membenci Oppa-mu bukan? Tapi, lihat. Ketika Oppamu berjalan melewatimu, maka kau akan tetap mengejarnya. Itulah yang seharusnya kau lakukan. Mengingat rasa rindumu pada Oppa-mu untuk-“

“Melupakan kebencianku padanya. Aku mengerti” aku menghela nafasku panjang, lalu tersenyum pada namja yang telah banyak membantuku.

“Misi kita selesai”

_________

weird place

“Mereka telah menyelesaikan misi kedua, tuan” ujar suara lembut milik seorang wanita berambut panjang dengan ikatan tinggi itu pada pria berjas di depannya.

“Aku mengerti. Segera siapkan kapal waktu agar nona Kim bisa segera pulang” ujar pria itu penuh wibawa. Mendengar perintah pria itu, wajah wanita itu terlihat kebingngungan.

“Tapi.. misi ketiga-“

“Nona Kim akan tahu di kapal waktu. Biarkan dia memecahkannya sendiri.”

Wanita itu terdiam sejenak lalu segera mengangguk paham.

“De, Tuan.”

______

Yoonri’s POV

Aku berjalan menuju ruang trainee tingkat dasar seperti yang Hyukjae katakan. Kami akan ‘pulang’ dari ruang trainee ini.

“Hyukjae-ya… apa kau akan kembali ke 2011?” ujarku ketika melihat Hyukjae telah sampai ke dalam ruang trainee.

“Aku tidak tahu. Kita lihat saja nanti-“ belum selesai Hyukjae menyelesaikan kata-katanya. Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul di tengah-tengah ruangan.

Aku memejamkan mataku sejenak dan kembali membukanya beberapa menit kemudian. Dan sebuah pemandangan mengejutkan tiba-tiba saja muncul tepat di depanku.

Seorang gadis dengan jubah hitam panjang berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. Jubah itu sunggug mirip dengan yang di pakai Hyuk saat pertama kali aku bertemu dengannya.

“Lee Hyukjae dan Kim Yoonri.” Gadis itu berputar sedikit dan menengok ke arah Hyuk yang masih berdiri di depan pintu.

“Kalian akan kembali ke masa 2011. Menggunakan kapal yang berbeda” ujar gadis itu tanpa basa-basi.

“Mwo?” seruku cukup keras. Dengan kapal berbeda? Untuk apa menggunakan kapal yang berbeda jika dengan tujuan yang sama? Dasar gadis bodoh!

Tapi, sayang sekali, gadis itu Nampak tak memperdulikanku. Perlahan gadis itu melangkah menuju pintu dan berdiri di depan Hyuk.

“Kau akan menaiki kapal lebih dahulu. Ikut aku ke keluar. Dan kita akan segera berangkat”

Aku menatap gadis itu dengan tatapan tidak suka. Apa-apaan dia itu? Dia hanya berbicara pada Hyuk dan sama sekali tak menganggapku ada. Lama kelamaan, aku mulai merasakan mukaku memerah. Apalagi ketika Hyuk berbicara pelan kepada gadis itu seakan sengaja agar aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Aku terus mengawasi mereka sampai gadis itu mundu sedikit dan melirik seilas ke arahku.

“Baiklah… 5 menit!” ujar gadis itu tegas lalu berjalan keluar ruangan.

Aku terdiam. Apa Hyuk meminta waktu untuk berbicara padaku?. Entah mengapa merasa pipiku memanas tanpa sebab yang jelas. Hei.. ada apa denganku?

“Ehm.. Yoonri-ya..” aku mendongak. Hyuk menatapku dengan canggung lalu buru-buru membuang pandangannya ketika aku menatap ke arahnya.

“Wae? Bukankah kau harus pergi?” ujarku sinis. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bersikap aneh seperti ini sejak kedatangan gadis itu.

“Aku… aku akan segera pergi, kau benar. Tapi sebelumnya.. Igo..” Hyuk menghela nafas dan menyodorkan sesuatu ke arahku. Saku pinggangnya. Aku menerima dengan cepat dan berdeham keras. Aigoo~ ini bukan aku!

“Jaga itu baik-baik. Arachi? Kuharap kiat bisa bertemu di tahun 2011 nanti”

Aku mengangguk seadanya. Hyuk terdiam lalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dia segera beranjak pergi keluar.

“Aku akan menjaganya.” Ujarku lirih.

___________

Ship of Time : Yoonri’s place

22 October, 2009_

Still Yoonri’s pov

Aku menatap saku pinggangnya lama. Aku sudah berada dalam kapal sekarang. Kurasa ini tempat yang bagus untuk membuka saku ini.

Aku menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan hati-hati. Perlahan aku membuka saku itu. Aku tertegun. Benda pertama yang kulihat adalah sebuah kotak kecil. Itu adalah kotak rahasia yang kutemukan di misiku yang pertama. Aku tersenyum. Perlahan aku mengusap punggung kotak itu.

Klak

Sesuatu telah terjatuh dari saku punggung itu. Aku menunduk, mencari benda yang terjatuh itu. Sebuah benda mengkilat dengan bentuk yang mirip seperti… pisau.

Aku meraih pisau itu pelan. Hei… pisau ini seperti pisau boomerang milik Hyuk.

Tup!

Aku tersentak sedikit. Aku menunduk dan mendapati tongkat itu terbuka kecil. Kenapa bisa tiba-tiba terbuka seperti ini? Aku mengangkat tongkat itu dan membukanya lebih lebar. Didalamnya hanya ada sebuah buku note kecil. Aku mengambilnya pelan, seakan takut sesuatu yang buruk akan merusaknya.

Aku membuka halaman pertama buku itu. Sebuah kalimat dengan tulisan tangan kecil.

Aku bisa melakukan gerakan terakhir dance itu _L

Aku terdiam. Aku tidak tahu siapa yang menulis kalimat ini. Kenapa ada inisial L diakhir kalimat?. Merasa tak menemukan jawabannya aku mulai membuka halaman kedua.

Aku juga bisa melakukannya, bodoh _K

Hei! Ini tulisanku!. K pasti berarti Kim Yoonri!. Lalu bagaiman dengan L? Aku terdiam dan membuka halaman ketiga. Sebuah kalimat mengejutkan.

Aku percaya aku akan tahu apa yang akan terjadi. Kau percaya padaku, kan? _L

Siapa L ini? Apa dia adalah namja yang selalu ada di mimpiku dua tahun ini?. Aku memutuskan membuka halaman selanjutnya. Aku tertegun note nya habis. Ini halaman terakhir.

22 October

Saranghae, Yoonri-ya

Katakan ‘nado’ dan kita akan latihan bersama besok dan besok dan besok hingga kau menjadi keriput… kekeke _seseorang yang selalu kau gertak, Lee Hyukjae

Aku terdiam. Saranghae? Lee Hyukjae?. Tiba-tiba saja pisau itu menyala terang aku memandangnya sembari tersenyum. Ini benar-benar seperti cerita fiksi. Hyukjae adalah namja itu. Aku tertawa pelan lalu segera sadar aku harus mengatakan sesuatu sebelum terlambat.

“Nado…” ucapku lirih.

Satu-satunya yang kuharapkan adalah… saat ini masih ‘dua-tahun-lalu’.

SLASSH!!

________

Hyukjae’s pov

Disebuah ruang dengan dinding putih pucat ini aku duduk. Dalam hati aku berusaha menghitung sesuatu. Dua kali. Dua kali sudah aku duduk di ruangan pucat ini. Tapi rasanya ruangan ini tetaplah asing bagiku. Ruangan ini.. setiap manusia yang ‘melewati’ ruangan ini, akan selalu merasa ruangan ini begitu dingin. Sangat dingin. Sehingga membuat tubuh siapa saja  menggigil. Aku tahu hawa dingin ini dari akibat dari begitu banyak faktor, yang salah satunya adalah kecepatan. Kecepatan yang ‘berlari’ diluar sana. Di luar ruangan ini.

Aku melirik ke sekelilingku dan mendapati beberapa namja dan yeoja lain di ruangan aneh ini. Mereka terlihat begitu tegang. Wajah dan bibir mereka terlihat sangat pucat. Melihat itu, tanpa sadar aku menyentuh bibirku dengan ujung jariku. Sekilas aku berpikir bahwa aku pasti terlihat seperti mereka saat pertama berada disini dulu. Aku tersenyum, pengaruh dari mesin ini memang begitu besar dampaknya. Terutama bagi orang-orang yang telah ‘melewati’-nya, tapi memang tidak ada pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan. Satu-satunya jalan. Jalan yang menakutkan.

Entah kenapa aku bisa berpikiran seperti itu, tapi untuk kali ini tidak seharusnya aku ketakutan. Ini bukan kali pertama lagi bagiku. Tapi, aku yakin ini adalah kali pertama namja dan yeoja yang tengah duduk diam tak jauh dariku.

Aku sedang larut dalam pikiranku ketika tiba-tiba pintu di hadapanku menjeblak terbuka, seorang wanita dengan potongan rambutnya yang dipotong sebahu keluar dari pintu, matanya mengarah ke arah kertas yang ia bawa, terlihat seperti tengah membaca sesuatu. Detik berikutnya mata wanita itu membelalak. Dengan cepat aku tahu apa yang membuatnya terkejut seperti itu.

Perlahan wanita itu mendongak. Matanya langsung terarah padaku, yang notabene ada tepat di depannya. Aku berusaha tersenyum padanya. Senyum canggung.

“Lee Hyukjae. Waktu telah tiba untuk anda.. Silahkan.”

Wanita itu mengucapkan kata-kata yang memang seharusnya ia ucapkan sedari tadi.

Aku segera beranjak berdiri. Aku tahu, beberapa yeoja dan namja di ruangan ini menatapku heran, percaya atau tidak, mereka heran karena aku berjalan dengan senyum mengembang di wajahku.

Aku berjalan ke arah  satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu. Aku baru akan melangkah masuk, ketika wanita dengan rambut sebahu itu memanggilku pelan.

“Lee Hyukjae.. kesempatan terakhirmu..”

Wanita itu terlihat takut-takut ketika berbicara, bahkan ia enggan menatap ke arah mataku.

“Apa kau memanfaatkannya dengan baik?” lanjutnya pelan.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku tahu wanita ini akan bertanya seperti itu. Perlahan aku kembali tersenyum.

“Aku sudah berusaha semampuku atas kesempatan emas itu. Setidaknya menurutku..”

“Lee Hyukjae!” sebuah suara tegas dari arah belakangku membuatku segera menengok. Seorang pria dengan tubuh tinggi berjalan sembari melemparkan senyumnya yang lebar.

“Ah.. Annyeonghaseyo” aku segera merunduk sopan kepada pria itu. Tapi, pria itu hanya tertawa dan menepuk pundakku pelan.

“Orimaneyo, Hyuk… Kita adalah teman. Jangan bersika terlalu formal padaku..” ujar pria itu sembari terus menepuk-nepuk pundakku pelan. Aku tertawa kecil dan mengangguk menurut saja.

“Chukae Hyung… kau telah bebas.” Ujarku semangat. Sungguh menyenangkan bisa melihat pria unik ini berada di hadapanku.

“Aish~ kau ini… bukankah ini berkat bantuanmu juga. Gomawo. Jeongmal gomawo, Hyuk. Kau telah membantu Yoonri mengingat semuanya. Dan juga membuatku terbebas dari hukuman ini. Kau pria hebat yang pantas untuk Yoonri, tidak sepertiku. Aku bahkan bukan seorang time-traveler yang baik. Aku melanggar peraturan yang merugikanmu dan Yoonri. Kau tahu… aku masih merasa menyesal atas semua kesalahanku..”

Aku terdiam. Menatap pria itu lama.

“Ani, hyung kau adalah time-traveler yang baik. Kau adalah Oppa yang baik bagi Yoonri. Dan tidak lupa… Kau adalah sang Master Kim Heechul. Geuraechi?” ucapku sembari tertawa dan menyenggol lengan seseorang yang sudah kuanggap Kakak-ku sendiri.

Pria itu tertawa terkekeh. Pria itu Kim Heechul.

_____________

22 October 2011_

Yoonri’s POV

Aku memegang kakiku lalu segera mengambil sepatu kets dari rak sepatu para trainee. Lalu memakainya dengan hati-hati.

“Apa kakimu baik-baik saja?” ujar Joo menatapku dari pintu ruang latihan. Aku mendongak dan menatapnya lalu melemparkan senyum termanisku ke arahnya.

“Geuraeyo.. Lihat ini!” aku segera berdiri dan melompat cepat, lalu mulai melakukan beberapa gerakan dance, terakhir aku melakukan gerakan berputar dengan cepat.

“Waow. Aku berada denganmu selama dua hari sejak kakimu sakit. Tapi, sekarang aku merasa kau telah membuat waktu berhenti dan membuat kakimu sembuh dengan cepat. Ini aneh” ujar Joo takjub. Aku membulatkan mataku. Membuat waktu berhenti?

“Yah… sebenarnya aku kembali ke masa lalu sehingga kakiku cepat sembuh” ucapku sembari membenarkan tali sepatuku. Detik berikutnya Joo tertawa terbahak, sepertinya dia mengira aku sedang bercanda.

“Imajinasi terlalu tinggi, Ri-ya~ aku menyerah” ujarnya di sela-sela tawanya.

“Berhenti tertawa. Bukankah kau memiliki janji latihan dengan salah satu trainee di ruang senior, huh?” ucapan tenangku kali ini sukses membuat Joo menepuk dahinya keras. Aku terkekeh. Dasar pelupa~

“Aku harus pergi Yoon. Kau bisa pulang duluan. Bye~” ujar Joo cepat. Lalu Joo segera menarik tasnya dan berlari keluar. Aku melambai ke arah Joo sekilas.

Kini aku sendirian di ruangan trainee. Aku tersenyum, ini sama seperti saat ‘dua-tahun-lalu’, ketika Hyuk pergi untuk kembali ke masa depan dan meninggalkanku sendiri. Bedanya aku ada di ruangan trainee senior sekarang ini.

Huh~ aku menghela nafasku pelan. Lalu menarik keluar sebuah note kecil dari tas selempangku. Note yang kutemukan dua tahun lalu. Perlahan aku membuka halaman terakhir dari note itu, lalu membacanya dengan pelan.

22 October

Saranghae, Yoonri-ya

Katakan ‘nado’ dan kita akan latihan bersama besok dan besok dan besok hingga kau menjadi keriput… kekeke _seseorang yang selalu kau gertak, Lee Hyukjae

Aku terdiam.. Tunggu dulu.. 22 Oktober?. Aku menengok cepat ke arah kalender dinding di sudut ruangan. 22 Oktober.. hari ini?

“Geurae… Geurae… Geurae… 22 oktober dua tahun lalu.” Ucap seseorang dari arah pintu masuk. Aku mendongak cepat. Suara ini… bukankah..

“Lee Hyuk?” ujarku tak percaya. Namja ini… benarkah ini Lee Hyukjae?. Aku terus menatapnya selama beberapa menit sampai namja babo itu kembali tersenyum. Senyum konyol.

“Happy 2nd Anniversary, Ri-ya” ujarnya lembut. “Asal kau tahu saja.. aku melihat dan mendengar semua yang kau lakukan di kapal waktumu… Kau tidak bisa berbohong, karena aku mendengar semua kata-katamu waktu itu.”

Perlahan aku tersenyum. Tentu saja.. dua tahun lalu dia mengungkapkan perasaannya. Dan ‘dua-tahun-lalu’ aku menjawabnya. Ini benar-benar seperti fiksi. Fiksi konyol.

Perlahan Hyuk mulai berjalan mendekat ke arahku lalu menariku berdiri. Aku tersenyum ke arahnya.

“Aku percaya aku akan tahu apa yang akan terjadi. Kau percaya padaku, kan?…” ujarnya lembut. Perlahan diletakannya kedua tangannya di pundaku. “Katakan sesuatu..” bisiknya pelan.

“Aku selalu percaya padamu. Lee Hyukjae..”

END

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tomorrow’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s